Home Life Style Pure Matcha, Dari Tradisi Jepang Jadi Tren Hidup Sehat Generasi Muda
Life Style

Pure Matcha, Dari Tradisi Jepang Jadi Tren Hidup Sehat Generasi Muda

Share
Sumber: Amazon.com

Oleh: Nazwa Zainuddin

Tren hidup sehat kini makin dekat dengan keseharian masyarakat, terutama generasi muda. Salah satu minuman yang sedang naik daun adalah pure matcha, bubuk teh hijau asal Jepang yang dikenal lewat warna hijaunya yang pekat, aroma khas, dan manfaatnya bagi tubuh. Menariknya, pure matcha berbeda dengan matcha biasa. Pure matcha dibuat dari 100% daun teh hijau pilihan yang digiling halus tanpa campuran bahan lain, sehingga rasa dan kandungan nutrisinya lebih kuat serta alami. Sementara matcha biasa umumnya sudah dicampur dengan gula, susu bubuk, atau bahan tambahan lain untuk menyesuaikan selera pasar. Jadi, tak heran kalau pure matcha terasa lebih pahit dan autentik karena benar-benar murni dari daun teh hijau Jepang.

Meski tampak modern, matcha bukanlah tren baru. Jejaknya sudah ada sejak abad ke-8, ketika biksu Buddha Jepang berkunjung ke Tiongkok dan menemukan teh hijau bubuk yang digunakan untuk membantu meditasi. Minuman ini dipercaya mampu meningkatkan konsentrasi dan menenangkan pikiran. Pada masa itu, matcha hanya dikonsumsi kalangan bangsawan dan rohaniawan karena proses pengolahannya yang rumit.

Perjalanan matcha berlanjut pada abad ke-12, saat biksu Zen bernama Eisai membawa biji teh dan teknik pengolahan daun menjadi bubuk halus ke Jepang. Ia menulis manfaat teh hijau dalam buku Kissa Yōjōki, yang menjelaskan bahwa teh hijau bubuk dapat menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Sejak saat itu, kawasan Uji, Kyoto berkembang menjadi sentra penghasil matcha terbaik di dunia.

Seiring waktu, matcha menjadi bagian penting dari budaya Jepang melalui upacara minum teh atau chanoyu. Tradisi ini dipopulerkan oleh Sen no Rikyū, yang melihat matcha sebagai simbol ketenangan dan kesederhanaan hidup. Dalam upacara tersebut, matcha disajikan tanpa campuran apa pun sehingga menjadi pure matcha. Bubuk teh diayak halus, dimasukkan ke dalam mangkuk, lalu diaduk perlahan dengan alat bambu bernama chasen. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran, mencerminkan filosofi wa, kei, sei, jaku (harmoni, hormat, kemurnian, dan ketenangan).

Kini, pure matcha tak lagi hanya milik tradisi. Ia berubah menjadi simbol gaya hidup mindful dan sehat. Menurut dr. Andrea Feraldho, MSc melalui kanal YouTube DRV Channel, pure matcha berbeda dari teh biasa yang hanya diseduh lalu dibuang ampasnya, pure matcha dikonsumsi utuh sehingga seluruh nutrisinya terserap sempurna.

Kandungan antioksidan katekin dalam pure matcha membantu menurunkan kadar lemak di hati dan menangkal radikal bebas. Zat L-theanine di dalamnya juga membantu meningkatkan fokus tanpa menimbulkan efek gelisah seperti kopi. Oleh karena itu, pure matcha sering disebut minuman dengan efek calm energy yaitu menenangkan, tetapi tetap membuat tubuh fokus dan produktif.

Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi pure matcha tetap perlu dibatasi. Dr. Andrea menjelaskan bahwa matcha mengandung kafein dan bersifat asam, sehingga bisa memicu keluhan lambung pada sebagian orang. Idealnya, pure matcha dikonsumsi 1-2 gelas per hari tanpa tambahan gula atau pemanis. Sebab rata-rata tubuh hanya boleh menerima kafein sekitar 300-400 mg per hari, sementara 1 gelas pure matcha mengandung sekitar 60–80 mg.

Di Indonesia, popularitas pure matcha mulai meningkat beberapa tahun terakhir seiring maraknya budaya Jepang lewat anime, tren wisata, dan konten media sosial. Banyak coffee shop kini menambahkan menu berbasis pure matcha, seperti matcha latte atau strawberry matcha, sebagai alternatif bagi pelanggan yang tidak minum kopi. Namun, saat disajikan dalam bentuk campuran seperti itu, pure matcha sebenarnya sudah berubah menjadi matcha biasa karena tidak lagi murni tanpa tambahan bahan lain. Meski begitu, kreasi inilah yang justru membuat matcha semakin digemari karena selain menawarkan rasa khas tampilannya juga menarik. Banyak brand memanfaatkan hal ini dengan menghadirkan desain interior minimalis, gelas transparan, hingga packaging ramah lingkungan yang terlihat premium. Pengalaman memesan matcha pun menjadi semacam ritual baru, mulai dari memilih jenis matcha hingga menyaksikan barista melakukan whisking menggunakan chasen.

Tidak hanya gerai offline, tren pure matcha juga merambat ke platform e-commerce. Banyak brand yang menjual dalam kemasan kecil sebagai starter kit untuk pemakaian rumahan. Fenomena ini juga makin kuat berkat konten kreator yang membagikan rutinitas mengaduk pure matcha dengan chasen di media sosial, sehingga tren ini semakin meluas.

Dulu, pure matcha dikenal sebagai minuman yang terkesan “mahal dan niche”. Kini, citranya telah bergeser menjadi bagian dari budaya pop dan gaya hidup modern. Beragam kreasi pure matcha, seperti matcha latte hingga strawberry matcha, kerap hadir di acara kampus, festival kuliner, maupun menu musiman di restoran.

Selain itu, sejumlah brand kecantikan dan skincare juga menjadikan pure matcha sebagai inspirasi bahan utama karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pure matcha tidak lagi sekadar minuman, melainkan telah menjadi simbol estetika dan identitas bagi generasi muda.

Meningkatnya popularitas pure matcha menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat dan seimbang. Namun, hidup sehat tidak bisa bergantung pada satu jenis minuman. Segelas pure matcha bisa menjadi awal, tetapi keseimbangan sejati datang dari pola makan bergizi, tidur cukup, dan rutinitas fisik yang teratur.

Redaktur: Nurur Rahmah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.