Oleh: Tania Renata Panjaitan
Denyut alam berhenti
Meruntuhkan papan yang dinaungi insan yang disebut-sebut mulia
Matilah kita, mati!
Telah digaungkan ibu pertiwi murkanya
Dalam panggung kehidupan, rimba menaungi fauna
Lalu, si pencuri datang
dan hilanglah alas pijak mereka
Dicuri oleh mereka yang merasa tuan
Di atas tanah yang satu, ada yang bertumbuh tanpa malu-malu
Sang flora yang layak merekah
Lalu, si pembunuh datang
Kapak ditancapkan seolah batang-batang tak punya detak kehidupan
Jiwa sesama yang terenggut,
fauna yang kehilangan rumah,
dan flora yang mati sia-sia,
adalah seni dari keserakahan kita
Sungguh dalam jejak hidup manusia,
akan selalu ada persimpangan pilihan
Menjadi pendengar yang awas atau tuli
Menghargai atau menjadi pembunuh keji
Manusia bukanlah satu-satunya pusat dunia
Kita berbagi ruang
Kita hidup selaras dan berdampingan
Dicipta Tuhan untuk saling menautkan keberadaan
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment