Vlogging Kehidupan Kampus, Privasi, Kreativitas, dan Identitas Mahasiswa Digital
Home Tulisan Vlogging Kehidupan Kampus, Privasi, Kreativitas, dan Identitas Mahasiswa Digital
Tulisan

Vlogging Kehidupan Kampus, Privasi, Kreativitas, dan Identitas Mahasiswa Digital

Share
Sumber Foto: dpreview.com

Oleh: Rahmah Sakha Lubis, Steven Yeremy Nainggolan, Fremky Zaitullah, Steven Paulus Siahaan,
Chelsea Gladys Saragih, Fadhil Satria Sinambela, Christian Carlos Sembiring, dan Felicia Austine

Suara USU, Medan. Dalam era digital yang berkembang pesat, vlogging telah menjadi tren di kalangan mahasiswa. Melalui platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram, mahasiswa tidak hanya menggunakan vlog sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengasah kreativitas, menunjukkan eksistensi diri, serta membangun identitas digital. Melalui vlog, mahasiswa dapat menampilkan aktivitas perkuliahan, kegiatan organisasi, hingga rutinitas harian di kampus dengan cara yang menarik dan inspiratif.

Namun, di balik kebebasan berekspresi tersebut, terdapat tantangan serius seperti pelanggaran privasi, tekanan sosial, dan ketegangan antara citra digital dengan realitas pribadi. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena mencerminkan pergeseran budaya komunikasi mahasiswa di era digital. Aktivitas vlogging kini bukan lagi sekadar dokumentasi kegiatan harian, melainkan representasi diri yang turut membentuk bagaimana mahasiswa dilihat dan dinilai di dunia maya.

Vlogging dan Tantangan Privasi di Lingkungan Kampus

Aktivitas vlogging di kampus memunculkan tantangan privasi yang khas, mengingat praktik ini sering kali menampilkan orang lain tanpa izin. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki tingkat kesadaran yang cukup baik mengenai potensi penyalahgunaan informasi di media sosial, meskipun kesadaran tersebut tidak selalu memengaruhi intensi mereka dalam menggunakan platform digital.

Kajian mengenai strategi manajemen privasi di Instagram menunjukkan bahwa mahasiswa menerapkan berbagai cara untuk mengelola privasi, seperti menjadikan akun privat, membatasi akses terhadap konten tertentu, serta menggunakan fitur “close friend” untuk membagikan informasi yang lebih personal.

Secara lebih spesifik, aktivitas vlogging menghadirkan beberapa risiko dan tantangan, antara lain:

  1. Masalah Privasi: Pengungkapan informasi pribadi secara berlebihan yang berpotensi disalahgunakan.

  2. Tekanan Sosial: Tuntutan untuk terus menghasilkan konten yang menarik dan engaging.

  3. Cyberbullying: Risiko menerima komentar negatif atau pelecehan digital.

  4. Kecanduan Media Sosial: Penggunaan berlebihan yang dapat mengganggu fokus akademis.

Vlogging sebagai Wadah Kreativitas Mahasiswa

Kreativitas dalam vlogging tidak hanya terkait hiburan, tetapi juga merupakan soft skill yang relevan untuk masa depan. Sejalan dengan teori Buckingham (2008), media digital memungkinkan generasi muda mengekspresikan identitas diri melalui konten kreatif. Vlog mahasiswa memperlihatkan kemampuan teknis, kemampuan komunikasi, hingga kemampuan berpikir kritis dalam mengemas pengalaman sehari-hari menjadi cerita yang menarik.

Vlogging juga menjadi bentuk pembelajaran nonformal yang memberi dampak signifikan bagi pengembangan diri. Mahasiswa belajar mengambil gambar, menyunting video, memilih musik, hingga membuat narasi yang baik. Selain itu, mereka mengasah kepercayaan diri, kemampuan manajemen waktu dalam membuat konten, serta kemampuan bekerja sama saat produksi dilakukan secara berkelompok.

Variasi konten seperti daily vlog, konten edukasi, tips manajemen waktu, hingga hiburan menunjukkan bahwa vlogging merupakan medium eksplorasi ide yang luas bagi mahasiswa.

Pembentukan Identitas Digital Mahasiswa

Vlogging memberikan peluang bagi mahasiswa untuk membentuk identitas digital sebagai individu yang kreatif, produktif, dan terbuka. Tidak jarang, identitas digital ini berbeda dengan identitas offline mereka. Ada mahasiswa yang pendiam di kelas, tetapi tampil percaya diri dan ekspresif di dalam vlog.

Identitas digital yang dibangun melalui vlog juga berfungsi sebagai personal branding. Papacharissi (2010) menjelaskan bahwa identitas di ruang digital merupakan konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh bagaimana individu ingin dilihat oleh publik. Mahasiswa yang aktif membuat vlog dapat membentuk citra tertentu, memperluas jejaring sosial, serta membuka peluang, seperti kolaborasi atau sponsorship.

Akan tetapi, tekanan untuk mempertahankan identitas digital dapat menimbulkan beban psikologis. Sebagian mahasiswa merasa harus selalu tampil sempurna dan konsisten. Temuan boyd (2014) menunjukkan bahwa kehidupan digital sering menumbuhkan ekspektasi sosial baru yang menekan penggunanya.

Kesimpulan

Vlogging di kalangan mahasiswa merupakan fenomena yang menggambarkan dinamika kehidupan akademik di era digital. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pengembangan diri melalui kreativitas, kemampuan komunikasi, dan pembentukan identitas digital. Melalui vlog, mahasiswa dapat mengekspresikan ide, membangun personal branding, dan memperluas jejaring sosial.

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan penting seperti pelanggaran privasi, tekanan sosial, cyberbullying, dan kecanduan media sosial. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki literasi digital dan kesadaran etis yang baik agar dapat menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial.

Secara keseluruhan, vlogging dapat menjadi ruang yang positif bagi perkembangan kreatif dan profesional mahasiswa, selama dilakukan dengan bijak, etis, dan reflektif terhadap dampaknya baik di dunia digital maupun kehidupan nyata.

Artikel ini merupakan publikasi Tugas Penelitian dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.