Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Entertaiment

Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Penulis : Muhammad Alvi Syahputra

“…Hidup adalah keberanian menghadapi tanda Tanya “.

SUARAUSU, Medan. Soe Hok Gie, sebagian besar orang mungkin saja tidak mengenalnya, jika bukan mahasiswa pecinta alam ataupun penyuka sejarah pasti akan merasa asing dengan nama tersebut. Ia adalah sosok yang mewarnai sejarah, seorang mahasiswa yang berani menentang kebijakan pemerintah yang otoriter dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi. “ Kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia.” Tuturnya sebagai simbol perlawanan terhadap kaum elit politik.

Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran merupakan buku biografi yang menggunakan sudut pandang orang kedua dan ketiga yang ceritanya diambil dari buku diary Soe Hok Gie sendiri selama masa hidupnya. Pemuda keturan Chinese ini  berani mengkritik pemerintahan yang otoriter  di media massa. Tulisan yang ia tuangkan adalah apa yang ia pikirkan dan rasakan sebagai pemuda, ia juga mecoba bertindak adil dalam pemikiran dan perbuatan.

Buku ini terdiri dari 3 bagian, yakni bagian I merupakan cerita dari  orang terdekat  Gie sendiri salah satunya adalah Harsja W Bachtiar selaku  Dekan Fakultas Sastra UI, tempat Gie mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa,  “Di tengah-tengah pertentangan politik agama, kepentingan golongan, ia tegak berdiri diatas prinsip prikemanusiaan dan keadilan dan secara jujur dan berani menyampaikan kritik-kritik atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa Karena itu kami mendukung dan akan meneruskan cita-cita dan ide-idenya” Kutipan Harsja mengenang Gie

Bagian II merupakan cerita yang dikutip dari catatan harian Soe Hok Gie mulai dari 4 maret 1957 hingga 8 Desember 1969 yang dimuat menjadi 6 bagian, yaitu masa kecil, Diambang remaja, dan lahirnya Seorang aktivis yang merupakan latarbelakang dari Jiwa “Demonstran” dalam diri Soe Hok Gie.

Bagian III merupakan cerita yang bermula pada 24 Februari 1968 meliputi perjalanan Gie ke Amerika, Perihal politik, pesta, cinta, kegembiraan, kesedihan, benci dan mencari makna serta pengalaman sehari-hari yang melukiskan suatu peristiwa tertentu.

Soe Hok Gie memang bukan seorang pahlawan dalam medan perang, dia hanya seorang mahasiswa biasa yang mencintai negeri dengan menolak bungkam atas ketidakadilan pemerintah.

 “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka.”- Soe Hok Gie

Redaktur Tulisan : Putri Narsila

Related posts

Sehari Menjadi Petualang di Pelaruga

redaksi

Pemanfaatan Instagram Untuk Meningkatkan Jumlah Konsumen Selama Pademi

redaksi

June & Kopi, Film yang Menceritakan Persahabatan Anjing dan manusia

redaksi