SUARA USU
Life Style

Yuk, Bedakan Gaya Hidup dan Kebutuhan Hidup!

Oleh : Taty Kristina Malau

Suara USU, Medan. Kita mungkin seringkali susah mengatur keuangan pribadi, terutama bagi yang masih berstatus menjadi mahasiswa. Seberapa banyak pun uang yang diterima, kadang kala terasa masih kurang untuk mencukupi kebutuhan. Namun, sadar ngga sih, yang tidak tercukupi itu gaya hidup atau kebutuhan hidup kamu?

Memang perencaan keuangan setiap orang berbeda-beda, tetapi banyak mahasiswa sekarang yang lebih mementingkan gaya hidup dibanding kebutuhan hidupnya. Gaya hidup atau lifestyle masa kini, yang sering disebut anak zaman sekarang “kekinian” identik dengan keglamoran dan kemewahan. Gaya hidup bisa dilihat dari cara berpakaian, kebiasaan, dan lain-lain.

Sementara itu, kebutuhan hidup adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk menunjang kehidupannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti memerlukan berbagai kebutuhan hidup, seperti makanan (pangan), pakaian (sandang), tempat tinggal (papan) sebagai kebutuhan primer atau dasar yang harus dipenuhi agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Kebutuhan hidup sekunder, yaitu kebutuhan pelengkap seperti pulsa atau paket data untuk berkomunikasi dan kuliah, laptop yang kita perlukan untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan, peralatan-peralatan yang kita gunakan sehari-hari, dan lain sebagainya.

Nah, sekarang semakin banyak orang yang tidak dapat membedakan gaya hidup dengan kebutuhan hidup. Terkadang mereka menganggap gaya hidup menjadi suatu kebutuhan sehingga harus terpenuhi. Kembali lagi, alasan seseorang berusaha keras untuk memenuhi gaya hidup adalah gengsi dan ingin terlihat berkelas, rasa tidak ingin kalah dengan apa yang orang lain miliki, serta validasi orang lain tentang kekayaannya. Padahal kualitas seseorang tidak selalu dinilai dari harta dan kepunyaannya, melainkan bagaimana karakter dan pribadi orang tersebut.

Ketika gaya hidup tidak terpenuhi, sebenarnya tidak berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup kita. Namun, ketika kebutuhkan hidup tidak terpenuhi dengan baik, maka akan terjadi masalah dalam kehidupan kita. Jika kebutuhan hidup itu terbatas, sebaliknya gaya hidup tidak terbatas dan akan selalu kurang puas.

Tips dari penulis nih, kita harus lebih memprioritaskan kebutuhan hidup dibanding gaya hidup. Kita harus senantiasa memiih dan memilah barang-barang apa saja yang harus dibeli terlebih dahulu. Bukan sekadar membeli dan memakai, kita juga melihat manfaat serta kualitas dari barang tersebut. Selanjutnya, tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup orang lain, selama kebutuhan hidup kita masih terpenuhi maka bkita harus bersyukur atas itu. Terakhir, belajar untuk menyimpan uang dan berhemat, karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepan serta memenuhi gaya hidup tidak akan ada habisnya.

Jadi gimana sobat Suara USU, yang mahal itu gaya hidup atau kebutuhan hidup kamu?

Redaktur : Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Hustle Culture, Saat Kerja Keras Tak Lagi Sehat

redaksi

Mengenal Efek Barnum, Fenomena Psikologi yang Buat Kamu Percaya Ramalan

redaksi

Melampaui Batasan dalam Menciptakan Nilai Ekonomi Melalui Ekonomi Kreatif

redaksi