Home Tulisan Fenomena Dating Apps di Kalangan Mahasiswa, Kajian Etika Sosial dan Moralitas Generasi Z
Tulisan

Fenomena Dating Apps di Kalangan Mahasiswa, Kajian Etika Sosial dan Moralitas Generasi Z

Share

Oleh: Claudia Dwi Anastasia, Inri Nikita Br. Gultom, Arya Dhuta Sitepu, Nafisa Hendri, Andhika Ananda, Jevin Alvaro, dan Sangap Rananta Sembiring.

Suara USU, Medan. Kemajuan teknologi digital di era modern telah menciptakan berbagai kecanggihan serta kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan teknologi juga dapat mengubah pola interaksi sosial, dimana dengan adanya teknologi, kita dapat berkomunikasi dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sehingga muncullah Dating Apps (aplikasi kencan daring) sebagai solusi praktis untuk memfasilitasi pencarian pasangan atau relasi di tengah gaya hidup yang serba cepat dan sibuk. Dating Apps adalah platform digital yang dirancang untuk membantu orang terhubung dan bertemu orang baru, baik untuk mencari pasangan romantis, teman, atau sekadar relasi baru. Aplikasi ini memungkinkan pengguna terhubung berdasarkan profil dan minat, dan sangat diminati generasi muda untuk berbagai alasan sosial dan kompensasi. Bahkan popularitasnya meningkat signifikan selama pandemi COVID-19. Tak hanya karena kemajuan zaman, gaya hidup yang sibuk membuat banyak orang kesulitan mencari pasangan secara konvensional, sehingga Dating Apps menjadi solusi praktis. Oleh karena itu penggunaan Dating Apps cukup diminati khususnya pada generasi muda. Generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi dan media sosial memandang aplikasi ini bukan hanya sebagai sarana untuk mendapatkan jodoh, tetapi juga sebagai media komunikasi yang dapat memperluas jaringan sosial, menambah wawasan, dan membangun komunitas virtual.

Meskipun menawarkan fleksibilitas dan efisiensi waktu, aplikasi ini tidak luput dari risiko serius, termasuk penipuan (love scam), pelecehan siber, dan masalah kesehatan mental seperti keraguan diri akibat penolakan rutin. Oleh karena itu, penting bagi pihak aplikasi untuk meningkatkan keamanan dan privasi guna memastikan Dating Apps dapat berfungsi sesuai tujuannya sebagai wadah interaksi sosial yang aman.

Berdasarkan hasil analisis digital konten yang telah dilakukan dengan judul “Fenomena Dating Apps Terkait Kajian Etika Sosial dan Moral Terhadap Generasi Z” kepada para pengguna Dating Apps yang membagikan pengalaman mereka berupa konten video Tiktok, kami mendapatkan bahwasannya dari 20 akun yang dianalisis terdapat 6 akun yang merasa beruntung ketika memainkan aplikasi tersebut. Dimana ketika menggunakannya, mereka benar-benar berhasil mendapatkan jodoh dengan hubungan yang cukup awet. Mereka mendapatkan pasangan yang baik, royal, dan greenflag. Tak hanya itu, penggunaan Dating Apps membawa mereka kepada hubungan yang lebih serius dan langgeng bahkan sampai ke tahap pernikahan. Namun 14 dari pengguna Dating Apps yang membagikan pengalaman mereka di TikTok ternyata mendapatkan pengalaman yang buruk seperti kekecewaaan akan realita, pengalaman first date yang buruk, bahkan tindakan kejahatan. Umumnya pengguna lebih sering mendapatkan kekecewaan dikarekanakan ternyata teman match yang ingin mereka temuin pada saat first date tidak sesuai dengan profil yang mereka tampilkan di Dating Apps. Selain kekecewaaan, sikap teman match/pasangan mereka pada Dating Apps cenderung tidak menyenangkan yaitu seperti sikap yang acuh, aneh, pelit bahkan tampilan yang tidak rapi ataupun kotor. Tak hanya itu, Dating Apps juga menjadi wadah tindakan kejahatan, yang umumnya ini terjadi pada saat pertemuan pertama yaitu first date. Dimana teman match/pasangan melakukan aksi hipnotis lalu mencuri barang-barang berharga dari seseorang yang mereka temui dari Dating Apps.

Hal ini membuktikan bahwa, tatkala Dating Apps dapat mempengaruhi etika dan moralitas pengguna. Penggunaan Dating Apps yang seharusnya berguna untuk mendapatkan pasangan/menambah relasi pertemanan justru membuat orang-orang didalamnya untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan serta munculnya aksi penipuan profil. Tindakan seperti itu tidak sesuai dengan sila ke 2 yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dimana praktik penipuan profil seperti memperdaya orang lain dengan identitas palsu (catfishing) atau mempermainkan perasaan pengguna lain yang dimana ini tak sesuai dengan yang diajarkan dalam sila ke-2 untuk saling menghargai dan menghormati sesama. Selain itu juga bertentangan terhadap sila ke 5 yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” dimana sebagai pengguna Dating Apps mereka seharusnya berhak mendapatkan kesempatan yang sama dan perlakuan yang baik. Namun dalam hal ini pun tidak terwujud sepenuhnya. Masih ada saja tindakan kejahatan seperti penipuan dan perlakuan buruk seseorang ketika bertemu teman match/pasangan pada saat first date.

Kemajuan zaman telah membuktikan bahwa teknologi dapat mempengaruhi interaksi sosial serta memberikan kemudahan dalam menjalin relasi, sehingga muncullah Dating Apps sebagai sarana untuk menjalin hubungan romantis ataupun relasi pertemanan. Dating Apps dapat menjadi sarana yang positif apabila dipergunakan dengan baik dan benar, namun dapat pula menjadi sarana negatif yang menimbulkan dampak buruk apabila pengguna tidak menerapkan norma, moral, serta etika sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu penting bagi setiap individu untuk memahami nilai-nilai Pancasila serta etika dalam penerapannya agar dapat menghadapi perkembangan interaksi daring di era yang serba canggih saat ini.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.