
Oleh: Naomi Immanuela
Suara USU, Medan. Clickbait sudah seperti menjadi “penglaris” di semua platform media sosial. Sejak berkembang pesat selama satu dekade terakhir, fenomena ini sudah menjadi suatu kebiasaan banyak media massa dan pengguna internet yang memprioritaskan sensasi daripada kebenaran informasi. Judul-judul sensasional yang memancing perhatian dan rasa ingin tahu, mempengaruhi khalayak dari berbagai kalangan. Terlebih lagi bagi generasi muda, khususnya para mahasiswa, informasi yang tertelan dari budaya ini sedikit banyak tentunya berdampak terhadap sikap kritis mereka.
Berdasarkan survei online terhadap 57 mahasiswa lintas jurusan di Universitas Sumatera Utara (USU), Instagram dan TikTok menjadi dua pilihan teratas yang paling sering digunakan untuk mengakses konten. Sebanyak 59,6 % responden mengaku menghabiskan 1-3 jam waktu mereka untuk sosial media, dan lebih dari sepertiganya sering menemukan judul sensasional yang berbeda jauh dari isi kontennya. Tentunya, hal itu bisa berdampak pada cara berpikir kritis. Tak heran, lebih dari setengah responden merasa terganggu dengan judul yang menyesatkan.
Mayoritas responden (lebih dari 80%), mengakui adanya pengaruh clickbait dalam opini mereka menilai isu sebelum membaca berita. Artinya, clickbait memang berpotensi membentuk persepsi awal yang bisa bias terhadap informasi. Walaupun 54,4% responden menilai clickbait membuat mereka lebih kritis, 33,3% lainnya merasa clickbait membuat mereka lebih mudah tertipu. Ini menggambarkan dua sisi pengaruhnya: clickbait bisa meningkatkan kewaspadaan bagi yang memiliki literasi baik dan pemikir skeptis, sebaliknya bagi mereka yang kurang kritis, clickbait bisa menyesatkan opini. Hal baiknya, sebagian besar responden, merasa menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi setelah sering menemukan clickbait dan belajar untuk lebih berhati hati serta selektif.
Dalam wawancara, seorang dosen jurnalistik di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), USU, menyebutkan bahwa judul yang sensasional memang sengaja dibuat oleh sang penulis untuk menarik perhatian pembaca dalam jumlah yang besar. Yang mana hal itu sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia pers. Beliau mengatakan dampak negatif dari clickbait terhadap mahasiswa yang tidak kritis adalah salah kaprah.
Salah memahami sesuatu akan berimbas kerugian apalagi dalam dunia akademik. “Terutama melalui mata dan telinga. Jadi di dunia belajar, dunia akademik, indera yang paling berperan adalah mata dan telinga. Jadi kita harus mampu betul menggunakan mata dan telinga kita dengan baik. Kalau salah melihat, salah mendengar, maka simpulan yang kita peroleh juga pasti salah,” ucap Beliau.
Antara Etika, Literasi, dan Pancasila
Clickbait memang sering dikaitkan dengan etika media. Bagi sang dosen, nilai-nilai pancasila harus tertuang dalam semua pemberitaan, baik media cetak maupun media elektronik. “Jadi apa yang diberitakan di dunia pers yang berfungsi sebagai sarana informasi, sarana pendidikan, kontrol sosial di Indonesia, tidak boleh ada yang bertentangan dengan SARA. Suku, ras, antar golongan. Jadi kalau sudah tidak ada yang bertentangan dengan SARA berarti sudah sesuai dengan nilai pancasila,” jelasnya.
Clickbait mungkin tidak bisa hilang dari dunia digital. Namun, bagi generasi Z Medan, tantangannya bukan sekadar menahan jari agar tidak mengklik, melainkan menjaga pikiran agar tetap kritis karena di balik setiap judul yang menarik, akal sehat harus menjadi filter utama.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu Bapak Pak Onan Marakali Siregar S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment