SUARA USU
Featured Opini

Hubungan Harga, Psikologi, dan Perilaku Konsumen

Tim Penulis: 1. Rini Puspita (200907018)
2. Yolani Octavia Pasaribu (200907022)
3. Andhika Pratama (200907076)
4. Muhammad Musthafa Haykal (200907092
5. Chairul Azmi Puteh (200907108)
6. Elsya Vidara Sirait (200907118)

Suara USU, Medan. Kamu pasti pernah kan melihat iklan apartemen yang disebut murah dengan harga hanya Rp 999.999.000 saja. Atau barang-barang di minimarket yang memiliki nominal 900 rupiah di belakangnya.
Ternyata, penentuan harga tersebut tidak sembarangan dilakukan. Bahkan peletakan harga “aneh” itu termasuk dalam strategi penjualan lho.

MENGENAL OOD PRICING

Ood pricing juga dikenal dengan penetapan harga psikologis, yaitu dapat membuat harga terlihat murah. Hal Ini juga mendorong terciptanya ilusi diskon. Di zaman sekarang, odd pricing sangat sering kamu temui, padahal dulunya ia diciptakan dengan tujuan yang sangat berbeda lho. Saat berbelanja, angka yang tidak bulat memaksa petugas kasir membuka mesin kasirnya untuk mengambil kembalian.

Secara garis besar metode penetapan harga dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama yaitu: metode penetapan harga berdasarkan permintaan, biaya, laba dan persaingan.

Contohnya pada tahun 2005, Nokia mengeluarkan tipe NSeries, salah satunya ialah Nokia N-70. Ponsel smartphone ini berorientasi pada games dan musik, serta memiliki aplikasi 3G, dimana pada saat itu terbilang cukup baru. Berdasarkan pengalaman saya ketika membelinya (pada waktu SMA), harga awal yang ditawarkan pada saat itu cukup tinggi, yaitu sekitar Rp 3.800.000. Penjualan N-70 ini cukup besar di Indonesia, terlihat dari pemakaian masyarakat yang sering saya temui saat berjalan-jalan. Tidak jauh-jauh, ketika saya membelinya teman-teman sekelas saya pun ikut membelinya.

Tetapi popularitas N-70 semakin menurun seiring berkembangnya teknologi dan muncul banyak pesaing, salah satunya pada saat itu muncul ponsel Sony Walkman Series (W800i) yang booming di pasar dan menyebabkan harga N-70 ini jatuh. Lambat laun harga menurun menjadi 2juta sampai 1juta-an.

Odd price atau harga ganjil merupakan salah satu strategi penetapan harga yang banyak digunakan oleh pelaku bisnis dan hal ini dirasa cukup berhasil menarik banyak konsumen dalam membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Namun yang perlu diingat adalah bagaimana penerapan strategi ini tidak hanya memberikan manfaat tapi juga tetap memikirkan konsumen.

Informasi yang mudah dipahami konsumen menjadi fokus ketika membentuk sebuah persepsi dalam benak konsumen. Dalam proses ini, konsumen membandingkan antara harga yang tertera dengan harga yang dipikirkan, serta harga lain yang tercantum dalam iklan, katalog, dan lain-lain. Dari perbandingan harga tersebut, akan terbentuk persepsi yang akan mengarahkan konsumen untuk memilih produk atau jasa dengan harga termurah dan berkualitas. Hal ini disebabkan oleh psikologis manusia yang akan menerapkan prinsip ekonomi dalam hidupnya, dimana prinsip ekonomi tersebut dilandasi oleh pilihan yang baik dan menguntungkan. Keputusan dan tindakan konsumen secara fisik yang dapat diukur dan diamati ini disebut dengan perilaku konsumen. Oleh karena itu sangat penting setiap perilaku bisnis atau perusahaan memahami dan belajar lebih dalam mengenai psikologi konsumen, dimana hal tersebut akan sangat membantu para pelaku bisnis dan pemasar untuk paham akan perilaku manusia yang terlihat (overt behavior) serta perilaku manusia yang tidak terlihat (affection and cognition) untuk mencapai tujuan akhir dari perusahaan.

Redaktur: Salsabila Rania Balqis

 

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Tradisi yang Menghalangi Prestasi

redaksi

Indonesia Meraih Peringkat Pertama Kategori Negara Paling Demawan Di Dunia!

redaksi

Skeptisisme Masyarakat terhadap Hukum di Masa Akhir Kepemimpinan Presiden Joko Widodo

redaksi