Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
editorial

23 Tahun Reformasi, Apa Kabar?

Oleh: Wirayudha Azhari Lubis

Suara USU, Medan. 21 Mei 2021, Hari ini genap reformasi berusia 23 Tahun. Hari ini, 23 tahun lalu ketika Soeharto mundur dari bangku kekuasaan yang telah diduduki 32 tahun lamanya.

Sudah 23 tahun reformasi berlalu, tapi hawa harum dari manisnya demokrasi belum tercium hingga saat ini. Sudah 23 tahun reformasi namun ancaman oligarki dan Orde (Paling) Baru masih saja menyelimuti negeri ini.

Setelah 23 tahun reformasi, jangankan untuk berlari, untuk jalan tegak saja pun negeri ini masih gupuh. Jika reformasi ini diibaratkan adalah seorang manusia, usia 23 harusnya sudah menjadi kehidupan seseorang yang mampu berlari bahkan berprestasi membanggakan keluarga dan tanah airnya.

Namun sayang, reformasi hanya sebuah teori ketika rakyat menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Reformasi ternyata bukan sebuah aksi nyata dalam melakukan perubahan itu. Lihat saja negeri ini, tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi pada 23 tahun silam. Oligarki masih saja berkuasa penuh atas negeri ini. Korupsi pun demikian, masih merajalela bahkan pembantainya sudah dibantai lebih dahulu oleh petingginya. Kebebasan dan hak-hak demokrasi pun belum juga dirasakan oleh semua rakyat di negeri ini. Bahkan pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan aparat pada 23-25 tahun silam belum juga tuntas putusan hukumnya.

23 tahun berlalu, para bidan dan dokter reformasi adalah mereka yang terkekang 32 tahun lamanya, mereka yang kaki-tangannya terikat, dan mereka yang dahulu mulut-mulutnya tersumbat. Reformasi terjadi, kini mereka merasa buas, ingin menghantam dan menabrak semua apa saja yang ada didepannya.

Lalu, muncul pertanyaan. Siapa yang seharusnya merawat reformasi? ketika mereka yang dahulu mengangkat kepalan tangan kirinya ke arah penguasa kini sudah menjadi aktor dari perampasan hak-hak masyarakat lainnya. Siapa yang seharusnya merawat reformasi? ketika mereka yang dahulu suaranya paling lantang kini sudah menjadi budak-budak oligarki perusahaan keluarga mereka. Siapa yang seharusnya merawat reformasi? ketika mereka yang dahulu menjadi bagian dari aksi demonstrasi kini sudah menjadi pelaku atas dikorupsinya Reformasi.

Rasanya tidak perlu lagi berharap banyak pada mereka. Kini harusnya sudah menjadi tanggung jawab kita dalam mengawal dan merawat reformasi. Rasanya pun tak sudi jika kita harus meminta bantuan mereka untuk kembali merawat reformasi. Karena sadar tidaknya, mereka lah yang telah merampas dan menghancurkan hak-hak demokrasi. Karena, ketika hak-hak demokrasi belum dirasakan oleh semua rakyat di negeri ini, maka selama itu pula reformasi belum berhasil terjadi.

Setelah 23 tahun reformasi ini terjadi, tidak banyak harapan kami kepada para petinggi. Semoga mereka menjalankan sesungguh-sungguhnya makna reformasi. Dan kepada para rakyat begitupun mahasiswa saya juga berharap untuk kita semua benar benar mengawal dan merawat reformasi seutuhnya.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Lebarannya Kaum Marginal

redaksi

Renungan Momentum Dies Natalis 69 Tahun USU

redaksi

Perguruan Tinggi Bukan Hanya Pencetak Buruh

redaksi