SUARA USU
Featured

Hubungan Teori Kognitif dengan Pelajar SMP yang Menjadi Korban Begal

Penulis: Laras Rafa Amany

Seorang pelajar SMP, warga Talang Bakung Kecamatan Paal Merah, Kota Jambi menjadi korban begal kelompok geng motor sadis. Begal itu berhasil menebas pinggangnya dengan parang. Korban akhirnya dirawat di rumah sakit DKT Bratanata Jambi. Awal mula kejadian terjadi saat korban diutus ayahnya untuk pergi membeli nasi uduk yang tidak jauh dari rumah pada pukul 10 malam. Saat korban pulang membawa pesanan ayahnya, korban dihampiri oleh kelompok geng motor yang berjumlah kurang lebih 10 orang dengan membawa berbagai macam parang. Korban langsung berhenti karena dikelilingi para pelaku. Namun, saat korban tidak memberikan apa yang diminta pelaku, pelaku langsung mengibaskan parangnya hingga mengenai pinggang korban. Tidak hanya itu, korban juga disiksa pelaku lain yang menggesekkan parangnya di pinggang korban.

Kejadian yang dialami korban membuat perkembangan kognitif yang dimiliki korban bisa saja mengalami kemunduran. Karena tragedi yang menimpanya bisa membuat sang korban trauma. Teori kognitif digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, bahwa kita membangun kemampuan kognitif berdasarkan hasil pengalaman (Jean Piaget, 1896-1980). Korban juga bisa mengalami gangguan pada moral dan sosial. Piaget juga mengkategorikan anak smp masuk ke tahap operasional formal dimana individu bergerak melebihi dunia pengalaman yang aktual dan konkret, serta berpikir lebih asbtrak dan logis. Korban pun secara tidak langsung juga akan menjadi korban hate crime dimana dirinya akan merasa bahwa ia mendapatkan perlakuan yang tidak pantas oleh sekelompok orang.

Para psikolog kognitif menganggap proses belajar jauh lebih kompleks dibandingkan formasi pasif hubungan stimulus baru respon. Anak yang mengalami kekerasan kognitif sering mengalami depresi, tidak percaya diri, suhu tubuhnya panas, karena terjadi abnormalitas kognitif. Beberapa kognitif tertentu bisa saja menjadi penyebabnya, yaitu, perasaan tidak berdaya yang menguasai individu. Seseorang penderita depresi memiliki skema negative menunjukan pada kita bahwa orang tersebut memiliki pikiran-pikiran yang membuatnya tertekan. Disini membuktikan peran orang tua semakin dibutuhkan untuk kebaikan perkembangan kognitif anak. Dikutip juga dari pernyataan ilmuwan pendidikan Dorothy Law Nolte yang pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya.

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Hubungan Harga, Psikologi, dan Perilaku Konsumen

redaksi

USU Adakan Pelatihan Juru Sembelih Halal Di SUMUT

suarausu

Mengenal Istilah Person In Charge dalam Kepemimpinan

redaksi