Oleh: Lucy Kezia Simarmata
Suara USU, Medan. Di tengah hiruk pikuk Jakarta Barat, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia. Gereja Sion, yang terletak di Jalan Pangeran Jayakarta No. 1, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai monumen hidup yang merekam dinamika kolonialisme, perjumpaan budaya, serta perkembangan agama di Indonesia. Diresmikan pada tahun 1695, Gereja Sion tercatat sebagai gereja tertua di Indonesia yang masih aktif hingga saat ini.
Keberadaan Gereja Sion tidak terlepas dari konteks Batavia pada abad ke-17. Pada masa itu, Batavia berada di bawah kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan menjadi pusat perdagangan serta administrasi kolonial Belanda. Di tengah struktur sosial yang kompleks yang terdiri atas bangsa Eropa, penduduk lokal, budak, serta kelompok pendatang agama memainkan peran penting sebagai alat kontrol sekaligus penanda identitas sosial.
Awal mula berdirinya Gereja Sion berkaitan erat dengan komunitas yang dikenal sebagai orang Mardijkers atau Mardiker. Mereka merupakan keturunan budak yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Portugal, sebagian besarnya berasal dari Afrika dan Asia. Setelah dikuasai Belanda, kelompok ini dibebaskan melalui berbagai perjanjian dan diwajibkan memeluk agama Kristen Protestan. Meski kerap disebut sebagai orang “Portugis”, identitas mereka sejatinya sangat beragam, baik secara etnis maupun latar belakang budaya.
Sebelum Gereja Sion diresmikan secara permanen, jemaat Portugis kulit hitam telah memiliki beberapa tempat ibadah, baik di dalam maupun di luar tembok Kota Batavia. Namun, gereja yang berada di dalam kota dikenal sebagai Portugeesche Binnenkerk hancur akibat kebakaran. Kondisi tersebut mendorong pembangunan gereja baru di luar tembok kota, yang kala itu masih dianggap sebagai wilayah pinggiran. Dari sinilah muncul pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi Batavia berkorelasi dengan keberadaan gereja baru di luar kota.
Peletakan batu pertama Gereja Sion dilakukan pada 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn, putra Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 23 Oktober 1695, bangunan gereja tersebut diresmikan dan mulai difungsikan. Sejak awal, Gereja Sion tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang pendidikan agama bagi komunitas Kristen yang sebelumnya terpinggirkan dalam struktur kolonial.
Menariknya, Gereja Sion dibangun di atas lahan pemakaman, sebuah praktik yang lazim pada masa itu. Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan di sekitar area gereja, khususnya di sisi barat bangunan. Beberapa makam tokoh penting kolonial, termasuk Gubernur Jenderal Henric Zwaardcroon, menjadi pengingat bahwa gereja ini berdiri di persimpangan antara kepentingan spiritual dan kekuasaan politik.
Dari sisi arsitektur, Gereja Sion menampilkan perpaduan gaya Portugis dan pengaruh klasik Eropa. Bangunannya berbentuk persegi panjang dengan atap tinggi yang menciptakan kesan megah sekaligus fungsional untuk iklim tropis. Menara lonceng di bagian utara menjadi salah satu elemen paling ikonik. Lonceng tersebut dibuat pada tahun 1675 lebih tua dari usia gedung gerejanya sendiri dan hingga kini masih terawat dengan baik. Tulisan latin Soli Deo Gloria yang terukir di permukaannya mencerminkan semangat religius yang kuat pada masa VOC.
Interior Gereja Sion juga menyimpan kekayaan sejarah yang tidak kalah menarik. Tujuh jendela kaca patri berukuran besar menghiasi dinding gereja, memungkinkan cahaya alami masuk dan menciptakan suasana sakral. Mimbar kayu berukir, kursi jemaat dari abad ke-17, serta lampu gantung dengan lambang Kota Batavia menjadi bukti bahwa gereja ini dirancang dengan perhatian besar terhadap detail artistik dan simbolik.
Salah satu benda bersejarah yang masih difungsikan hingga kini adalah organ pipa yang terletak di balkon gereja. Alat musik ini merupakan hibah pada pertengahan abad ke-19 dan masih digunakan dalam kebaktian tertentu. Keberadaan organ tersebut memperkuat peran Gereja Sion tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat perkembangan musik gerejawi di Batavia.
Memasuki abad ke-20, identitas Gereja Sion mengalami perubahan seiring berkembangnya gereja-gereja lokal di Indonesia. Nama “Sion” secara resmi digunakan sejak 1951, terinspirasi dari Bukit Sion di Yerusalem yang memiliki makna simbolis bagi umat Kristen. Beberapa tahun kemudian, jemaat Gereja Sion bergabung dengan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), menandai transisi dari gereja kolonial menuju gereja nasional.
Perjalanan ini mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam sejarah Indonesia, yakni pergeseran dari dominasi kolonial menuju pembentukan identitas kebangsaan. Jemaat Gereja Sion sendiri merepresentasikan keberagaman tersebut. Selain keturunan Portugis hitam, gereja ini juga menjadi tempat bernaung bagi jemaat dari latar belakang Tionghoa dan kelompok etnis lainnya yang mencari ruang aman di tengah gejolak sosial pada masa kolonial.
Kini, Gereja Sion tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai situs cagar budaya yang dilindungi negara. Wisatawan, peneliti, hingga komunitas sejarah kerap mengunjungi gereja ini untuk menelusuri jejak panjang interaksi agama, budaya, dan kekuasaan di Jakarta. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh pertemuan berbagai bangsa dan keyakinan, sering kali melalui proses yang tidak sederhana.
Gereja Sion berdiri kokoh melewati lebih dari tiga abad perubahan zaman. Dari era VOC, masa Hindia Belanda, hingga Indonesia merdeka, bangunan ini terus hidup bersama jemaatnya. Di tengah modernisasi Jakarta, Gereja Sion tetap menjadi simbol ketahanan sejarah sebuah ruang di mana masa lalu dan masa kini bertemu dalam harmoni yang hening namun bermakna.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment