Home Tempat Sibayak, Tempat Healing Tanpa Bikin Dompet Kering
Tempat

Sibayak, Tempat Healing Tanpa Bikin Dompet Kering

Share
Sumber: https://shelterjelajah.com

Oleh: Nanda Sohibul Lase

Suara USU, Medan. Menduduki posisi pertama sebagai destinasi gunung terfavorit dikarenakan biayanya bersahabat, Gunung Sibayak menjadi pilihan mahasiswa sebagai tujuan rekreasi teramai setiap tahunnya. Bukan hanya healing, banyak juga kegiatan-kegiatan seperti malam keakraban oleh Mahasiswa yang menjadikan Gunung Sibayak sebagai lokasi kemah bersama.

Sobat mahasiswa sudah tidak asing lagi dengan istilah healing, yang mana kegiatan ini dianggap sebagai proses pemulihan diri, baik secara fisik maupun emosional. Lebih dari sekadar beristirahat, healing sering kali diartikan sebagai cara untuk menjernihkan pikiran, mengembalikan energi, dan mencari kedamaian di tengah rutinitas yang membebani. Maka karena itu, tempat wisata seperti Gunung Sibayak menjadi salah satu opsi yang dapat dijadikan sebagai tujuan untuk melepas stress. 

Dari pusat Kota Medan, wisatawan perlu menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 60 kilometer untuk sampai ke Gunung Sibayak, dimulai dengan rute menuju Berastagi melalui Jl. Jamin Ginting. Ada 2 jalur yang merupakan akses menuju kaki Gunung Sibayak. Akses pertama yaitu jalur Peternakan Gundaling, dimulai dari Jl. Deleng Singkut lalu terus ke Jl. Jaranguda. Kemudian akses kedua dapat dimulai dari Tugu Perjuangan Berastagi, lalu menuju Jl. Gundaling dan belok ke kanan memasuki Jl. Pendidikan.

Sesampainya di kaki Gunung Sibayak, terdapat pos I sebagai pos registrasi pendakian dan tempat parkir kendaraan bermotor. Biaya registrasi peserta pendakian sangat terjangkau dengan nominal Rp 10.000,- per orang. Selain biaya registrasi, pendaki juga dikenakan tarif parkir sebesar Rp 15.000,- untuk sepeda motor dan Rp 20.000,- untuk mobil. Sebagai opsional, wisatawan juga dapat meregistrasikan diri dan memarkirkan kendaraannya di pos II, tetapi hanya bisa diakses oleh sepeda motor.

Pendakian dimulai dengan melewati “Pintu Rimba Sibayak” yang diawali dengan memasuki kawasan pepohonan pandan dan pepohonan bambu. Rute ini sangat licin dan lumayan terjal, tidak sedikit pendaki terpeleset di kawasan ini. Setelah itu, pendaki melewati kawasan batu kapur yang dapat menjadi tempat beristirahat bagi para pendaki. Setelah menghela napas, pendakian dapat dilanjutkan hingga pendaki sampai di camp area. Sesampainya di area ini, pendaki dapat mendirikan tenda untuk memasak, beristirahat, bahkan bermalam.

Dengan ketinggian 2.212 meter di atas permukaan laut, Gunung Sibayak memanjakan mata setiap pendakinya dengan caranya tersendiri. Pendaki akan disuguhi dengan pemandangan Gunung Sinabung di arah barat daya, dan jika beruntung, para pendaki dapat menyaksikan sunset yang senantiasa menjadi penanda waktu malam akan tiba. Pada saat malam hari, biasanya para pendaki akan menuju lereng gunung untuk melihat pemandangan city light dari bawahnya. Tidak kalah dengan pemandangan malam, Gunung Sibayak membuat para pendaki untuk mencapai puncak lebih awal demi menyaksikan terbitnya matahari yang hangat.

Sumber: www.agoda.com

Dalam perjalanan menuju puncak, pendaki akan mendapatkan pengalaman yang lumayan ekstrim. Jalur menuju puncak sangatlah terjal dan curam, pendaki perlu berhati-hati dalam menentukan langkahnya. Bagi pemula, Trekking Pole sangat dianjurkan guna membantu pendaki untuk menjaga keseimbangan dan mengurangi tekanan pada lutut dan otot kaki saat mendaki.

Sesampainya di puncak Takal Kuda, pendaki dapat menyaksikan keindahan yang sesungguhnya. Disini, mata dipuaskan oleh pemandangan kawah yang megah dengan kepulan uap panas, sementara di kejauhan, Gunung Sinabung berdiri gagah di seberangnya. Tak hanya itu, jalur pendakian yang telah dilewati terlihat jelas, lengkap dengan camp area yang berada di bawah, semuanya berpadu menciptakan panorama yang begitu memukau.

Sumber: www.tripspoint.com

Gunung Sibayak menawarkan pengalaman yang tak terlupakan dari perjalanan penuh tantangan hingga keindahan puncaknya yang indah. Sebuah destinasi yang tidak hanya memberikan ketenangan, tetapi juga kenangan yang akan selalu ada di benak para pendaki. Jadi buat sobat Suara USU, kapan kamu akan mendaki?

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.