Home Tulisan Refleksi Kemerdekaan, Diskusi Lintas Organisasi Mahasiswa USU Soroti Ancaman Indonesia Cemas 2045
Tulisan

Refleksi Kemerdekaan, Diskusi Lintas Organisasi Mahasiswa USU Soroti Ancaman Indonesia Cemas 2045

Share

Reporter: Yolanda Febriana Sinaga

Suara USU, Medan. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (BEM USU) bersama elemen organisasi mahasiswa lintas kampus menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Kemerdekaan: Indonesia Emas atau Cemas? Apa Kabar Kolaborasi Sumut Berkah?” di Susu Murni Setia Budi, Senin (11/8) malam.

Kegiatan ini mempertemukan perwakilan dari berbagai organisasi mahasiswa dan menjadi pemantik pada kegiatan diskusi malam hari itu. Mereka adalah Zaidan Lubis (Ketua KAMMI Merah Putih USU), Gray A. Sembiring (Ketua Komisariat GMNI FH USU), Kevin Simanjuntak (Ketua GMKI FP USU), Khubaib Azka (Ketua Komisariat HMI FEB USU), Jalaludin Pulungan (Ketua PMII USU), Nicola Simarmata (Ketua PMKRI USU), dan Siti Khadijah (Ketua Umum IMM Soshum USU).

Diskusi bertujuan membangkitkan kembali semangat kemerdekaan dan menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan bangsa, baik di tingkat nasional maupun lokal.

Ketua BEM USU sekaligus Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Muzzammil Ihsan, menjelaskan bahwa tema diskusi lahir dari keresahan mahasiswa atas kondisi Indonesia saat ini. Ia menilai banyak cita-cita kemerdekaan yang mulai pudar. “Kita ingin menghidupkan kembali mimpi-mimpi kemerdekaan. Hari ini kita menghadapi berbagai masalah, dari korupsi, ketimpangan sosial, hingga kebijakan ekonomi yang lebih menguntungkan pihak asing,” ujarnya.

Muzzammil menyoroti bahwa meskipun Indonesia digadang akan mencapai bonus demografi pada 2045, banyak anak muda justru merasa cemas. “Persoalan ekonomi dan politik yang dipolitisasi membuat rakyat hanya menjadi penonton. Kita tidak ingin Indonesia Emas ternodai sebelum mencapainya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus mengambil peran aktif, baik melalui aksi turun ke jalan, kampanye edukasi, maupun menyebarkan hasil diskusi ke masyarakat. “Forum seperti ini adalah langkah awal pencerdasan. Dari sini kita bisa memunculkan ide dan aksi nyata untuk memperbaiki kondisi bangsa,” tambahnya.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM BEM USU, Rico Manurung, menyatakan kegiatan ini menjadi wadah mempertemukan kembali organisasi mahasiswa Cipayung dan komisariat di USU yang lama tidak berdiskusi bersama. “Kami ingin melahirkan pergerakan yang lebih besar. Isu-isu politik, hukum, dan HAM, termasuk pelanggaran HAM di Sumut, akan menjadi fokus pengawalan kami,” ujarnya.

Rico mengakui kegiatan ini baru tahap awal sehingga belum sepenuhnya mencapai target visi. Namun, ia menyebut langkah ini penting untuk memulai konsolidasi lintas organisasi. “Ke depan, forum seperti ini akan rutin kami adakan. Perbedaan pandangan organisasi bukan halangan untuk bersatu memperjuangkan kepentingan bangsa,” jelasnya.

Selain membangun kesadaran, kegiatan ini juga menjadi ajang pertukaran gagasan strategis antarorganisasi mahasiswa. Para peserta tak hanya menyampaikan pandangan kritis, tetapi juga mengajukan ide konkret seperti mendorong transparansi anggaran publik di Sumatera Utara, memperluas akses pendidikan tinggi bagi pelajar kurang mampu, serta memperkuat peran mahasiswa dalam mengawasi proyek-proyek pembangunan daerah. Diskusi tersebut memunculkan komitmen bersama untuk melakukan audiensi ke DPRD Sumut dan instansi terkait, sehingga aspirasi yang dibicarakan tidak berhenti di forum ini saja, melainkan bergerak menuju langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Diskusi ini juga membahas rendahnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan intelektual. Dari target 100 peserta, sekitar 80 orang hadir. Muzzammil menilai angka tersebut cukup baik untuk kegiatan perdana yang mengundang perwakilan lintas organisasi. Ia menekankan pentingnya menghilangkan kecurigaan antar kelompok mahasiswa. “Selama kita sibuk berdebat di internal, kita tidak akan bersatu untuk menyuarakan kebenaran di tengah masyarakat,” katanya. Pernyataan tersebut merujuk pada perlunya membangun rasa saling percaya agar energi mahasiswa terfokus pada advokasi isu-isu publik, bukan perselisihan internal.

Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB ini berlangsung hingga malam hari dengan antusiasme peserta yang aktif memberikan pendapat. Panitia menyediakan konsumsi gratis untuk 100 pendaftar pertama dan e-sertifikat sebagai bentuk apresiasi.

Dengan adanya kegiatan ini, penyelenggara berharap mahasiswa semakin peka terhadap isu-isu nasional dan lokal, serta mampu mengubah diskusi menjadi gerakan nyata. “Kita harus merawat bangsa ini bersama-sama. Indonesia Emas 2045 hanya bisa tercapai jika generasi mudanya berani bersuara dan bertindak,” tutup Muzzammil.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.