
Reporter: Jesika Yusnita Laoly
Suara USU, Medan. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) memeriahkan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 dengan pertunjukan tari tradisional pada 14–15 Agustus 2025. Pada kesempatan tersebut, Program Studi (prodi) Sastra Batak menampilkan kekayaan budaya Sumatera Utara (Sumut) melalui dua tarian khas, yakni Batak Angkola dan Pakpak/Dairi, yang ditujukan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada mahasiswa baru.
Tari Batak Angkola ditampilkan pada hari kedua PKKMB, Kamis (14/08) oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Batak. Menurut Risky Kocho Siregar, salah satu mahasiswa yang tampil, tarian ini bernama Tor Tor Bayo Pangoli Rap Boru Na Di Oli dan Mangalo “Boru”. Filosofi dari kedua tarian tersebut sangat mendalam, menekankan penghormatan terhadap raja (panusun bulung), keluarga, serta struktur Dalihan Natolu. “Maknanya adalah setiap gerakan dengan sepuluh jari menandakan penghormatan terhadap leluhur, marga, dan raja,” jelas Risky. Penampilan tari ini bertujuan untuk mengenalkan dan mengingatkan generasi muda akan tari tradisional Batak Angkola, terutama di tengah tantangan budaya yang semakin modern dan dicampuri arus globalisasi.
Hari berikutnya, tepatnya pada Jum’at (15/08), mahasiswa baru Prodi Sastra Batak berkesempatan menampilkan tari Pakpak/Dairi yang bernama Tatak Garo-Garo. Tarian ini menggambarkan kehidupan burung Garo-Garo yang terbang bebas dan ceria saat mencari makan dan bermain. Biasanya, tarian ini ditampilkan saat panen sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah di masyarakat suku Batak Pakpak Dairi. “Formasi tari terdiri dari lima hingga enam penari yang mengenakan kain khas Batak Pakpak Dairi di kepala perempuan. Gerakan menirukan gerakan burung, seperti mengepakkan sayap, serta gerakan jongkok dan berdiri yang menggambarkan interaksi antar burung,” tambah Risky.
Menurut Risky, penampilan tari tradisional ini juga memiliki misi pendidikan dan pelestarian budaya. Ia berharap melalui kreasi seni dan budaya seperti ini, mahasiswa FIB, khususnya Prodi Sastra Batak, dapat lebih mengenal dan menjaga kebudayaan tempo dulu. “Dengan adanya Prodi Sastra Batak, kita dapat mempertahankan enam budaya Batak dan melestarikannya, sehingga generasi sekarang tahu kekayaan budaya Sumatera Utara,” tuturnya.
Penampilan kedua tari ini disambut antusias oleh mahasiswa baru. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami nilai-nilai budaya Batak yang terkandung dalam setiap gerakan.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment