SUARA USU
Kabar Kampus

Mahasiswa Kecewakan Menurunnya Dana Apresiasi Malam Penganugerahan, Pihak Rektorat Berikan Penjelasan

Reporter: Agus Nurbillah, Immanuel P. dan Wirayudha Azhari

Suara USU, MEDAN. Malam Penganugerahan Mahasiswa merupakan sebuah agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Kealumnian Universitas Sumatera Utara. Dan tepat pada Selasa,(28/12) kemarin telah resmi digelar.

Mahasiswa pun mengaku terkesima dengan begitu megahnya kegiatan yang digelar di Auditorium USU ini. Pun demikian, tak lama setelah agenda ini digelar mulai banyak aduan-aduan dan keresahan mahasiswa terkait agenda ini. Tepatnya, beberapa mahasiswa mulai menanyakan terkait keterbukaan dan juga transparansi tentang dana apresiasi yang diberikan, dan utamanya mengapa dana apresiasi tahun ini menurun daripada tahun lalu.

Hal ini senada dengan pengakuan Rafli, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Menurutnya, bonus apresiasi merupakan salah satu yang paling ditunggu mahasiswa, utamanya setelah usai beprestasi dan membuat USU bangga. Ia mengecewakan langkah yang diambil pihak universitas.

“Kalau ditanya kecewa kak, jujur ya sangat kecewa kali kak. Apalagi bonus ini kan momen yang paling ditunggu mahasiswa berprestasi atas jerih payahnya selama ini karena sudah mengharumkan nama kampus. Kalau tahun lalu nominal juara 1-2, kisaran 5 juta. Tapi sekarang ada malah yang hanya mendapatkan 400 ribu. Dan itu pertim, saya rasa itu sangat tidak wajar dan membuat motivasi mahasiswa menjadi turun untuk terus berprestasi,” ungkap Rafli.

Senada dengan Rafli, NA mahasiswa Fakultas Hukum mengungkapkan kekhawatiran dan kekecewaan yang sama. NA khawatir dengan kebijakan yang diambil pihak kampus akan membuat mahasiswa tak lagi semangat berprestasi.

“Saya pribadi dapat memaklumi apabila memang adanya kekurangan dana dari pihak universitas mengingat juga terjadi peningkatan dalam jumlah prestasi, baik itu skala nasional maupun internasional. Hanya saja, peristiwa seperti ini saya khawatirkan akan mempengaruhi semangat teman-teman lainnya dalam berprestasi. Apalagi bagi teman-teman yang baru pertama kali merasakan malam penganugerahan Dimana malam penganugerahan mahasiswa sudah menjadi tujuan akhir setiap mahasiswa untuk mau berprestasi. Karena melalui “bonus” itu mahasiswa merasakan keberpihakan universitas kepada mereka yang telah bersusah payah menggapai prestasi,” tuturnya yang juga meraih kampiun di berbagai lomba.

Sholihin Ikhwan, mahasiswa Fakultas Teknik pun menyoroti pengurangan dana apresiasi kali ini. Ia juga mengecewakan belum adanya penjelasan lebih lanjut.

“Untuk sisi malam penganugerahan pastinya berbeda ya, apalagi untuk hadiah apresiasi yang turun secara drastis yang bisa dibilang tanpa adanya transparansi dan mekanisme yang jelas. Bahkan ada beberapa prestasi yang dihilangkan tanpa adanya penjelasan lebih lanjut, parahnya lagi adanya nilai Hadiah Apresiasi padahal sama-sama di tingkat Nasional,” ungkapnya.

Terkait kekecewaan dan keresahan ini, Suara USU pun menanyakan kepada pihak kampus terkait hal ini. Imam Bagus, selaku eks Staff Ahli Rektor bidang Kemahasiswaan yang terlibat dengan Malam Penganugerahan menuturkan bahwa, menurunnya dan bervariasinya dana apresiasi tahun ini memang dipengaruhi berbagai faktor dan utamanya dipengaruhi oleh kualitas lomba yang diikuti.

“Kita lihat ini track record dan perlombaan ini resmi tidak, berapa mahasiswa dan perguruan tinggi yang mengikutinya. Adakah izin dari perguruan tingginya? Karena ketika akan melakukan review dari tingkat nasional, itu akan diminta website-nya, instagramnya, sampai ke panitianya. Dalam pemeringkatan mahasiswa itu ada poinnya. Poin itu tadi ada panduan di SIMKATMAWA. Dan kompetisi itu tadi ada kategorinya, kategori 1, 2, dan 3 dan itu tadi ada grade-nya. Itu ada poinnya lagi, berapa peserta perguruan tinggi, itu yang jadi penting ya,” ungkapnya.

Imam Bagus juga menjelaskan bahwa kampus berusaha memberikan keadilan kepada para mahasiswa, utamanya yang mengikuti kompetisi berkelanjutan dan tingkat nasional seperti PIMNAS. Ia juga menuturkan bahwa harus ada perbedaan apresiasi antara kompetisi yang kredibel dan memiliki nilai tinggi, dengan kompetisi yang kurang peminatnya.

“Kita berusaha memberikan keadilan juga gitu kan, tentunya kompetisi bergengsi dan memiliki proses panjang seperti PIMNAS memiliki tingkat kesulitan dan apresiasi yang lebih tinggi , karena itu ada tahap seleksi yang banyak, juri bertaraf nasional oleh karenanya maka ada perbedaan,” lanjut Imam Bagus.

Pihak BKK USU pun turut memberikan pandangan di persoalan kali ini. Yedi Suhaedi, Ketua BKK menuturkan hal yang sama dengan penyampaian Imam Bagus.

Sebenernya ini kan dari sistemnya itu kan sudah ada gradenya, sistem poin itu tadi melihat gradenya. Dari nilainya ini kan udah tau dia berapa nominalnya, karena kan sudah ada pagu nilainya. Kita apresiasi juga mahasiswa 2020. Kita sudah susun anggaran dan sesuai panduan SIMKATMAWA, tapi kan juga memang ada pemotongan kan karena pandemi. Ini juga sebenarnya kita kan melihat ada ledakan prestasi dan Pimpinan juga sebenarnya menilai jangan dibantu jika tidak menambah ranking, tapi kan pembagiannya kemarin banyak,” ungkap Yedi.

Lebih lanjut, Yedi juga menjelaskan bahwa ada penyesuaian anggaran dari kegiatan yang digelar. Mengingat pada awalnya BKK hanya ingin menggelar kegiatan tahun ini dengan beberapa perwakilan saja, namun arahan dari Wakil Rektor I untuk memeriahkan acara, maka acara dibuat dengan megah dan bekerja sama dengan vendor dari luar.

“Awalnya kita juga hanya ingin mendatangkan 24 perwakilan kan karena pandemi, tetapi karena arahan dari Wakil Rektor I bahwa acara penganagurehana harus bagus dan megah. Kita juga lihat dari universitas lain dan karena itu kita juga menggandeng pihak dari luar dan itu kan ada penyesuaian biaya,” jelasnya.

Staff Ahli Rektor bidang Kemahasiswaan yang baru yaitu, Rahma Yurliani menuturkan pandangan yang sama bahwa dari perspektif psikologi khususnya dari bidang pekerjaan, ada banyak HRD-HRD yang menyoroti prestasi mahasiswa dan ini yang harus menjadi sorotan utama.

“Saya juga sering mendapat pertanyaan dan permintaan dari berbagai HRD mana nih lulusan-lulusan yang siap pakai, dan tentunya yang berprestasi dan memiliki soft skill maupun hardskill yang terlatih di berbagai kompetisi yang akan menang. Banyak juga kan yang masih mahasiswa tetapi sudah direkrut dan inilah harapan kita bahwa ini yang jadi tujuan utama, dana apresiasi hanya bonus, dan bukan patokan” tambahnya.

Di satu sisi, para mahasiswa juga berharap akan adanya peninjauan ulang dan juga evaluasi terkait pengurangan ini. NA dan Rafli sama sama meyakini dan berharap bahwa kedepan kampus harus memberikan ruang dan mensosialisasikan kebijakan baru yang ada, mengingat pentingnya dana apresiasi malam penganugerahan di mata para mahasiswa.

kebijakan sebelumnya yang sudah digagas dengan baik itu dipertahankan, karena bagaimana pun apresiasi ini menjadi motivasi kami sebagai mahasiswa untuk semangat dan semakin berprestasi, harapan saya kedepannya kebijakan seperti ini bisa ditinjau ulang lagi. Dan kalau mau pun tetap diterapkan disosialisasikan sebelumnya agar mahasiswa tidak terkejut atas kebijakan yang dibuat,” pungkas Rafli

“Harapannya untuk universitas agar membuka ruang audiensi kepada mahasiswa yang terdaftar dalam malam penganugerahan mahasiswa USU, mengingat peran teman-teman tersebut sangat fundamental dalam mengharumkan nama USU di kancah nasional ataupun internasional,” tutup NA.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

Mengabdi dan Bersilaturahmi Lewat IMIKS Berbagi!

redaksi

Women’s Bond Mengajak Mahasiswi untuk Mengenal Dunia Kecantikan

redaksi

Covalen Study Group (CSG) Adakan Aksi Galang Dana Peduli Palestina

redaksi