
Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok Perundungan 89 berhasil melaksanakan program sosialisasi terkait pencegahan bullying di SMA Namira Islamic School. Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) yang berfokus pada edukasi karakter dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan bagi pelajar.
Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap meningkatnya kasus perundungan di lingkungan sekolah, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Mahasiswa MKWK menilai bahwa remaja membutuhkan ruang edukasi yang tepat untuk memahami bentuk, dampak, dan cara mencegah tindakan bullying dalam kehidupan sehari-hari.
Selama kegiatan, mahasiswa melakukan penyuluhan, diskusi kelompok, pemutaran video edukatif, serta simulasi kasus untuk membantu siswa mengenali berbagai bentuk perundungan, mulai dari verbal, fisik, relasional, hingga cyberbullying. Metode ini dipilih agar siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengidentifikasi perilaku perundungan yang kerap dianggap “candaan”.
Menurut salah satu perwakilan kelompok, kegiatan ini merupakan bentuk implementasi nilai empati dan kepedulian sosial yang ditanamkan melalui MKWK. “Kami ingin menciptakan ruang aman bagi siswa dan membantu mereka lebih peka terhadap tindakan yang dapat melukai orang lain. Edukasi anti-bullying harus dimulai sejak usia sekolah,” ujar salah satu mahasiswa pelaksana.
Sementara itu, guru pendamping SMA Namira Islamic School menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini. “Program ini sangat bermanfaat bagi siswa kami. Banyak dari mereka yang belum memahami bahwa tindakan kecil dapat berdampak psikologis besar bagi temannya. Dengan adanya sosialisasi ini, siswa menjadi lebih sadar dan berhati-hati,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari LIDA USU dan dosen pengampu MKWK yang menilai proyek ini sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang efektif. Melalui interaksi langsung dengan siswa sekolah, mahasiswa belajar menerapkan nilai karakter, komunikasi, dan kolaborasi.
Di akhir program, Kelompok Perundungan 89 menyusun modul ringkas anti-bullying dan membagikannya kepada pihak sekolah sebagai bahan edukasi lanjutan. Mahasiswa berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi program pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
Melalui proyek ini, mahasiswa MKWK USU menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas perundungan, sejalan dengan visi USU dalam pembangunan karakter generasi muda.
Artikel ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK Perundungan 89 USU dalam Program “Anti-Perundugan”, yang didampingi oleh Mentor: Junita Arisandi Simbolon, dan Dosen Pembimbing: Dra. Nikmah Marpaung, M.A.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment