Oleh : Suci Rahmawati Siregar
Terdengar suara menggema dalam ruangan.
PRAAAANGG!!!
Aku melihat piring, gelas kaca, dan vas bunga berhamburan lalu pecah di lantai. Pecahannya begitu banyak hingga menyebar ke luar ruangan. Aku hanya bisa terduduk dan bersimpuh di sudut, tubuhku kaku. Satu langkah saja aku maju untuk melarikan diri, dapat dipastikan kaki ini akan terluka oleh serpihan kaca.
Tak lama kemudian, aku mendengar teriakan Bapak yang penuh amarah dan perlawanan dari Ibu. Aku hanya bisa meringis. Suara mereka memekakkan telinga. Meski sudah sering mengalaminya, rasa takut itu tetap sama. Aku tak mampu berbuat apa-apa.
***
Dari kejauhan, aku melihat seorang anak kecil menangis karena tersandung, lalu berlari memeluk ibunya.
Dulu, setiap air mata terasa seperti kesalahan. Saat aku menangis, aku hanya bisa diam dan memendamnya sendiri. Jika ketahuan, bermacam makian akan menghujamku.Ingatan itu datang tanpa izin.
Sekeras apa pun aku berusaha melupakannya, kenangan itu tetap tersusun rapi di kepala. Jadi, untuk apa aku lupa?
Aku terduduk diam di taman. Sendirian. Kini aku sudah berpenghasilan sendiri, tinggal jauh dari ibu kota, tempat trauma itu tumbuh sejak aku kecil. Namun, meski waktu telah berlalu belasan tahun, ingatan itu tetap saja menghampiriku.
***
“Kamu ikut siapa?” Suara Bapak mengeras.Badanku kaku. Aku terdiam, menatap Ibu yang menangis dan meraung di sudut meja makan.
PLAKK!
Pipiku terasa panas. Satu tamparan dari Bapak melesat ke pipiku.“Kalau ditanya, ya jawab! Bisu kamu?” teriak Bapak.
Aku tetap bergeming, tak menjawab. Wajah Bapak mengeras, tatapannya garang. Ia beralih mendekati Ibu, lalu menghujaninya dengan makian.
“Gak becus kamu ngurus anak!”
Tak berhenti di situ, Bapak menampar dan menjambak Ibu. Ibu merintih kesakitan, namun tak mampu melawan dikarenakan tenaganya kalah jauh.
Entah dari mana keberanian itu datang, aku berlari dan menyusup di antara mereka. Aku bersujud di kaki Bapak.
“Pak, Bayu mohon, Pak. Berhenti, Pak. Jangan ke Ibu. Pukul Bayu saja,” ucapku dengan suara gemetar.
Bapak menatapku dengan kebencian. Tanpa kusadari, sebuah koper sudah ada di tangannya. Ia menyeret koper itu dan pergi meninggalkan rumah.
Hari itu, tanpa sepengetahuanku, menjadi hari terakhir aku melihat Bapak. Bapak tak pernah kembali. Setelah kepergiannya, Ibu hanya memelukku erat, menangis, dan mengucapkan beribu kata maaf.
Ya Tuhan, apakah ini yang disebut keluarga? Mengapa batinku harus tersiksa seperti ini?
Sejak hari itu, Ibu bekerja keras. Ia melakukan segala jenis pekerjaan, mulai dari berjualan sarapan pagi di depan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian tetangga, hingga membuka katering kecil-kecilan. Segala usaha dikerahkan Ibu demi keberlangsungan hidup kami.
Terkadang, sepulang sekolah aku menggantikan tugas Ibu mencuci pakaian. Aku mengikutinya dari rumah ke rumah. Tak jarang, mereka sekalian meminta disapu atau dicucikan piring. Semua itu kulakukan, dan uangnya selalu kuserahkan kepada Ibu.
Ibu sering melarang dan memintaku fokus belajar. Namun aku tetap pada pendirianku, yaitu membantu Ibu. Cobaan hidup terus berdatangan. Ibu kerap jatuh sakit, membuatnya tak bisa bekerja. Sepulang sekolah, aku lebih sering merawatnya. Kami kerap terlambat membayar tagihan listrik dan uang sekolah. Beban hidup terasa amat berat.
Hingga aku lulus SMA, aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri dan mendapatkan beasiswa. Sempat terlintas keinginan untuk menolak dan tetap tinggal bersama Ibu. Namun, Ibu bersikeras menyuruhku merubah nasib. Sudah banyak penderitaan yang kami alami. Ia ingin aku berpendidikan dan kelak hidup berkecukupan.Maka, dengan berat hati, aku merantau ke provinsi lain dan meninggalkan Ibu sendirian di ibu kota.
***
Ingatan itu berhenti di hari aku meninggalkan rumah.
Aku menarik nafas panjang.Kini aku kembali terduduk di taman ini, jauh dari rumah yang pernah kami tinggalkan. Terlalu banyak kenangan buruk tersimpan di sana. Aku tumbuh dari remaja hingga dewasa dengan luka batin dan trauma berkepanjangan, yang diam-diam membentuk hidup yang kini kujalani, dan berakar di diri ini.
Aku tumbuh menjadi sosok yang tak percaya diri. Aku tak berani mengutarakan pendapat, dan keadaan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku sadar, semua itu berakar dari rumah tempat aku tak pernah diberi ruang untuk berbicara. Aku juga sulit mempercayai orang lain, yang membuat lingkar pertemananku begitu sempit. Ada kalanya aku berpikir untuk tidak berkeluarga, takut jika aku mengulang kegagalan Bapak dan melukai anak-anakku sendiri. Namun aku terus berusaha meyakinkan diri, “Kamu adalah dirimu, Bayu. Kamu bukan orang lain.”
Namun, di balik berbagai pengalaman buruk yang aku alami, aku terus berusaha mencari cara untuk bertahan. Aku sadar bahwa ketika aku merasa menjadi korban dalam keluarga ini, Ibu pun terluka sama dalamnya. Ia kehilangan orang yang sangat dicintainya, seseorang yang pernah berjuang bersamanya, yang ia kira akan menjadi teman hidupnya. “Seumur hidup Ibu akan menanggung rasa bersalah padamu, Bayu,” ucap Ibu kala itu.
Meskipun aku harus hidup berdampingan dengan luka dan trauma, beribu makian dan perlakuan kasar di masa kecil, aku tidak akan goyah. Meski menyakitkan, aku belajar banyak hal. Salah satunya ialah bahwa luka tidak pernah benar-benar hilang, tetapi bisa dikenali dan dijaga agar tidak melukai orang lain. Pengalaman ini juga menjadi pengingat, bahwa tidak seorang anak pun berhak untuk tumbuh dalam luka yang diciptakan orang tuanya.Keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang aman, bukan ruang yang dipenuhi teriakan, amarah dan rasa bersalah. Rumah yang dianggap orang-orang menjadi tempat yang paling melindungi, malah terasa begitu menakutkan. Memang garis hidupku berbeda dari mereka yang berasal dari keluarga cemara. Namun, aku berhak menerima bahagia yang sama.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment