Home Tulisan Antara Musholla dan Kelab Malam, Kritik Sosial dalam Cerpen Bakiak-Bakiak Maksum
Tulisan

Antara Musholla dan Kelab Malam, Kritik Sosial dalam Cerpen Bakiak-Bakiak Maksum

Share
Sumber: ruangsastra.com

Oleh: Rania Syahirah, Maulidya Jasmine, Naila Ashari, Catherine Elsaday Sipayung

Suara USU, Medan. Menurut Lilik Herawati, kritik sastra pada dasarnya adalah kegiatan atau tindakan untuk mencari dan menentukan nilai intrinsik karya sastra melalui sistem pemahaman dan interpretasi kritis dalam bentuk tulisan. Kritik yang sehat dan konstruktif akan sangat berguna, terutama jika kritik tersebut disampaikan dengan tujuan untuk membantu penulis berkembang.

Pada tahap ini, akan dikritik sebuah cerpen berjudul Bakiak-Bakiak Maksum yang ditulis oleh Hasan Al-Banna. Cerpen ini tentunya mengangkat tema sosial yang terjadi di lingkungan sosial pula. Berlatarkan di sebuah mal yang tidak diberitahu tempatnya dimana, tetapi menyampaikan cerita dengan cukup kompleks.

Cerpen ini mengambil tema sosial yang cukup mendalam, yaitu diantaranya ada perbedaan kelas sosial, perjuangan hidup seseorang, dan pencarian makna dalam pekerjaan telah terjadi disini. Maksum, sebagai tokoh utama dalam cerita seorang petugas kebersihan di musholla mal harus mengalami ketidakberdayaan dalam perubahan yang dipaksakan, yaitu ketika musholla mal tersebut diubah menjadi sebuah kelab malam. Walaupun ia tidak bisa melawan sang atasan, ia berjuang dengan caranya sendiri untuk mempertahankan keberadaannya dalam situasi yang penuh dilema.

Sebenarnya Maksum terperangkap dalam rutinitas kerja yang sulit, namun ia tetap mensyukuri hidupnya. Ia menyadari keterbatasan dan posisinya yang hanya tamatan sekolah menengah, tetapi tidak lepas dari pencarian kebahagiaan dan kedamaian batin. Ia memandang pekerjaannya di musholla itu sebagai kesempatan untuk merasa lebih terhormat dan memiliki makna dalam konteks sebagai petugas kebersihan walaupun sering terabaikan dan tidak dihargai oleh banyak orang.

Alur cerita ini berfokus pada perubahan atau pergeseran drastis yang terjadi dalam kehidupan Maksum, yakni perubahan fungsi musholla yang menjadi kelab malam yang menjadi titik balik dalam cerpen ini. Alur yang digunakan penulis terbilang cukup sederhana. Namun, dapat menyampaikan pesan yang cukup dalam tentang bagaimana perubahan sosial dan lingkungan dapat mengguncang iman dan moral seseorang terutama bagi individu yang berada di kelas bawah seperti Maksum ini yang tidak memiliki banyak pilihan dalam menghadapi ketidakadilan dalam perubahan yang terjadi.

Berhasil dalam menciptakan atmosfer yang kontras antara musholla yang penuh kebisuan dan ketenangan shalat dengan kegilaan yang ada di kelab malam, penulis berhasil menciptakan latar yang mencerminkan perubahan besar dalam hidup seseorang dan bagaimana ia terperangkap dalam situasi yang membuatnya semakin jauh dari nilainilai yang ia pegang. Penggunaan bahasa yang digunakan pun menggunakan bahasa sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga memberikan kesan otentik pada sang tokoh.

Penggunaan istilah seperti “anak bawang” dan “mocok-mocok” (kerja serabutan), memperlihatkan dialog informal yang berhasil menonjolkan karakter yang merakyat dan realistis. Simbolisme bakiak dalam cerpen menjadi salah satu elemen terpenting dalam cerpen ini. Bakiak yang merupakan alas kaki tradisional, menjadi simbol dari kehidupan yang sederhana dan penuh kerendahan hati. Ketika musholla dialihfungsikan menjadi kelab malam, maka hilanglah suara bakiak itu.

Tempat bekerja yang tak bisa Maksum tolak dan tempat dimana yang dahulu ia anggap suci, lalu berubah menjadi sebuah kelab malam menjadikan hal tersebut sebagai konflik eksternal. Hal ini menambah rasa keterasingan dan kebingungan sang tokoh. Namun, Maksum tetap berusaha untuk tetap bersyukur walau ia merasa terhimpit oleh kenyataan bahwa hidupnya kini penuh dengan keraguan, kebingungan, dan dosa.

Kehidupan sebagai ujian moral, Maksum digambarkan sebagai seseorang yang menerima pekerjaannya dengan penuh rasa syukur meskipun berada dalam kasta terendah dalam perusahaan. Namun, ujian hidup datang saat mushala tempatnya bekerja diubah menjadi kelab malam. Maksum menghadapi dilema moral yaitu bertahan dalam pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilainya atau kehilangan sumber penghidupan. Ini mencerminkan bagaimana kehidupan sering kali menguji prinsip dan iman seseorang. Simbolisme bakiak dalam cerita bukan sekadar alas kaki, tetapi melambangkan kesederhanaan, keteguhan, dan keterikatan dengan nilai-nilai agama.

Saat mushala masih ada, suara bakiak menjadi kemerduan bagi Maksum, sesuatu yang menenangkan dan penuh makna. Namun, setelah mushala diubah menjadi kelab malam, bakiak menghilang, seolah-olah simbol kesucian itu ikut lenyap, meninggalkan Maksum dalam kekosongan dan keresahan batin. Ketidakberdayaan individu dalam sistem yang kuat, Maksum berusaha melawan sistem dengan caranya sendiri, mencari pekerjaan lain mencoba melanggar aturan agar dipecat tanpa harus membayar denda, tetapi semua usaha itu sia-sia. Ini menggambarkan bagaimana individu sering kali kalah dalam menghadapi kekuatan yang lebih besar, terutama dalam dunia kerja dan sistem kapitalisme yang tidak mempertimbangkan aspek spiritual dan moral seseorang. Kemunafikan dan kurangnya solusi nyata mantan jemaah mushala yang dulu sering beribadah kini terbagi dalam dua kelompok, yang mengkritik Maksum karena tetap bekerja di kelab malam, dan yang membela dengan dalih keterpaksaan. Perdebatan di antara mereka memperlihatkan kemunafikan sosial, banyak yang gemar menghakimi tetapi tidak memberikan solusi nyata. Kritik ini menunjukkan bahwa sering kali masyarakat hanya menuntut seseorang bertahan dalam kesucian tanpa memberi jalan keluar bagi mereka yang terjebak dalam kondisi sulit.

Keterasingan spiritual dan kerinduan akan makna hidup, di akhir cerita Maksum merasakan kehampaan yang mendalam. Ia merindukan mushala, suara bakiak, dan ketenangan batin yang dulu ia miliki. Namun, sekarang ia terperangkap dalam kehidupan yang penuh dengan lorong panjang keluh resah. Ini mencerminkan bagaimana seseorang yang pernah merasakan kedamaian spiritual akan selalu merindukannya, bahkan ketika kehidupan membawanya jauh dari itu. Ironi nama “Maksum”, yang berarti “terbebas dari dosa,” justru berbanding terbalik dengan kondisi hidupnya. Dia merasa dirinya semakin terperangkap dalam dosa dan kehilangan identitasnya. Ini merupakan ironi mendalam yang menunjukkan bahwa nama atau label tidak selalu mencerminkan realitas seseorang. Cerpen ini menggambarkan realitas pahit seseorang yang mencoba mempertahankan nilai-nilainya dalam dunia yang terus berubah. Pesan tersembunyi utamanya adalah tentang pergulatan iman, ketidakberdayaan individu dalam menghadapi sistem yang lebih besar, serta bagaimana kehilangan spiritualitas bisa membawa keterasingan dan kehampaan hidup.

“Musholla sering disebut dengan Baitullah (rumah Allah), yaitu rumah yang dibangun untuk mengabdi kepada Allah, karena itu setiap musholla yang dibangun adalah diperuntukan bagi kaum muslimin supaya dipergunakan sebagai sarana mengabdi kepada Allah serta sebagai pusat kebudayaan islam” (Annisa 2020). “Sehingga, Musholla merupakan sarana ibadah yang cukup efektif karena ditempat suci inilah umat Islam dapat menjalankan ibadah secara berjamaah” (Sayfullah, et al., 2021).

Dengan mengubah musholla menjadi kelab malam, sang penulis tentu tidak bermaksud untuk menghina tempat ibadah, namun sebenarnya ia ingin menyoroti tentang bagaimana dunia yang kian modern ini seringkali telah meruntuhkan tempat-tempat yang seharusnya menjadi simbol keagamaan atau spiritual, menggantinya dengan tempat yang lebih menonjolkan kesenangan duniawi dan juga hiburan semata. Ini bisa dianggap sebagai kritik terhadap dunia bisnis dan kapitalisme yang mengabaikan nilai-nilai spiritual demi keuntungan material. Konflik antara agama dan duniawi menjadikan cerpen ini sebagai pengingat bagi para pembacanya bahwa kesucian dan moralitas bisa terancam oleh perubahan zaman yang lebih materialistis. Oleh karena itu, musholla yang berubah menjadi sebuah kelab malam ini mengingatkan kita akan tantangan besar yang dihadapi oleh umat muslim dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah derasnya arus modernisasi dan komersialisasi.

Cerpen “Bakiak-Bakiak Maksum” oleh Hasan Al Banna mengungkapkan kritik sosial yang tajam terhadap dilema moral, ketidakadilan ekonomi dan kurangnya solidaritas sosial. Melalui karakter Maksum, cerpen ini menggambarkan bagaimana kebutuhan hidup dapat terlibat dalam situasi sulit di mana mereka dipaksa untuk bekerja di tempat-tempat yang bertentangan dengan keyakinannya. Perubahan fungsi mushola mencerminkan cara kapitalisme mengorbankan nilai-nilai religius untuk keunggulan materi. Selain itu, kerinduan Maksum akan suara bakiak tidak hanya nostalgia, tetapi juga simbolisme ketenangan batin yang dia rasakan sebagai kehilangan makna. Hasan Al Banna ingin mengingatkan kita bahwa di dunia yang semakin materialistis, tidak mudah untuk mempertahankan prinsip-prinsip kehidupan, tetapi empati dan solidaritas sosial harus tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial.

“Secara keseluruhan cerpen ini tidak hanya menceritakan tentang kisah kehidupan seseorang, tetapi juga menyuarakan suara dari orang-orang kelas bawah yang sering kali terabaikan dalam kehidupan sosial ini”. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh Franky (2022) yang menyatakan bahwa pengakuan hak minoritas juga menjadi problematika tersendiri sebab itu juga memunculkan potensi keputusan politik yang tidak mencerminkan keputusan semua rakyat, melainkan itu hanya keputusan elit.

Keputusan elit yang dimaksud adalah keputusan dari pihak atas yang telah mengubah tempat suci alias musholla menjadi kelab malam. Mereka hanya mementingkan keuntungan material dan mengabaikan pendapat dan keputusan masyarakat. “Sehingga persoalan-persoalan tersebut mengindikasikan bahwa relasi sosial yang terjalin antara kelas atas dan kelas bawah (masyarakat) tidak berlangsung dengan baik” (Khairul, 2017).

Cerita yang relevan dengan banyak isu pada masyarakat, serta cara penulis menyampaikan cerita membuat cerpen ini sangat menarik untuk dibaca dan dipahami isinya. Dengan demikian, cerita ini efektif dalam menyampaikan pesan moral dan sosial melalui karakter yang sederhana, namun dengan konflik yang mendalam serta simbolisme yang kuat.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Apresiasi dan Kritik Sastra dengan Dosen Pengampu Bapak Jakaria S.S., M.A.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.