SUARA USU
Film

Gadis Kretek: Kentalnya Budaya Patriarki Di Dalam Industri Kretek

Reporter: Farhan Fadrur Rohman/Mutiara Alifah 

Suara USU, Medan. Serial “Gadis Kretek” merupakan adaptasi dari novel fiksi sejarah yang ditulis oleh Ratih Kumala. Serial ini telah ditayangkan di Netflix dari 2 November 2023 dengan total lima episode. Serial ini disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah dengan pemeran utama, yaitu Dian Sastrowardoyo.

Dalam budaya patriarki yang kuat, perempuan sering kali dianggap hanya sebagai pengasuh keluarga dan diharapkan untuk hidup di bawah peran-peran yang sudah ditentukan oleh lelaki. Namun, “Gadis Kretek” memilih untuk mengejar mimpinya, yang melibatkan bekerja di pabrik rokok lokal.

Dalam perjalanannya, dia menghadapi banyak hambatan dan prasangka. Terlepas dari itu, dia berjuang keras dan bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi bagian penting dari industri tembakau yang lama didominasi oleh laki-laki.

Dasiyah atau yang lebih sering disebut “Jeng Yah” merupakan seorang anak perempuan pemilik pabrik kretek di Kota M, Pak Idroes. Dasiyah memiliki jiwa yang ambisius dan cerdas dalam dunia pembuatan kretek. Cita-cita Dasiyah adalah untuk bisa masuk ke ruang pembuatan saus, di mana saus ini sangat penting dalam pembuatan kretek. Namun, Pak Idroes dan rekannya tidak memperbolehkan perempuan untuk meracik saus, dengan stigma bahwa ketika perempuan masuk ke ruangan saus akan membuat saus tersebut menjadi asam.

Menurut rekannya Pak Idroes, perempuan hanya dipekerjakan untuk melinting kretek. Dasiyah dianggap sebelah mata oleh masyarakat dikarenakan pada tahun 1960an, perempuan dianggap hanya mengurus rumah dan anak bukan untuk mengurus usaha pabrik kretek.

Kemudian, Dasiyah bertemu dengan Soeraja atau dipanggil dengan Raya. Dasiyah menyimpan perasaan pada Raya, terutama setelah Raya memberikan pujian pada racikan saus kretek Dasiyah. Raya merupakan laki-laki yang tidak menganggap Dasiyah sebagai perempuan pada umumnya dan hanya Raya yang percaya kepada keahlian dan bakat Dasiyah dalam pembuatan saus kretek.

“Tidak semua orang mengerti Mbakyu, tapi saya mengerti” – Raya

Dengan adanya Raya, Dasiyah dapat masuk ke ruangan saus pembuatan kretek. Lalu, Dasiyah membuat saus tersebut dan berhasil menciptakan kretek yang sangat nikmat. Raya membantu Dasiyah agar Pak Idroes dapat mempercayai anaknya untuk membuat saus kretek dan pada akhirnya Pak Idroes pun memberinya izin. kretek tersebut dinamai kretek gadis.

Semua orang suka dengan kretek gadis yang membuat Dasiyah sangat senang bahwa kemampuan yang dia miliki akhirnya diperhitungkan. Dasiyah berhasil menjadi perempuan pertama pada masa 1960an yang berkontribusi besar dalam perkembangan kretek di Indonesia. Dimana kegigihan dan ambisius dasiyah bahwasanya, baik laki laki maupun perempuan memiliki hak yang sama ketika mereka memiliki keahliannya masing-masing. Dasiyah berhasil mematahkan stigma patriarki di dunia kretek di kota M pada tahun 1960an dengan berhasil menjual kretek gadis yang sangat laris pada masa itu.

Redaktur: Tamara Ceria Sairo


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Lemantun : Sebuah Warisan Tak Biasa

redaksi

Antara Kesetiaan dan Kehilangan : Menafsirkan “Not Friends” Sebagai Kisah Persahabatan yang Mengharukan

redaksi

Alteraksi#5: Dunia Antara, Saat Menonton Film Bukan Sekadar Hiburan

redaksi