SUARA USU
Buku Featured

Ditampar Realita Kehidupan Lewat Buku Berjudul Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini

Oleh: Suranti Pratiwi

Suara USU, Medan. “Pintar menilai orang lain, bodoh menilai diri sendiri”
“Ibadah itu bukan dagangan, kok dipamerin”
“Hidup itu murah, yang mahal itu gaya hidup.”

Bagaimana sobat Suara USU cukup tersentil bukan membaca potongan kalimat tersebut? Beberapa kalimat tersebut merupakan satu dari sekian banyak bab yang terdapat dalam buku bertajuk Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini. Lewat buku ini kita diajak untuk rehat sejenak sembari merenungi hidup sehingga kita bisa mendapat tabaruk dan belajar tentang banyak hal untuk selalu menguatkan iman, mengeratkan ukhuwah, dan memanjangkan hubungan sosial.

Buku berjudul Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini merupakan buku bergenre religi karya penulis Cahyo Satria Wijaya yang diterbitkan Shira Media dengan cetakan pertama pada 2017. Pria kelahiran Jawa Tengah ini telah menulis beberapa buku yang menembus penjualan terlaris dengan harapan melalui karya- karyanya tersebut dapat menginspirasi publik terutama generasi muda untuk mencapai kesuksesan.

Dalam pengantar, Cahyo menuliskan bahwa buku ini ia persiapkan untuk membuat pembaca tersenyum dan kemudian berpikir. Demikianlah sebuah sindiran. Jika tidak bisa menyikapi dengan baik dan bijak, maka kemarahan akan muncul dari dalam hati. Namun, jika dapat menyikapi dengan bijak, maka sindirian tersebut akan membuat kita tersenyum dan kemudian berpikir, ‘ternyata sindiran yang mungkin didengar setiap hari memiliki makna yang dalam dan hal remeh yang jarang diperhatikan ternyata memiliki banyak nasihat untuk direnungkan’.

Sepintas dari judul, kita tentu akan dibuat penasaran dengan isi dari buku ini. Terdiri dari 31 halaman, buku ini di awali dengan bab pertama berjudul Bicarakan Aib Orang, Lupa dengan Aib Sendiri. Dengan bahasa yang ringan, Cahyo mencoba memaparkan kebiasaan ghibah yang kesehariaan dianggap tabu padahal tanpa kita sadari menimbulkan dampak negatif. Setelah puas mengupas realitas kebiasaan menggosip yang sering terjadi baik dalam sebuah pertemuan maupun sosial media, kemudian Cahyo menariknya kedalam pandangan islam dan memberikan nasehatnya dengan berdasarkan pada Al-Qur’an maupun hadits.

Saking enaknya menggosip, kita lupa bahwa kita sebenarnya tak jauh lebih baik daripada orang kita gosipkan. Kalau kita tak lebih baik, kenapa kita mengorek keburukan orang lain? Alih-alih kita mengorek keburukan orang lain, justru hal ini semakin menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya. Apalagi dalam menggosip dilatarbelakangi oleh motif tertentu. Misalnya sifat iri, persaingan usaha, persaingan karier atau politik dan lain sebagainya.
Dalam ajaran Islam, ghibah merupakan sesuatu yang dilarang karena bisa menjerumuskan kita dalam perbuatan fitnah. Lebih ngeri lagi, Al- Qur’an mengibaratkan sebagai upaya memakan daging saudara sendiri. Orang yang menggosip serupa kanibal.

Senada dengan desain sampul yang sederhana, gaya penulisan pun demikian sehingga mempermudah semua kalangan untuk memahami isi buku. Secara keseluruhan, buku ini dapat membantu mengembangkan pola pikir dan menyadarkan kita dari kebiasaan kebiasaan yang terlihat sepele namun bisa melukai perasaan orang lain. Sindiran dalam buku ini bermanfaat bagi kita untuk melakukan muhasabah, menimbang dan menghitung berapa banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Sedangkan faktanya ibadah kita belum seberapa.

Sobat Suara USU dapat dengan menemukan buku ini dalam versi Ebook yang tersedia di platform z-library. Jadi tunggu apalagi Sobat Suara USU, segera baca buku ini dan bersiap untuk tersindir dengan isinya ya!

Redaktur: Salsabila Rania Balqis

Related posts

Digitalisasi UMKM dengan Studi Kasus Usaha Kripik di Bakaran Batu, Lubuk Pakam!

redaksi

Aksi BEM SI Sumbagut Angkat Isu Sosial

suarausu

Tarian Bumi, Kasta dan Sastra Sosial Bali

redaksi