SUARA USU
Life Style

Impian Hijau yang Terselimuti Asap: Dampak Pembangunan PLTU Batubara

Oleh: Cindy Silviana S

Suara USU, Medan. Adakah harapan untuk menciptakan perubahan nyata dan menjaga lingkungan sekaligus?

Dalam era modern ini, ketika dunia terus melangkah maju dalam hal teknologi dan inovasi, kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Salah satunya adalah kebutuhan energi yang terus meningkat, sementara bumi kita semakin terjepit oleh isu lingkungan yang mendesak.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin mendominasi berita global. Mulai dari kenaikan suhu bumi, krisis air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga polusi udara yang semakin memprihatinkan. Namun, di tengah situasi ini, langkah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara baru Adaro yang mengejar kebutuhan listrik sebesar 1,1 gigawatt (GW) untuk smelter aluminium merupakan perdebatan yang membara.

Awalnya, proyek ini menggoda dengan janji produksi green aluminium yang tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil. Sayangnya, kabar terbaru yang terungkap mengaburkan harapan ini, menjadikan dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai korban yang terpinggirkan. Pertanyaannya adalah, apakah ini langkah yang tepat? Apakah kita benar-benar menuju arah yang benar dalam menjaga lingkungan? Apakah untung yang didapat dari produksi aluminium “hijau” sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan oleh PLTU batubara baru ini?

Adaro harus melihat lebih jauh dan menggali solusi yang benar-benar berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan listrik smelter aluminium mereka. Mengorbankan lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar demi keuntungan seberapa.

Mengapa membangun PLTU merupakan langkah mundur bagi lingkungan dan masa depan kita yang berharga?

  • Dampak Lingkungan yang Merusak: Pembangunan PLTU batubara baru akan berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca, termasuk karbon dioksida (CO2), yang merupakan faktor utama penyebab perubahan iklim. Di tengah upaya global untuk mengurangi emisi, langkah ini jelas tidak sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menjaga bumi yang hijau dan sehat.
  • Ancaman Kesehatan Masyarakat: Tidak hanya lingkungan yang terkena dampak, tetapi juga kesehatan masyarakat setempat. PLTU batubara melepaskan beragam polutan berbahaya ke udara dengan radius ratusan kilometer, termasuk partikel-partikel halus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan, penyakit paru-paru, dan bahkan kematian. Mengabaikan kesehatan masyarakat demi keuntungan ekonomi yang singkat adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan melanggar hak asasi manusia yang mendasar.
  • Dampak Sosial dan Ekonomi Jangka Panjang: Meskipun pembangunan PLTU batubara baru mungkin memberikan manfaat ekonomi sementara, kita perlu mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Bergantung pada batubara sebagai sumber energi utama hanya akan memperburuk masalah perubahan iklim dan membatasi peluang ekonomi di sektor energi terbarukan yang lebih berkelanjutan dan inovatif.
  • Potensi Kerusakan Ekosistem: Pembangunan PLTU batubara seringkali membutuhkan lahan yang luas, yang dapat mengakibatkan penebangan hutan. Artinya akan mengancam berbagai spesies tumbuhan dan hewan, serta mengurangi fungsi ekosistem seperti penyimpanan karbon dan perlindungan terhadap erosi tanah. Ditambah lagi pembuangan limbah PLTU batubara yang telah merusak biota laut.
  • Dukungan Terhadap Fosil yang Tenggelam: Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah menyaksikan pergeseran menuju energi terbarukan, dengan semakin banyak negara mengurangi ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil. Saat perusahaan dan negara lain beralih ke masa depan yang lebih hijau, membangun PLTU batubara baru berarti kita tidak hanya melewatkan kereta yang sudah berjalan, tetapi juga secara aktif memberikan dukungan kepada industri yang semakin terpinggirkan. Energi surya, energi angin, dan energi hidroelektrik adalah beberapa contoh sumber energi bersih yang terus berkembang dan menawarkan solusi jangka panjang bagi kebutuhan energi kita. Mengalokasikan sumber daya dan investasi untuk mengembangkan sektor energi terbarukan akan membantu membangun masa depan yang berkelanjutan. Mengapa kita tidak mengalokasikan sumber daya kita untuk memperluas penggunaan energi terbarukan, yang tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kemandirian energi?

Saat ini, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan bergerak menuju dunia yang lebih baik. Namun, hal ini membutuhkan keberanian untuk mengubah paradigma. Memilih jalur pembangunan yang lebih berkelanjutan adalah langkah pertama yang penting. Jika kita dapat mengintegrasikan visi masa depan yang ramah lingkungan dengan kebutuhan saat ini, kita dapat mencapai tujuan bersama yakni menjaga lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan listrik.

Lingkungan dan masa depan kita bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini. Dalam membangun masa depan yang berkelanjutan, kita harus mengadopsi energi terbarukan dan melangkah maju, bukan terjebak dalam pola lama yang merusak.

Tugas kita adalah menginspirasi perubahan. Kita perlu berdiri bersama sebagai generasi muda yang berkomitmen terhadap perlindungan lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim. Mari kita bersatu mendukung pengembangan energi terbarukan dan menegaskan bahwa kita ingin masa depan yang bersih dan berkelanjutan, di mana anak cucu kita dapat tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang bersih dan sehat. PLTU batubara baru Adaro bukanlah satu-satunya pilihan; sekarang adalah saatnya untuk membuktikan bahwa negara ini mampu memimpin revolusi hijau yang dibutuhkan.

Redaktur: Tamara Ceria Sairo


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Penggunaan Make Up ke Kampus: Penting atau Tidak?

redaksi

Tradisi Buka Bersama, Momen Ramadhan Yang Ditunggu-tunggu

redaksi

Culture Shock! Adaptasi Mahasiswa Daerah di Kota Besar

redaksi