Home Puisi Cokelat Pekat 
PuisiSastra

Cokelat Pekat 

Share

Oleh: Frianka Raya Sitanggang

Hujan turun tiga hari tiga malam dengan air bergerak liar, tak pernah diam 

Lumpur cokelat pekat datang menerjang, 

membawa serta batang-batang kayu gelondongan

Pohon-pohon yang dulu tegak menjaga lereng, 

kini hanyut menghantam rumah-rumah

Ratusan nyawa melayang dalam sekejap,

ribuan rumah rata dengan tanah, jembatan putus, jalan amblas, listrik padam 

Orang-orang lari ke bukit, ke atap, ke mana saja yang lebih tinggi 

Hanya bisa memeluk apa yang tersisa, mensyukuri nafas yang masih berembus 

Meski masa depan telah hanyut bersama keping bangunan

Kayu-kayu itu menjadi pertanyaan besar, 

dari mana datangnya sebanyak ini? 

Lalu kita ingat, hutan di sana sudah lama diganti sawit 

Pohon besar berakar dalam diganti tanaman berakar dangkal, 

cukup untuk panen bulanan, hanya tak cukup untuk menjaga yang mestinya menetap

Ini bukan sekadar bencana alam, 

ini tagihan dari keputusan yang diambil jauh dari sini

Di meja-meja rapat, di kantor-kantor megah 

Yang memutuskan duduk di sofa empuk jauh dari banjir 

Yang membayar adalah mereka yang tak pernah ikut berpikir

Izin yang mudah keluar, hutan yang mudah hilang 

Demi pertumbuhan ekonomi yang angkanya bagus di kertas, 

rakyat kecil membayar harganya 

Bayaran yang seharga dengan napas

Lumpur cokelat pekat itu bukan sekadar tanah dan air, 

tapi pengingat bahwa alam selalu menagih apa yang kita ambil

Sampai kapan kita akan menghitung korban? 

Sebelum akhirnya harus menghitung, 

seberapa pohon yang masih tersisa

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles