SUARA USU
Opini

Repositori Tidak Bisa di Akses, Mahasiswa Butuh Referensi

Oleh: Affif Nikki

Suara USU, Medan. Kemudahan dalam mengakses informasi dan referensi akademik di era digital saat ini adalah sebuah kemajuan signifikan di dunia pendidikan. Namun, berbeda halnya dengan apa yang dirasakan oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Sudah lebih dari satu tahun mahasiswa USU tidak dapat mengakses repositori USU yang nyatanya sangat penting bagi pembelajaran dan penelitian mereka. Banyak mahasiswa yang bergantung pada repositori digital USU untuk mengakses jurnal, skripsi, dan penelitian terdahulu sebagai sumber referensi mereka. Namun apalah daya, repositori tetap terkunci dan ini bisa dianggap sebagai kemunduran akademik bagi USU sendiri.

Tak sedikit mahasiswa mengeluhkan terkuncinya repositori hingga harus mencari jurnal ataupun penelitian milik universitas lain. Beberapa mahasiswa harus berbondong-bondong datang ke Perpustakaan Universitas memohon agar dibukanya akses repositori, namun segala upaya itu hanya sia-sia karena pihak Perpustakaan pun tidak bisa memberikan izin akses kepada mereka.

Disampaikan oleh pihak Perpustakaan bahwa mahasiswa hanya dapat mengakses bagian abstrak saja dan jika bagian Program Studi membutuhkan harus mengajukan permohonan kepada bagian Perpustakaan. Hal ini membuat sebuah sistem yang awalnya dapat diakses dengan mudah menjadi terbelit-belit.

Meskipun situasi ini menimbulkan kontra, harapannya adalah pihak Universitas dan pihak terkait lainnya akan segera mengatasi masalah ini. Mahasiswa perlu dapat kembali mengakses sumber pendidikan yang dibutuhkan demi kemajuan akademik mereka. Masa iya, seorang mahasiswa harus kesulitan memperoleh penunjang akademik dari kampus sendiri?

 

Redaktur: Anggie Syahdina Fitri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Keluarga Broken Home, Apakah Mempengaruhi Prestasi Akademik Mahasiswa?

redaksi

Mahasiswa Agen Perubahan atau Pencari Popularitas?

redaksi

Demokrasi Mati di Tengah Pandemi?

redaksi