
Oleh: Gamaliel Lytoputra Sarpin Purba, Elyana Anggriani Br Tarigan, Gilbert Jonathan Siagian, Elsavan Otniel Sembiring
Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menunjukkan kepeduliannya terhadap isu pencemaran laut dengan mengajukan ide kreatif dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kategori Video Gagasan Konstruktif (VGK). Tim mahasiswa ini memperkenalkan konsep teknologi PODS (Plastic Observation and Detection Ship), sebuah kapal canggih yang berdaya listrik dari matahari. Kapal ini dirancang khusus untuk mengenali dan membersihkan mikroplastik di perairan Indonesia yang semakin hari kian mengkhawatirkan.

PODS merupakan desain kapal otomatis yang menggunakan sensor cahaya, panel surya, serta kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi partikel mikroplastik secara mandiri. Dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan berupa sinar matahari, kapal ini dapat beroperasi secara ramah lingkungan sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon. Hal ini sejalan dengan tren global yang mendorong penggunaan energi bersih demi mengurangi dampak perubahan iklim.

Kapal ini didesain agar mampu beroperasi sendiri, menyaring partikel plastik sangat kecil yang selama ini sulit diatasi oleh sistem pembersihan tradisional. Mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter sering kali lolos dari mekanisme penyaringan konvensional, padahal keberadaannya telah terbukti mengganggu rantai makanan laut. Ikan, plankton, hingga kerang dapat menelan partikel plastik ini, dan pada akhirnya manusia sebagai konsumen terakhir juga berisiko terpapar. Dengan demikian, PODS hadir sebagai solusi inovatif yang tidak hanya menargetkan pembersihan permukaan laut, tetapi juga memberi perhatian pada polutan tak kasat mata yang berdampak jangka panjang.
Tim yang terdiri dari mahasiswa Teknik Elektro 2023: Gamaliel Lytoputra Saprin Purba, Gilbert Jonathan Siagian, dan Elsavan Otniel Sembiring, serta Elyana Anggriani Br Tarigan dari Administrasi Publik 2023, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap semakin bertambahnya pencemaran mikroplastik di laut Indonesia. Isu ini bukan hanya permasalahan lingkungan, melainkan juga menyangkut ekonomi, pariwisata, kesehatan masyarakat, hingga keberlanjutan generasi mendatang. Pantai yang tercemar plastik menurunkan daya tarik wisata, nelayan mengalami kerugian akibat berkurangnya kualitas hasil tangkapan, dan masyarakat luas terancam kesehatannya akibat mengonsumsi makanan laut yang tercemar mikroplastik.
“Kami ingin menyampaikan bahwa anak-anak muda juga mampu berkontribusi dalam menjaga lingkungan dengan solusi berbasis teknologi. PODS adalah bentuk dari ide tersebut,” ujar salah satu anggota tim. Pernyataan ini menunjukkan semangat generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam isu lingkungan, tetapi turut menjadi agen perubahan dengan menawarkan langkah konkret.
Dalam proyek PKM VGK ini, tim menyusun cerita gagasan secara terstruktur dan persuasif, menampilkan fakta ilmiah, data pendukung, serta visualisasi desain teknologi yang kuat. Mereka memadukan pendekatan ilmiah dengan kreativitas visual agar pesan dapat diterima dengan lebih efektif oleh berbagai kalangan, baik akademisi, praktisi, maupun masyarakat umum. Hal ini menjadi strategi penting karena permasalahan lingkungan sering kali dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.

Dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Fahmi, S.T., M.Sc., IPM, ASEAN Eng., SMIEEE, memberikan apresiasi atas semangat dan kreativitas tim. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut berpikir kritis, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan secara konstruktif dengan menyentuh aspek sosial. “Ini adalah langkah awal yang baik untuk melatih empati, kepedulian, serta kemampuan berpikir solutif,” katanya. Pandangan ini menekankan bahwa inovasi teknologi yang baik tidak hanya berhenti pada aspek teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.
PODS bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sebuah gerakan moral yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga laut Indonesia. Laut bukan hanya menjadi sumber makanan, tetapi juga bagian penting dari identitas bangsa maritim. Jika pencemaran plastik dibiarkan, maka keberlanjutan ekosistem laut dan mata pencaharian masyarakat pesisir akan terancam. Oleh karena itu, inisiatif mahasiswa ini dapat menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga laut bukan hanya milik pemerintah atau organisasi lingkungan, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat.
Tim berharap gagasan ini dapat dikembangkan lebih lanjut oleh pihak-pihak yang lebih berkompeten, baik dari kalangan industri, pemerintah, maupun lembaga riset. Dengan dukungan teknologi yang lebih maju, pendanaan yang memadai, serta kolaborasi lintas sektor, PODS berpotensi menjadi solusi nyata dalam mengatasi pencemaran laut, khususnya dari mikroplastik. Jika berhasil diwujudkan, kapal ini dapat ditempatkan di berbagai wilayah perairan Indonesia, dari teluk hingga laut lepas, untuk menjaga kebersihan laut yang menjadi aset penting bangsa.
Pada akhirnya, ide ini mencerminkan optimisme generasi muda Indonesia: bahwa dengan kreativitas, kepedulian, dan kerja sama lintas disiplin ilmu, tantangan besar seperti pencemaran laut pun dapat dicari solusinya. PODS bukan hanya kapal, melainkan simbol harapan dan tekad anak bangsa untuk melestarikan laut Indonesia agar tetap biru, sehat, dan produktif bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment