Oleh: Latifa Rahma Husna
Suara USU, Medan. Dalam konteks globalisasi budaya, gelombang budaya Korea atau Korean Wave (Hallyu) menjadi fenomena yang berpengaruh besar terhadap pembentukan gaya hidup generasi muda Indonesia melalui media, industri kreatif, dan platform digital.Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari data yang menunjukkan sekitar 72,8 persen masyarakat Indonesia memandang Hallyu secara positif, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penggemar budaya Korea terbesar di dunia.
Hallyu merujuk pada popularitas global budaya Korea Selatan yang mencakup musik, hiburan, serial televisi, film, hingga produk gaya hidup. Fenomena ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan disirkulasikan secara masif melalui media massa, industri hiburan, serta media sosial. Salah satu contoh paling menonjol adalah K-pop, yang mulai berkembang sejak 1990-an dan mengalami lonjakan popularitas global pada awal 2010-an.
Dalam perkembangannya, Hallyu tidak hanya menyebarkan budaya secara satu arah, tetapi juga mengalami proses glokalisasi. Budaya populer Korea yang bersifat global diadaptasi dan disesuaikan dengan konteks lokal Indonesia, lalu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini terlihat dari berbagai bentuk ekspresi, seperti dance cover, musik pop dan hip-hop, pembentukan komunitas penggemar atau fandom, hingga pengaruh terhadap industri fashion lokal.
Pengaruh Hallyu dalam dunia fashion tampak jelas melalui tren yang kembali muncul dan dinormalisasi. Salah satunya adalah tren celana melorot atau sagging yang kembali menjadi sorotan pada 2025 setelah dikenakan oleh Cortis, salah satu rookie idol K-pop yang debut pada tahun tersebut. Fenomena ini menunjukkan bagaimana figur publik K-pop mampu membentuk perspektif global dan lokal terhadap gaya berpakaian.
Selain fashion, pengaruh Hallyu juga terlihat pada maraknya konsumsi produk komersial yang berkaitan dengan budaya K-pop. Barang-barang seperti keychain, photocard, album, dan berbagai merchandise menjadi bagian dari gaya hidup penggemar. Estetika K-pop juga banyak diadaptasi dalam konten media sosial lokal, yang memperkuat proses pelokalan budaya Korea dan menjadikannya bagian dari identitas populer anak muda Indonesia.
Fenomena ini juga tercermin pada meningkatnya popularitas produk gaya hidup seperti Pop Mart dan Labubu. Labubu, karakter yang diciptakan oleh Kasing Lung, seniman asal Hong Kong, mulai viral setelah dibagikan oleh Lisa Blackpink di media sosial. Hal serupa terjadi pada Crybaby, karya Molly Yllom, seniman asal Thailand, yang kembali mendapat perhatian luas setelah digunakan Lisa sebagai keychain. Popularitas figur-figur ini menunjukkan bagaimana pengaruh selebritas K-pop mampu mendorong konsumsi lintas budaya di tingkat global dan lokal.
Pengaruh Hallyu juga kuat dalam ranah kuliner. Berbagai makanan khas Korea kini mudah ditemukan dan diminati di Indonesia, mulai dari tteokbokki, kimbap, ramyeon, jjajangmyeon, kimchi, hingga corn dog dan odeng. Makanan-makanan tersebut tidak hanya hadir sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup yang diasosiasikan dengan budaya Korea.
Besarnya minat terhadap kuliner Korea tercermin dalam data ekonomi. Dikutip dari Tempo, permintaan makanan Korea di Indonesia pada 2023 mencapai 300 juta dolar AS. “Tahun lalu pertama kalinya total penghasilan Korean food di Indonesia mencapai 300 juta dolar AS dan popularitasnya terus meningkat,” ujar juru bicara AT Center, Kyung Min Lee, kepada KONTAN, Jumat (4/8/2023). Data ini menunjukkan sejauh mana Hallyu telah merambah kehidupan masyarakat Indonesia.
Secara keseluruhan, Korean Wave tidak lagi sekadar hadir sebagai fenomena hiburan, melainkan telah bertransformasi menjadi kekuatan budaya yang membentuk preferensi, pola konsumsi, serta gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui musik, fashion, kuliner, hingga produk komersial, Hallyu beroperasi sebagai sistem representasi yang menormalisasi nilai, selera, dan identitas tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik antusiasme yang tinggi, fenomena ini juga membuka ruang refleksi kritis. Budaya populer tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi turut membentuk kesadaran kolektif, praktik konsumtif, serta konstruksi gaya hidup ideal. Oleh karena itu, Hallyu perlu dipahami tidak hanya sebagai tren global yang menghibur, tetapi sebagai praktik budaya yang memiliki dampak sosial, ekonomi, dan kultural yang signifikan dalam dinamika masyarakat Indonesia kontemporer.
Redaktur: Axfeba Saragih
Leave a comment