Home Kuliner Lakse, Kuliner Khas Melayu Kepulauan Riau
Kuliner

Lakse, Kuliner Khas Melayu Kepulauan Riau

Share

Oleh: Suci Rahmawati

Suara USU, Medan. Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam suku bangsa dengan ciri khas budaya yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut membentuk identitas bangsa yang kaya akan nilai, tradisi, dan warisan budaya yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Keberagaman budaya ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari adat istiadat hingga tradisi kuliner yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu wujud kekayaan budaya Indonesia tampak pada keberagaman kuliner khas daerah, di antaranya adalah Lakse.

Lakse merupakan salah satu kuliner yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan ciri khas masing-masing. Salah satu yang cukup dikenal adalah lakse khas masyarakat Melayu di Provinsi Kepulauan Riau. Sebagaimana makanan khas tradisional lainnya, lakse ini banyak digemari masyarakat Melayu. Asal usul dari lakse ini sendiri tidak terlepas dari percampuran budaya Melayu dan Tionghoa. Letak geografis Kepulauan Riau yang strategis sebagai jalur perdagangan menjadikan wilayah ini menerima banyak pengaruh, khususnya dari pedagang Tionghoa yang turut membentuk cita rasa kuliner setempat saat itu. Pada masa lalu, makanan ini kerap disajikan dalam rangkaian acara-acara adat, kenduri, serta peringatan hari besar keagamaan. Tidak hanya itu, lakse juga dihidangkan saat menyambut tamu kehormatan, serta pada saat kegiatan gotong royong di berbagai perayaan.  Oleh karena itu, menurut sejumlah budayawan, lakse merupakan salah satu simbol kebersamaan pada masyarakat Melayu.

Selain memiliki makna sosial dan budaya, lakse juga dikenal melalui karakteristiknya sebagai hidangan tradisional khas daerah. Secara fisik, lakse berbentuk mi tebal berwarna putih dengan bahan utama yang terbuat dari campuran tepung sagu dan tepung beras. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan tekstur kenyal yang menjadi ciri khas lakse serta membedakannya dari mi pada umumnya, sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi yang menikmati hidangan ini. Dalam penyajiannya, lakse umumnya disajikan dalam dua bentuk, yaitu digoreng atau disajikan dengan kuah kari santan. Kuah kari tersebut berbahan dasar santan kelapa yang dipadukan dengan ikan atau udang yang ditumbuk halus. Selain itu, penggunaan berbagai rempah, seperti lada kering, ketumbar, jintan putih, bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit, turut memperkaya cita rasa lakse yang gurih dan mencerminkan karakter kuliner khas Melayu. Bumbu dan rempah yang digunakan dalam pengolahan lakse goreng dan lakse kuah juga hampir sama, perbedaannya terletak pada tata cara memasak, mengingat lakse goreng tidak memerlukan pembuatan kuah.

Untuk menambah kenikmatan dalam penyajiannya, lakse umumnya disajikan dengan lauk utama berupa ikan, seperti ikan tenggiri. Selain itu, terdapat pula variasi lakse yang dilengkapi dengan udang dan tauge. Kehadiran sambal khas yang bercita rasa pedas turut melengkapi hidangan ini dan memperkuat cita rasa  lakse.

Pada masa kini, lakse tidak lagi terbatas pada penyajiannya dalam acara-acara adat atau perayaan tertentu, tetapi juga dapat ditemukan di beberapa rumah makan khas Melayu di Kepulauan Riau, seperti di Tanjungpinang, Batam, Tanjung Balai Karimun, Anambas, Natuna, Lingga, dan sebagainya. Keberadaan lakse di ruang-ruang kuliner tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional ini tidak hanya bertahan sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tetap diminati oleh masyarakat.

Oleh karena itu, jika berkunjung ke Kepulauan Riau, mencicipi lakse menjadi pengalaman kuliner yang tidak hanya menawarkan kelezatan, melainkan juga menghadirkan pemahaman akan nilai-nilai budaya dan kebersamaan yang hidup dalam masyarakat Melayu setempat.

Redaktur: Nurur Rahmah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.