Home Tempat Jing Si Books & Café, Ruang Teduh di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Tempat

Jing Si Books & Café, Ruang Teduh di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Jesika Yusnita Laoly

Suara USU, Medan. Bagi warga Medan yang ingin sejenak melepas penat dari rutinitas, Jing Si Books & Café menjadi pilihan tepat. Kafe yang berlokasi di Jl. Perintis Kemerdekaan No. P1 ini menyajikan minuman herbal, kopi hitam, makanan sehat, serta koleksi buku gratis dalam suasana tenang dan hening. Berdiri hampir satu dekade, tempat ini menawarkan ruang singgah yang menenangkan di tengah hiruk pikuk kota.

Weni, pengelola kafe ini, menyebutkan bahwa sejak awal pendiriannya, Jing Si Books & Café diharapkan menjadi tempat untuk menenangkan diri. “Kalau mau berbuat tidak baik itu gampang sekali, tapi untuk jadi baik butuh wadah dan lingkungan yang mendukung. Itulah mengapa kafe ini ada, sebagai tempat singgah ketika kita sedang buntu,” ujarnya.

Di sudut ruangan, pengunjung bisa menemukan rak-rak berisi buku dalam bahasa Indonesia, Inggris, hingga Mandarin yang bebas dibaca tanpa dipungut biaya. Kehadiran buku-buku tersebut melengkapi suasana hening, memberi kesempatan bagi pengunjung untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan larut dalam bacaan.

Nama Jing Si sendiri memiliki makna khusus. Dalam bahasa Mandarin, kata Jing berarti tenang dan jernih, seperti gunung hijau yang tidak berselisih dengan siapa pun, sementara Si berarti ladang berkah, simbol bahwa hidup adalah kesempatan untuk menanam kebaikan dengan sepenuh hati. Filosofi ini diterapkan dalam setiap aspek, mulai dari sajian makanan hingga produk yang dipajang. Beberapa di antaranya berupa pakaian, tas, topi, dan sepatu hasil daur ulang botol plastik. Inovasi tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan lewat hal-hal sederhana. “Topi, pakaian, bahkan sepatu ada yang dibuat dari botol plastik. Itu bagian dari dukungan kita untuk lingkungan,” kata Weni.

Daya tarik lain yang membedakan kafe ini dengan tempat serupa adalah menu makanan dan minumannya. Produk yang dijual sebagian besar merupakan hasil kreasi para bhiksuni di Taiwan. Dengan prinsip hidup mandiri, mereka tidak bergantung pada donasi amal, melainkan bekerja keras menghasilkan makanan sehat dan produk bernilai guna. Salah satunya adalah campuran 22 jenis biji-bijian yang bisa dijadikan sarapan praktis. Ada pula beras instan yang awalnya dikembangkan sebagai solusi darurat saat bencana. “Kalau bencana datang, masak nasi susah. Maka dibuatlah beras instan yang bisa langsung disiram air panas, jadi bubur atau nasi. Dari situ terus diproduksi agar selalu siap,” tutur Weni.

Untuk minuman, teh herbal menjadi yang paling diminati pengunjung. Jing Si Herbal Tea bahkan sempat menjadi produk andalan saat pandemi karena dipercaya baik untuk menjaga daya tahan tubuh. Weni sendiri merasakan manfaatnya. Ia bercerita pernah mengalami batuk berkepanjangan dan tak kunjung sembuh meski sudah minum obat. “Setelah coba teh ini, langsung terasa bedanya. Batuk mereda, badan lebih enak,” kisahnya.

Meski demikian, teh organik dan herbal bukan satu-satunya favorit. Banyak pengunjung juga menjadikan kopi hitam sebagai pilihan utama. Bagi sebagian orang, menyeruput kopi hitam di tengah suasana hening kafe menjadi cara sederhana untuk meresapi keheningan sekaligus menemukan energi baru sebelum kembali pada rutinitas harian. Kehadiran kopi hitam memperluas pilihan bagi pengunjung yang menginginkan minuman dengan rasa lebih kuat, namun tetap sederhana.

Lebih jauh, Jing Si Books & Café juga menebarkan semangat perenungan melalui kata-kata singkat penuh makna yang dikenal sebagai Jing Si Aphorisms. Kalimat-kalimat bijak dari Master Cheng Yen tersebut mengajak setiap orang menghargai waktu, menjaga karakter, serta menemukan kebahagiaan dari kesederhanaan. Selain itu, kafe ini juga rutin membagikan kisah inspiratif yang memberi harapan, seperti cerita seorang anak yang berjuang demi ibunya atau kisah orang biasa yang berhasil mewujudkan mimpi. Semua itu sejalan dengan identitas Jing Si sebagai ruang yang tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menumbuhkan nilai kemanusiaan.

Kafe ini buka setiap Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Dengan suasana yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk, Jing Si Books & Café menjadi tempat ideal bagi mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat umum yang ingin melepas penat sejenak. Bagi Sobat Suara USU yang mencari ruang istirahat di tengah padatnya Kota Medan, kafe ini layak menjadi pilihan untuk menarik napas lega dan kembali menemukan arti ketenangan.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.