Home Cerpen Jenderal Semesta
Cerpen

Jenderal Semesta

Share
Ilustrator: Priyanka Az Zahra

Oleh: Cynthia Ma

Alkisah di negeri Tertib Raya, setiap bayi yang lahir tidak disambut dengan tangisan bahagia, melainkan dengan upacara penentuan takdir. Seorang pejabat tinggi akan mengambil gelang kecil dari peti bertatahkan simbol militer, lalu melingkarkannya di pergelangan tangan kiri si bayi. Tak ada yang bisa memilih, tak ada yang bisa menolak. Gelang itu adalah nasib.

Mereka yang beruntung mendapatkan gelang emas dengan ukiran megah akan tumbuh sebagai jenderal, pemegang kekuasaan tertinggi. Begitu mereka bisa berjalan, mereka sudah memiliki rumah mewah dan pelayan pribadi. Sementara itu, mereka yang mendapat gelang perak berpola akan menjadi kolonel, menjalankan perintah tanpa bertanya. Baja putih melingkari pergelangan para mayor. Kuat dan tak tergantikan, meski tetap tunduk pada kehendak yang lebih tinggi.

Namun, tak semua bayi terlahir sebagai pemimpin. Gelang besi hitam diberikan kepada letnan. Kuat, tapi mudah berkarat, mencerminkan masa depan yang tak secerah atasan mereka. Dan di kasta terbawah, mereka yang menerima gelang aluminium kasar hanya bisa pasrah. Tidak ada kebanggaan dalam aluminium. Tidak ada kekuatan, tidak ada harapan. Jika gelang mereka rusak, tidak akan ada pengganti, seperti halnya kehidupan mereka yang mudah dibuang.

Begitulah dunia berjalan di Tertib Raya. Selama berabad-abad lamanya, tak ada yang berani mempertanyakan. Legenda mengatakan, bagi yang mampu melepas gelangnya, maka ia bisa menentukan nasibnya sendiri. Tapi, bukankah itu hanya mitos belaka?

Tak seorang pun tahu dari mana gelang-gelang itu berasal. Peti yang menyimpannya selalu dijaga ketat oleh Dewan Panglima, sekelompok orang yang bahkan lebih misterius daripada para jenderal. Mereka hanya muncul saat kelahiran bayi, membuka peti sebentar, lalu kembali menghilang. Tidak ada yang pernah melihat isi peti itu secara langsung. Hanya tangan mereka yang masuk ke dalamnya, lalu keluar dengan sebuah gelang yang tampaknya telah ditentukan sejak lama.

Ada yang berbisik bahwa gelang-gelang itu memilih sendiri pemiliknya. Ada pula yang percaya bahwa Dewan Panglima hanyalah boneka dari kekuatan yang lebih besar, sebuah kekuatan yang menjaga dunia tetap tertib, tanpa tawa, tanpa harapan. Namun, semua itu hanya bisikan-bisikan. Karena di Tertib Raya, pertanyaan adalah bentuk pengkhianatan.

Hingga suatu hari, lahirlah seorang bayi yang diberi nama Tama. Dari peti tempat gelang-gelang itu disimpan, muncul sebuah gelang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Gelang itu serupa dengan milik para jenderal, namun dengan giok hijau di tengahnya. Kejadian luar biasa ini membuat banyak orang terheran-heran. Tama pun dijuluki Jenderal Semesta, sebuah jabatan yang lebih tinggi dari para pemilik gelang emas. Semua orang meyakini bahwa ia akan menjadi pemimpin terbesar sepanjang masa, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya akan menjadi harapan bagi negeri Tertib Raya. Mereka menantikan saat Tama tumbuh cukup besar untuk mulai berbicara. Anehnya, bukan hanya bicara, Tama juga gemar tertawa.

Tawa itu terlalu ringan, terlalu bebas, dan terlalu asing di negeri yang menjunjung ketegasan. Bagaimana mungkin seorang Jenderal Semesta, simbol kekuatan dan wibawa, justru tertawa? Bagi negeri Tertib Raya, ini bukan sekadar keanehan. Ini adalah penghinaan. Sebuah pelanggaran terhadap ketertiban.

Awalnya, orang-orang hanya saling berpandangan. Mereka berpikir, mungkin Tama akan berubah seiring waktu. Mungkin ketika ia tumbuh lebih besar, ia akan memahami kehormatan yang ia miliki sebagai Jenderal Semesta dan berhenti tertawa.

Namun, Tama tidak pernah berubah.

Saat diberikan seragam kebesarannya, ia malah memainkannya seperti kain biasa. Saat diajarkan cara memberi komando, ia justru tertawa begitu keras hingga prajurit yang berbaris di hadapannya ikut tersenyum tanpa sadar. Benar, tawa itu menular.

Para jenderal mulai resah. Kolonel dan mayor berbisik-bisik di lorong-lorong istana. Para letnan mengawasi dengan tatapan curiga. Tapi yang paling berbahaya adalah para prajurit. Mereka yang selama ini hanya tunduk dan patuh, mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka juga boleh tertawa.

Tama harus dihentikan sebelum tawa itu menyebar lebih jauh.

Dewan Panglima berkumpul dalam ruang sidang tertutup. Di tengah ruangan, berdiri patung besar seorang jenderal terdahulu. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada senyum di sana, sebagaimana seharusnya.

“Kita tak bisa membiarkan ini berlanjut,” kata seorang panglima dengan gelang emas yang berkilau di bawah cahaya lampu.

“Benar,” sahut yang lain. “Jika prajurit mulai tertawa, mereka akan lupa bagaimana cara memberi hormat. Jika kolonel mulai tertawa, mereka akan melupakan disiplin. Jika seluruh negeri mulai tertawa, ketertiban akan hancur.”

Keheningan menggantung. Hingga akhirnya, seorang panglima tertua mengetukkan tongkatnya ke lantai.

“Kita asingkan dia.”

Mereka semua mengangguk. Tama harus dikirim ke Gunung Sunyi, tempat di mana suara tidak bisa bergema, dan tawa akan mati sebelum sempat terdengar. Keputusan telah diambil, kini tinggal menunggu waktu yang tepat.

Malam itu, tanpa upacara, tanpa pengumuman, Tama dibawa pergi.

Ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Pasukan berseragam hitam masuk ke kamarnya, mengangkatnya dari tempat tidur, dan membawanya ke dalam kereta tertutup. Tidak ada suara lonceng peringatan, tidak ada rakyat yang berkumpul untuk menyaksikan kepergiannya.

Hanya suara roda kereta yang bergemuruh di jalan berbatu.

Tama tidak menangis. Ia hanya duduk dalam gendongan seorang perwira yang ditugaskan mengawalnya. Sesekali, ia menatap wajah-wajah tegang di sekitarnya, lalu tersenyum.

Saat kereta melewati perkampungan prajurit, seorang perempuan tua melihat dari balik jendela. Bisik-bisik mulai menyebar di antara mereka yang terjaga malam itu.

“Jenderal Semesta…” gumam seseorang.

“Dibawa pergi?” sahut yang lain.

Tidak ada yang berani keluar. Tidak ada yang berani bertanya. Namun, malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri Tertib Raya, rasa takut bukan lagi satu-satunya perasaan yang bersembunyi di hati rakyat.

Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang pelan-pelan mulai tumbuh.

Sesuatu yang terasa seperti… keraguan.

Setelah tiga hari perjalanan, mereka tiba di Gunung Sunyi. Udara di sana tipis, angin berhembus tanpa suara. Tidak ada burung, tidak ada sungai, hanya batu-batu tajam dan kabut pekat yang menyelimuti puncak.

Tama diturunkan di depan sebuah gua sempit. Para pengawal tidak mengatakan sepatah kata pun. Salah satu panglima memberi aba-aba, dan pasukan segera mundur. Tidak ada perlawanan, tidak ada tangisan. Tama kecil hanya berdiri di sana sendirian. Angin dingin menerpa wajahnya, namun ia tidak merasa takut. Perlahan, bibirnya melengkung, dan dari mulutnya keluar suara yang begitu ringan. Tawa kecil yang terdengar nyaris tenggelam di antara desir angin.

***

Di ibu kota, kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, tanpa mereka sadari, sesuatu mulai berubah. Para prajurit tidak lagi terlalu kaku saat berbaris. Beberapa di antara mereka bahkan mulai berbicara dengan lebih santai. Para letnan dan mayor tidak lagi merasa perlu menegur setiap kesalahan kecil dalam protokol. Yang lebih mencengangkan, dalam sebuah sidang tertutup, seorang jenderal tiba-tiba tersentak ketika menyadari dirinya tersenyum tanpa alasan. Ia segera menekan bibirnya, merasa ada yang salah. Namun, perasaan itu tidak hilang.

Malam itu, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya pun terjadi. Seorang prajurit tua yang duduk termenung di depan rumahnya mendengar suara retakan pelan. Saat ia menunduk, gelang aluminium di tangannya mulai pecah sedikit demi sedikit, sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Ia terkejut, nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gelangnya, yang selama ini seharusnya tidak bisa dilepas, kini telah hilang.

Kabar itu menyebar seperti api. Dalam hitungan hari, semakin banyak gelang yang retak dan jatuh. Tidak hanya milik para prajurit, tetapi juga letnan, mayor, bahkan seorang kolonel. Dewan Panglima mulai panik. Mereka memerintahkan semua orang untuk menjaga ketertiban, mengawasi siapa pun yang berani mempertanyakan sistem. Upaya itu sia-sia, sebab orang-orang mulai menanggalkan pangkat mereka sendiri. Mereka melepas gelang-gelang mereka, membuangnya ke jalanan. Para pekerja mulai menolak diperlakukan rendah, para jenderal tidak lagi mampu memberikan perintah tanpa dipertanyakan.

Dalam sebulan, seluruh sistem runtuh.

Di Gunung Sunyi, Tama berdiri di puncak. Ia melihat ke arah negeri Tertib Raya di kejauhan, sebuah negeri yang kini tidak lagi diatur oleh gelang dan pangkat. Di sampingnya, seorang anak kecil yang ikut dalam perjalanan ke gunung mendekatinya, mengajukan pertanyaan.

“Kalau kamu bukan Jenderal Semesta lagi, sekarang kamu siapa?”

Tama tersenyum. Ia menatap gelang di tangannya, satu-satunya yang tersisa di dunia. Giok hijau di tengahnya masih berkilau. Lalu, dengan gerakan ringan, ia mengangkat tangannya. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah gelang yang tidak bisa dilepas jatuh ke tanah tanpa suara.

Tama menghela napas lega, lalu menatap anak itu. “Aku?” katanya. “Aku hanya seseorang yang tahu bahwa dunia lebih indah kalau kita bisa tertawa.”

Dan di puncak Gunung Sunyi, di tempat yang selama ini tidak pernah mengenal suara, untuk pertama kalinya terdengar gema yang berbeda, yaitu tawa yang membebaskan.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.