Oleh: Frianka Raya Sitanggang
Hujan turun tiga hari tiga malam dengan air bergerak liar, tak pernah diam
Lumpur cokelat pekat datang menerjang,
membawa serta batang-batang kayu gelondongan
Pohon-pohon yang dulu tegak menjaga lereng,
kini hanyut menghantam rumah-rumah
Ratusan nyawa melayang dalam sekejap,
ribuan rumah rata dengan tanah, jembatan putus, jalan amblas, listrik padam
Orang-orang lari ke bukit, ke atap, ke mana saja yang lebih tinggi
Hanya bisa memeluk apa yang tersisa, mensyukuri nafas yang masih berembus
Meski masa depan telah hanyut bersama keping bangunan
Kayu-kayu itu menjadi pertanyaan besar,
dari mana datangnya sebanyak ini?
Lalu kita ingat, hutan di sana sudah lama diganti sawit
Pohon besar berakar dalam diganti tanaman berakar dangkal,
cukup untuk panen bulanan, hanya tak cukup untuk menjaga yang mestinya menetap
Ini bukan sekadar bencana alam,
ini tagihan dari keputusan yang diambil jauh dari sini
Di meja-meja rapat, di kantor-kantor megah
Yang memutuskan duduk di sofa empuk jauh dari banjir
Yang membayar adalah mereka yang tak pernah ikut berpikir
Izin yang mudah keluar, hutan yang mudah hilang
Demi pertumbuhan ekonomi yang angkanya bagus di kertas,
rakyat kecil membayar harganya
Bayaran yang seharga dengan napas
Lumpur cokelat pekat itu bukan sekadar tanah dan air,
tapi pengingat bahwa alam selalu menagih apa yang kita ambil
Sampai kapan kita akan menghitung korban?
Sebelum akhirnya harus menghitung,
seberapa pohon yang masih tersisa
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment