Oleh: Reinhard Halomoan
Di tengah sunyinya malam, bersimbah cahaya bintang
Di antara bilik-bilik yang tak ditinggalkan oleh tuannya
Di kamar yang sudutnya tampak koper tak bersiap diangkut, juga pakaian yang enggan mengisinya
Di situlah kami memilih untuk tidak pulang
Memilih untuk tetap tinggal dihantam rindu, entah yang pertama atau barangkali sudah terbiasa
Beberapa di antara kami bahkan tak memilih
Layaknya pohon ara, yang di kala hujan turun tak tau harus berteduh ke mana
Di dalam bilik yang belum sepenuhnya terasa ‘rumah’,
sebagian dari kami merayakannya sendirian
Sebagian lagi dalam diam yang panjang
Kami belajar bahwa merayakan tidak selalu berarti meriah
Kadang ia cukup berupa keberanian untuk bertahan
Maka malam ini,
meski jauh dari meja makan keluarga, kami tetap merayakan…
Dengan cara kami sendiri
Merayakan berteman sunyi yang kami terima, dan harapan yang kami jaga
Karena kasih tidak selalu butuh pulang,
dan harapan selalu tahu ke mana harus kembali
Di perantauan,
kami tetap merayakan
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment