SUARA USU
Film

The Curious Case of Benjamin Button, Sensasi Berbeda Film Romance

Oleh: Michelle Chika

Suara USU, Medan. The Curious Case of Benjamin Button adalah film drama romantis Amerika tahun 2008 yang disutradarai David Fincher.

Selain judul nya yang unik, film The Curious Case of Benjamin Button juga memiliki alur cerita yang yang tak kalah unik dan berbeda dari apa yang kita ekspetasikan. Film tersebut berceritakan tentang seorang bayi yang dibuang ke panti jompo oleh ayah kandung nya sendiri karena terlahir dengan kondisi kulit yang berkeriput dan tulang rapuh selayaknya seorang lansia. Bayi malang tersebut ditemukan pertama kali oleh Queenie yang merupakan seorang pengurus di panti jompo tersebut, saat pertama kali melihat bayi itu Ia langusung merasa iba dan menganggap bahwa itu bukan bayi biasa melainkan berkat dari Tuhan, Ia menamai bayi tersebut Benjamin.

Dari sana lah kehidupan Benjamin dimulai dan di panti jompo Ia bertemu dengan Daisy, seorang anak perempuan yang menjadi temannya saat itu. Beberapa tahun kemudian, karena ingin hidup lebih mandiri Ia pun memutuskan untuk keluar dari panti jompo dan mulai bekerja di sebuah dermaga di New Orleans. Tahun demi tahun berlalu Benjamin Button bertumbuh dengan fisik yang semakin muda dan tampan sedangkan Daisy telah tumbuh menjadi wanita cantik yang bekerja sebagai penari profesional di New York.

Tentunya mereka bertemu saat itu dan menjalin hubungan yang lebih serius, namun semua tidak berjalan sesuai dengan diharapkan. Secara fisik pertumbuhan antara Benjamin dan Daisy sangat bertolak belakang dan mengakibatkan pola pikir yang semakin berbeda pula. Lalu bagaimana kah kisah akhir dari seorang Benjamin Button?

Para pembaca dapat mengakses film tersebut melalui aplikasi Netflix. Dari film The Curious of Benjamin Button, penulis ingin membagikan epilogue yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran hidup.

Some people, were born to sit by a river. Some get struck by lightning. Some have an ear for music. Some are artists. Some swim. Some know buttons. Some know Shakespeare. Some are mothers. And some people, dance.

Redaktur : Harsimren Kaur

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Kehidupan Palsu Sosial Media dalam Drama Korea Celebrity

redaksi

Menilik Realita Kehidupan Petani Lewat Film Negeri di Bawah Kabut

redaksi

Big Mouth, Kisah Seorang Pengacara Bermulut Besar

redaksi