SUARA USU
Kabar Kampus

Sukses Adakan Webinar, IMSI USU Bahas Pentingnya Bahasa Inggris untuk Peluang Masa Depan

Reporter: Meidi Anggita

Suara USU, Medan. Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris (IMSI) USU telah mengadakan seminar tahunan, pada Sabtu (23/4). Kegiatan Symposium IMSI yang biasanya dilaksanakan secara tatap muka ini, kini diadakan secara daring melalui Zoom Meeting. Bertajuk “Grab Your Chance Through English”, IMSI berharap peserta mampu meraih kesempatan dengan kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki dan menyadari bahwa Bahasa Inggris mampu membuka peluang untuk masa depan.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Aaron O’Brien yang merupakan seorang native speaker asal Melbourne, Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D. selaku dosen Prodi Sastra Inggris, dan Dian Rachmatika, S.Pd., M.A. sebagai pengajar berpengalaman dan YouTube content creator lulusan University of Southampton, UK.

Pada sesi pertama, Aaron yang juga merupakan guru Bahasa Inggris, entrepreneur, dan influencer ini memaparkan perspektifnya dalam mempelajari bahasa. Aaron menggarisbawahi, ketika mempelajari sebuah bahasa baru, maka tidak akan pernah memiliki kelancaran yang sama dengan penutur asli bahasa tersebut. Hal tersebut bukanlah sebuah masalah, sebab setiap penutur asli akan memiliki keuntungan karena mereka telah menggunakan bahasa tersebut sejak lahir.

Aaron menyampaikan bahwa motivasi dalam mempelajari Bahasa Inggris itu penting. Tanpa motivasi, pembelajaran tidak akan bertahan lama. Aaron juga memberikan dua langkah yang dapat dilakukan dalam mempelajari Bahasa Inggris, yaitu:

  1. Mengubah pengaturan bahasa dalam telepon genggam menjadi Bahasa Inggris, sehingga dapat terbiasa membaca dalam Bahasa Inggris, mengingat handphone merupakan benda yang paling sering kita gunakan.
  2. Mulai mengetik pencarian di Google dengan Bahasa Inggris. Kata yang dibaca dalam informasi yang didapat akan lebih mudah diserap.

Aaron juga menambahkan, terdapat lima kesalahan umum yang biasanya terjadi dalam mempelajari Bahasa Inggris, yakni:

  1. Mencoba menjadi sama persis seperti native speaker Bahasa Inggris.
  2. Hanya sekadar menghafal, tetapi tidak dipraktikkan.
  3. Belajar Bahasa Inggris secara pasif dan tidak dilanjutkan.
  4. Belajar Bahasa Inggris dengan cara yang instan, tetapi tidak dipertahankan dan dijaga.
  5. Overthinking tentang grammar dan merasa terbebani dengan hal itu.

Dalam sesi kedua, Rahmadsyah Rangkuti menuturkan agar tetap mempertahankan prestasi yang dimiliki mahasiswa dan meningkatkan kegiatan kemahasiswaan. Rahmadsyah juga menuturkan rasa bangganya kepada panita yang melaksanakan dan menyukseskan kegiatan tahunan Symposium ini dan berharap dapat terus berlangsung walau dengan kondisi yang mengharuskan secara daring.

Di sesi terakhir, Dian Rachmatika menyampaikan bahwa dulu dirinya membenci pelajaran Bahasa Inggris. Namun, ketika ia menemukan guru yang mengajar dengan cara menarik, berhasil membuat dirinya tertarik dengan Bahasa Inggris. Dian mengatakan, “Sesusah apapun mata pelajaran yang kita pelajari, jika pengajarnya menyenangkan, kita jadi suka dengan mata pelajarannya. Itulah mengapa metodologi pengajaran yang modern dan tidak kaku itu penting di kelas.”

Dian juga memberikan motivasi tentang keuntungan yang didapatkan dengan kemampuan Bahasa Inggris yang dimilikinya, yakni membantu merancang masa depan, membantu meraih kemenangan di berbagai kompetisi, membantu mengembangkan karir, membantu mendapatkan beasiswa, dan membantu dalam mengikuti organisasi internasional.

Redaktur: Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

8 Mahasiswa PMM Adakan Event All U Can Paint

redaksi

Dua Kali Dinobatkan Menjadi Mawapres I Fakultas, Muhammad Rafli Berhasil Sabet Gelar Mawapres Utama USU 2022

redaksi

Terpilihnya Nahkoda Baru Himpunan Mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan

redaksi