SUARA USU
Life Style

Budaya Ngaret, Menyebalkan dan Berdampak Negatif

Penulis: Nauza Indri Adisti

Dewasa ini, ada banyak slang atau kata gaul yang muncul akibat sebuah fenomena yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Dalam kamus bahasa gaul, terdapat kata ngaret yang secara etimologi diambil dari kata karet. Ngaret menjadi metafora yang digunakan oleh anak muda untuk menggambarkan sesuatu yang molor dari waktu yang telah direncanakan. Hal ini sesuai dengan bagaimana sifat dari karet itu sendiri, yaitu melonggar atau melar. Lahirnya kata ini diakibatkan karena seringnya masyarakat mengesampingkan budaya tepat waktu.

Budaya ngaret seolah sudah mengakar dalam setiap pribadi banyak orang. Padahal, budaya yang satu ini merupakan budaya yang seharusnya tidak perlu untuk dilestarikan atau dalam kata lain mesti dihilangkan. Ada beragam dampak yang terjadi ketika seseorang tidak melakukan sesuatu pada waktunya.

Ngaret Menyebabkan Terbuang-buangnya Waktu

Lagu lama menganalogikan bahwa waktu adalah uang. Uang seharusnya tidak disia-siakan secara percuma, begitu juga dengan waktu. Ada banyak hal yang seharusnya dapat kita lakukan tetapi malah terlewatkan karena kita ngaret. Perilaku yang sebenarnya spele seperti menunda-nunda ternyata memiliki dampak yang besar. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat menjadi sia-sia karena kita menerapkan budaya ngaret tersebut.

Ngaret Menyebabkan Jadwal yang Telah Direncanakan Menjadi Berantakan

Sebuah acara yang sudah diatur sedemikian rupa dalam rundown-nya akan memiliki alur yang berantakan ketika acaranya mengalami jam karet. Hal ini tentunya akan merugikan banyak pihak, seperti tidak terlaksananya semua rentetan acara sehingga acaranya tidak tereksekusi dengan baik.

Ngaret Artinya Tidak Bisa Menghargai Waktu Orang Lain

Ketika kita memiliki janji untuk mengadakan pertemuan dengan seseorang pada jam yang telah ditetapkan, kita malah datang terlambat tanpa ada alasan yang jelas. Hal tersebut merupakan perbuatan yang egois, karena waktu yang dimiliki oleh mereka bukanlah milik kita. Dengan kita menyita waktu yang dimiliki mereka, itu artinya kita telah mengambil hak mereka untuk menghabiskan waktu dengan dirinya atau orang selain kita. Kita telah merugikan orang lain ketika kita tidak bisa menghargai waktu yang dimilikinya.

Di Indonesia khususnya, budaya ngaret seolah sudah mendarah daging dan dianggap lumrah oleh masyarakat. Hal itu membuat  budaya ngaret sangat susah untuk dilhilangkan. Oleh karena itu, dapat dilakukan mulai dari diri masing-masing untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.  Tips yang dapat digunakan untuk menghilangkan budaya ngaret dari dalam diri kita adalah dengan cara membiasakan perilaku disiplin, menyadari akan pentingnya waktu, dan menghargai waktu yang dimiliki oleh diri sendiri dan orang lain.

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Tren Coffee Mocktail, Minuman Kopi Kekinian Incaran Millenial

redaksi

Yuk, Kenali Manfaat Menemukan Jati Diri!

redaksi

Tengah Ramai Diperbincangkan, Mari Mengenal Antraks

redaksi