SUARA USU
Uncategorized

Mahasiswi Kesejahteraan Sosial USU Gunakan Metode Psikodinamik untuk Kuatkan Ikatan Keluarga WBP

 

Penulis: Silmi Sri Rosmayanti

Suara USU, Medan. Pada mata kuliah Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang dibimbing oleh pak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., sebagai Dosen pengampu, dan Ibu Emi Triani, S.Sos., M.Si., sebagai Dosen Supervisor. Praktikan, Silmi Sri Rosmayanti dengan NIM 210902090 dari Program Studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan Praktik Kerja Lapangan di salah satu Lembaga Pemasyarakatan Perempuan, di Kota Medan. Kegiatan PKL dilaksanakan berlangsung kurang lebih 3 bulan, dimulai pada tanggal 2 April – 6 Juni 2024. Dalam pelaksanaan PKL, praktikan melakukan pendekatan kepada salah satu klien berinisial (Si) agar mengetahui masalah yang ia miliki. (Si), ialah seorang perempuan berusia 42 tahun yang menjalani hukuman sebagai warga binaan pemasyarakatan (WBP) akibat kasus residivis narkoba, berhasil memperbaiki hubungannya dengan keluarga dengan menggunakan model psikodinamik.

Dalam upaya menciptakan harapan baru bagi WBP, praktikan yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu Lembaga Pemasyarakatan Perempuan di Kota Medan, menerapkan metode family case work dengan model psikodinamik. Pendekatan ini difokuskan pada intervensi level mezzo, yang tidak hanya menangani individu, tetapi juga dinamika keluarga secara keseluruhan dalam membantu klien untuk mengatasi masalah, menangani, dan mencari solusi agar menyelesaikan permasalahan yang ia alami.

Jadi, pada dasarnya metode intervensi dikembangkan untuk menangani masalah klien untuk keberfungsian sosial yang melibatkan keluarga maupun kerabat terdekat. Adapun proses penyelesaian masalah yaitu :

  1. Penyadaran akan adanya masalah, tahap ini praktikan memberikan pemahaman kepada Si (42) bahwa setiap manusia memiliki masalah dalam hidupnya dan di setiap masalah juga selalu ada solusinya.
  2. Menjalin relasi dengan Si (42), praktikan berusaha menjalin hubungan yang baik terhadap klien, dengan harapan klien terbuka dan menceritakan masalahnya.
  3. Pengembangan motivasi, praktikan memberikan kata-kata yang dapat memberikan semangat Si (42) dalam menjalani hidupnya.
  4. Tahap pengonseptualisasian masalah, tahapan ini dari hasil wawancara yang dilakukan yaitu dengan melakukan konsultasi dari klien, seiring berjalannya waktu, dapat diketahui bahwa ada permasalahan klien, praktikan pastikan untuk bisa mempercayai praktikan agar terbuka sehingga dapat bersama-sama mendapatkan solusi permasalahannya.
  5. Eksplorasi strategi mengatasi masalah, praktikan berusaha untuk mencoba memberikan arahan yang bertujuan untuk mengatasi masalah Si (42).
  6. Penyelesaian strategi mengatasi masalah, setelah tahap eksplorasi dilakukan, maka dalam tahapan inilah penyeleksian metode dilakukan guna sebagai penetapan metode yang tepat untuk diterapkan bagi klien. Praktikan mengajak Si (42) untuk melakukan diskusi, hal itu dilakukan untuk memikirkan solusi apa yang tepat untuk diterapkan oleh Si (42).
  7. Implementasi strategi mengatasi masalah, di mana Si (42) menjalankan metode yang disepakati sebelumnya, di tahapan ini Si (42) diharapkan dapat menyelesaikan permasalahannya.
  8. Pada tahap evaluasi, praktikan melihat kembali apa saja yang menjadi kendala Si (42) dan keluarganya.

Praktikan menghadapi tantangan saat mendapati hubungan antara klien, Si (42) dan keluarganya dalam kondisi buruk. Keluarga Si (42) menjauh dan/atau tidak pernah mengunjungi klien untuk melihat klien dan menanyakan kabar klien selama berada di lembaga pemasyarakatan, setelah mengetahui keterlibatannya sebagai kurir pengantar narkoba jenis sabu, sehingga memperburuk kondisi emosional dan mentalnya selama masa tahanan.

Dengan menggunakan model psikodinamik dari family case work, praktikan melaksanakan serangkaian intervensi yang melibatkan sesi konseling individu, terapi keluarga, dan teknik psikodinamik. Melalui pendekatan ini, Si (42) dan keluarganya mulai membangun kembali komunikasi yang lebih terbuka dan konstruktif, mengurangi frekuensi konflik, dan meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses membangun kehidupan untuk klien kedepannya. Sehingga psikodinamik dalam family case work  efektif dalam memperbaiki hubungan keluarga yang bermasalah. Melibatkan keluarga secara aktif dan memahami dinamika emosional mereka dapat membantu menciptakan dukungan yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi warga binaan.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktik Kerja Lapangan dengan dosen pengampu:  Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khaira Nazira


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Lelah Berada di Ruang Lingkup Narkoba, Pecandu Inisial F Memiliki Inisiatif untuk Memperbaiki Diri

redaksi

Menambah Ketertarikan Belajar Murid SD Negeri 064988, Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Hadirkan Metode Belajar Asyik

redaksi

Upah Masih Menjadi Permasalahan Para Pekerja di Indonesia

redaksi