Oleh: Anastasyia Dwi T Sitinjak
Suara USU, Medan. Jangan Buang Ibu menjadi salah satu film drama terbaru yang memotret kehidupan keluarga yang tidak pernah benar-benar sempurna. Film produksi Leo Pictures yang disutradarai Hadrah Daeng Ratu ini mengangkat kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka masa lalu, serta hubungan anak dan orang tua yang perlahan merenggang. Diadaptasi dari novel Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Dera Priangga, film ini dibintangi Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, dan Saputra Kori serta tayang di bioskop Indonesia sejak 25 Juni 2026.
Film ini mengikuti kisah Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang harus berjuang membesarkan ketiga anaknya, Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori), seorang diri. Suaminya, Ridho (Dwi Sasono), meninggalkan keluarga selama bertahun-tahun tanpa kabar dan membawa persoalan utang yang besar. Kondisi tersebut membuat Ristiana harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membesarkan anak-anaknya dalam keterbatasan ekonomi.
Perjuangan Ristiana kemudian berhadapan dengan perubahan hubungan bersama ketiga anaknya ketika mereka beranjak dewasa. Tama, Dewi, dan Tria yang dahulu hidup dekat dengan ibunya mulai memiliki kesibukan dan persoalan masing-masing hingga jarak di antara mereka semakin terasa. Pada akhirnya, ketiganya memilih menitipkan Ristiana di panti jompo. Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam cerita karena memperlihatkan bagaimana hubungan yang dahulu hangat dapat berubah ketika setiap anggota keluarga mulai menjalani kehidupannya sendiri.
Namun, film ini tidak serta-merta menempatkan anak-anak Ristiana sebagai pihak yang sepenuhnya bersalah. Kepergian Ridho sejak mereka masih kecil meninggalkan luka yang turut membentuk cara Tama, Dewi, dan Tria menjalani kehidupan ketika dewasa. Di sisi lain, Ristiana juga memiliki persoalan dan pilihan yang memengaruhi hubungan mereka. Karena itu, konflik yang dihadirkan terasa lebih kompleks daripada sekadar kisah tentang anak yang meninggalkan orang tua.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan Jangan Buang Ibu. Karakter-karakter di dalamnya tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang benar atau salah, tetapi memiliki latar belakang, luka, dan persoalan masing-masing. Sosok Ridho pun menjadi bagian penting dalam konflik keluarga karena kepergiannya tidak hanya meninggalkan persoalan ekonomi, tetapi juga memengaruhi hubungan Ristiana dengan ketiga anaknya.
Dari segi akting, para pemain mampu menghidupkan karakter masing-masing tanpa terasa berlebihan. Nirina Zubir berhasil membawa emosi Ristiana sebagai seorang ibu yang harus menghadapi berbagai persoalan dalam keluarganya. Refal Hady, Amanda Manopo, dan Saputra Kori juga mampu membangun dinamika antarkarakter sehingga konflik keluarga terasa dekat dengan penonton.
Amanda Manopo turut memberikan penampilan yang mencuri perhatian. Salah satu adegan ketika Dewi menangis mampu menghadirkan emosi yang kuat meskipun tidak banyak didukung dialog. Ekspresi yang ditampilkan membuat kesedihan karakter terasa sampai kepada penonton. Di sisi lain, kehadiran Fadly Faisal memberikan kehangatan tersendiri melalui interaksinya dengan Dewi dan menjadi selingan di tengah cerita keluarga yang emosional.
Dari sisi alur, film ini menggunakan pola maju-mundur yang tetap mudah diikuti. Namun, beberapa momen emosional terasa kurang maksimal karena transisi yang berlangsung cukup cepat sehingga penonton belum sempat larut sepenuhnya dalam perasaan karakter. Meski demikian, alur tersebut tetap mampu membawa penonton mengikuti perjalanan keluarga Ristiana dari masa lalu hingga konflik yang mereka hadapi ketika dewasa.
Penggunaan musik juga turut memengaruhi suasana film. Beberapa lagu pada bagian awal terasa belum terlalu kuat dalam membangun emosi. Namun, suasana berubah ketika lagu Jangan Buang Aku yang dibawakan Rizky Febian mulai diputar. Kehadirannya mampu memperkuat suasana dan membuat beberapa momen terasa lebih emosional.
Lebih dari sekadar kisah tentang seorang ibu yang dititipkan di panti jompo, Jangan Buang Ibu menggambarkan bagaimana pengabaian terhadap orang tua dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Kesibukan dan jarak perlahan dapat membuat anak kehilangan perhatian terhadap orang tuanya, bahkan untuk sekadar meluangkan waktu atau menanyakan kabar. Film ini mengingatkan bahwa kasih sayang dan pengorbanan orang tua tetap memiliki arti, meskipun hubungan dalam keluarga mengalami banyak perubahan.
Pada akhirnya, Jangan Buang Ibu menjadi pengingat bahwa keluarga tidak pernah benar-benar sempurna. Ada pengorbanan, kesalahpahaman, luka, ego, dan persoalan hidup yang dapat membuat anggota keluarga saling menjauh. Namun, selama masih ada kesempatan untuk berkomunikasi, memahami, dan saling memaafkan, hubungan tersebut tetap memiliki ruang untuk diperbaiki. Film ini mengajak penonton untuk menghargai orang tua selagi masih memiliki kesempatan, sebelum perhatian berubah menjadi penyesalan.
Redaktur: Erni Yuli Simatupang
Leave a comment