Home Cerpen Sampan dan Buih yang Mengitarinya
Cerpen

Sampan dan Buih yang Mengitarinya

Share

Oleh: Suci Rahmawati Siregar

Suara USU, Medan. Dari kejauhan, tampak para nelayan berdiri menghadap laut. Pasang semalam memaksa mereka beristirahat sejenak, menunda pencarian hingga subuh tiba. Aku melangkah mendekat ke pesisir, ke dermaga tempat banyak sampan terikat, dan sebagian tampak reyot dimakan usia. Tak lama kemudian, satu per satu sampan itu bergerak, melaju perlahan meninggalkan pesisir menuju tengah lautan. Beberapa nelayan saling melempar sapa sebelum berangkat, sementara sisanya hanya diam, membayangkan berapa banyak ikan yang kelak mereka peroleh untuk disantap bersama keluarga. Jika lebih, mereka bisa menjualnya di pasar atau kepada pengepul ikan.

Aku lahir dan tumbuh beriringan dengan laut. Tinggal di pesisir pulau kecil menjadikan sampan sebagai barang yang amat berharga untukku. Sejak kecil, aku tahu nama sampan-sampan di dermaga. Bukan karena nama itu tertulis di tubuhnya, melainkan karena retakannya, warna cat yang mengelupas, dan bunyi kayunya tatkala dihantam ombak. Sampan-sampan itu diwariskan, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dengan segudang cerita tentang laut yang  mereka arungi. Cerita-cerita itu biasa disampaikan sambil menunggu jaring dijemur atau saat senja mulai tenggelam, ketika laut tampak tenang dan para orangtua merasa cukup aman untuk bernostalgia.

Setiap kali sampan menyusuri lautan, buih yang lahir dari ombak membuatku enggan berpaling. Mataku berbinar, tanganku kerap menjulur ke air asin itu, walaupun sering dimarahi oleh Bapak, katanya takut tanganku dimakan hiu yang lapar. 

Kami hanya mengandalkan ikan yang dibawa Bapak usai bekerja, sebab sayur-sayuran Ibu tak setiap hari bisa dipanen. Ada hari-hari ketika dapur terasa lebih sunyi dari biasanya, dan kami belajar menahan lapar tanpa banyak bertanya mengapa. Janji-janji yang kami dengar tentang bantuan, kesejahteraan, hari esok yang katanya lebih baik dari kejauhan yang tampak lebih makmur itu ternyata hanya angan-angan belaka. Seperti buih yang mengitari sampan, terlihat indah, tetapi cepat sekali menghilang dari pandangan.

Namun, takdir buruk menimpa kami. Beberapa waktu belakangan, Bapak tak lagi ikut melaut, ia mulai sakit-sakitan. Ia lebih banyak duduk di dermaga, menatap sampan kami yang terikat seperti menatap sesuatu yang akan pergi jauh sekali. Tangannya masih kasar karena bertahun-tahun menafkahi kami, tetapi tampak tenaganya tak lagi sekuat dulu. Sampan kami tetap sama, hanya saja Bapak yang berubah.

Malamnya, aku mendengar Bapak berbicara pelan. Tentang sampan. Tentang kemungkinan menjualnya. Aku terdiam dan langsung menyadari bahwa kehilangan sampan bukan sekadar kehilangan alat, kehilangannya berarti melepaskan hidup yang selama ini kami kenal secara turun-temurun. 

Alih-alih menjualnya, Bapak tak mengizinkan aku untuk mewarisi. “Kamu masih belum cukup untuk berdampingan dengan lautan, nak,” ujar Bapak saat aku menanyakan alasannya. Padahal sudah aku bilang bahwa aku bersahabat dengan mereka. Aku yakin laut cukup berbaik hati denganku. Namun tetap saja, Bapak tak pernah memberi jawaban yang pasti.

Bapak masih belum memutuskan apa-apa. Kadang ia menyentuh sampan itu dengan pelan, seperti memastikan keberadaannya. Kadang ia hanya duduk diam, hanya memandangi laut di dermaga. Tak ada lagi cerita tentang tangkapan besar atau ombak yang terkadang kejam pada Bapak. Aku tahu, suatu hari, tali yang mengikat sampan itu akan dilepas, entah untuk kembali ke laut, entah untuk berpindah tangan, aku tidak bisa menebak. 

Pagi itu, angin bertiup lebih kencang. Beberapa nelayan mulai mendorong sampan mereka, satu per satu, meninggalkan dermaga. Sampan kami masih diam. Aku melihat buih dari sampan nelayan-nelayan lain. Aku menatapnya lama, mencoba mengingat kapan terakhir kali buih itu juga benar-benar membawa harapan bagi kami ketika pulang.

Tak lama kemudian, Bapak berdiri di sampingku. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya ikut menatap sampan yang masih terikat di dermaga. Angin pagi membuat bajunya berkibar pelan, dan untuk sesaat aku merasa kami sama-sama kecil di hadapan laut yang begitu luas. 

Tangannya meraih tali sampan itu, menggenggamnya dengan bergetar, lalu melepaskannya kembali. Kian hari penyakit Bapak semakin parah. Kami tidak memiliki cukup uang untuk berobat. Persediaan makanan juga semakin menipis. 

Suatu malam, aku tak lagi menunggu Bapak mengambil keputusan. Tubuhnya semakin ringkih, napasnya sering terhambat dan terengah-engah. Aku tahu, jika tak ada yang turun ke laut, dapur kami akan benar-benar berhenti berasap. Aku mendekati sampan itu sendiri, membuka tali yang selama ini hanya digenggam Bapak dengan keraguan.

Dari kejauhan, terdengar suara Bapak memanggilku. Ia kembali mengingatkan, suaranya parau, seperti menahan takut yang sama besarnya denganku.  Aku mendengarnya, tetapi malam itu aku lebih takut pada rumah yang tak punya apa-apa untuk dimakan. Bermodal perasaan yakin, aku perlahan naik ke sampan dengan tangan bergetar. Ombak kecil menghantam lambungnya, sampan itu melaju perlahan, meninggalkan dermaga. 

Di pulau kecil ini, yang jauh dari canggihnya teknologi, rasanya semua tertinggal. Laut tetap memberi seperlunya, kami tidak menjadi lebih sejahtera, tidak pula keluar dari kesulitan. Kami hanya belajar bertahan, dengan cara yang sama seperti orang-orang sebelum kami, seperti mengarungi laut dan mengulang hari-hari yang serupa. Bagi kami, hidup bukan tentang perubahan besar, melainkan tentang memikirkan esok hari, agar tetap bisa makan dan bertahan.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S. 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.