SUARA USU
editorial

Banyaknya Stereotype Suku di Indonesia, Apa Bisa Lepas?

(Disclaimer: Stereotipe yang disebutkan dalam teks tidak dimaksudkan untuk menghina suatu suku, melainkan hanya untuk masuk kedalam pembahasan. selamat membaca!)

Suara USU, MEDAN. Stereotype berasal dari dua rangkaian kata Yunani, yaitu stereos, yang mermakna “solid,” dan typos, bermakna “the mark of a blow,” atau makna yang lebih umum yaitu “a model”. Artinya, stereotipe ialah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut.

Indonesia menduduki peringkat ke 4 sebagai negara dengan populasi terbanyak di dunia dengan total 271 juta penduduk. Berdasarkan sensus BPS tahun 2010, didapatkan lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia, atau tepatnya 1.340 suku bangsa. Makanya tidak mengherankan jika banyak stereotipe antar kesukuan itu sendiri.

Human likes to judge the book by it’s cover.” Quotes ini tak hanya berlaku untuk fisik saja, tetapi berlaku juga untuk suku. Setuju atau tidak, tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari kita suka menjudge orang berdasarkan latar belakang sukunya. Kenapa bisa? Jawabannya ialah, sudah ada stereotipe tentang suku tertentu entah itu berdasarkan pengalaman pribadi kita atau dari perkataan orang-orang. Meski tak jelas asal sumbernya, tapi begitulah sifat dasar orang Indonesia. Cepat menjudge, namun malas mencari kebenaran.

Beberapa Stereotipe yang mungkin anda pernah dengar:

“Orang Batak itu kasar, sukak ngegas. Pokoknya misal jumpa orang batak, aku malas ngomong sama dia. Takut kenak mental.”

“Orang Padang tuh licik. Susah kalo lo lagi susah bareng mereka.”

“Orang Papua tuh nadanya tinggi-tinggi kalo ngomong, takut jadinyaa kalo jumpa langsung. Kayak mau dimakan ga sih…?”

“Eh, lu orang madura kan, gerobak sate lo mana?”

“Orang Jawa tuh makanannya manis semua, gaasik kalo diajak makan-makan. Gabakal habis kalo ga manis sama mereka.”

“Dia Orang ambon kan? Masa gabisa nyanyi?!”

“Orang Chinese tuh yang dipikirannya hanya cuan (duit), hati-hati ya kalo deket mereka. Dikit-dikit perhitungan.”

“Lu orang manado? Masa sih? ga ada kali orang manado jelek!”

“Cewe Bali kan? Pinter nari dong yah… nari dong nari!”

Bila dimaknai, kesannya seperti membeda-bedakan hal yang sebenarnya gaperlu untuk dibeda-bedain. Menusuk dengan menyamaratakan orang adalah hal yang paling tidak enak sebenarnya, tapi begitulah realita. Beragam respon orang-orang tentang menanggapi stereotipe-stereotipe ini. Ada yang langsung marah, mencaci balik, dan ada juga yang membawa kegelisahannya melalui komedi. Makanya, bisa kita lihat sangat banyak komedian dari suku tertentu yang membawakan kegelisahan mereka tentang stereotipe suku ini. Contoh komedian yang membawanya ialah Abdur Arsyad dari Timur, Mamat Alkatiri orang Papua, Ernest Prakarsa yang berdarah Chinese, Indra Jegel dari Sumatera, dan banyak lagi Komedian yang membawa keresahan tentang stereotipe tentang persukuan ini.

Kembali ke pertanyaan pada judul, apakah stereotipe ini bisa lepas? Ataukah akan tetap begini sampai waktu yang tak ditentukan seperti pandemi saat ini?

Jawabannya ialah tidak bisa. Stereotipe ini beriringan dengan waktu. Untuk merubahnya, maka perlu waktu yang banyak. Juga, manusia sering menjudge orang tanpa melihat kebenaran, apalagi orang Indonesia. Maka dari itu, kuatkah mental orang Indonesia ketika stereotipe suku ini dibawa kedalam candaan? Itu kembali ke pribadi anda, para pembaca.

Ada quotes yang berkata bahwa “Hujan atau panas tak bisa kita atur, itu sudah berjalan diluar kuasa kita. Yang bisa kita atur ialah bagaimana sikap kita menghadapi hujan atau panas tersebut.” Oleh sebab itu, jangan terlalu serius menganggap stereotipe baik dalam bentuk candaan atau mungkin hinaan. Sikap kitalah yang menentukan bagaimana kisah selanjutnya dari stereotipe ini ketika dilontarkan.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Perguruan Tinggi Bukan Hanya Pencetak Buruh

redaksi

Renungan Momentum Dies Natalis 69 Tahun USU

redaksi

23 Tahun Reformasi, Apa Kabar?

redaksi