
Oleh: Siti Aisyah
Matt Haig hadir dengan karyanya yang tidak hanya sekadar sebuah buku motivasi biasa, melainkan sebuah memoar jujur tentang perjuangan melawan depresi dan kecemasan. Reason to Stay Alive, buku yang ditulis oleh Haig melalui pengalamannya berada di titik tergelap dalam hidupnya. Dalam buku ini, Haig menyampaikan kisah nyatanya dengan gaya yang sederhana namun kuat—bukan untuk menggurui, tetapi untuk menemani. Ia pernah merasakan bak berada di ujung tebing, dan berpikir hidupnya selesai. Namun, ia bertahan dan mengambil langkah untuk memaknai keadaannya, dan buku ini adalah bukti bahwa ia bertahan.
Salah satu kekuatan buku ini adalah kejujuran yang mentah. Haig tidak memoles pengalamannya agar terlihat “inspiratif” secara instan. Ia mengatakan dengan lantang:
“I didn’t want to be dead, I just didn’t want to be alive.”
Aku bukan ingin mati. Aku hanya tidak ingin hidup.
Kalimat ini menggambarkan perasaan umum para penyintas depresi yang sejatinya bukan berkeinginan untuk mati, melainkan kelelahan karena terus hidup dalam rasa sakit yang tak terlihat. Depresi, dalam penggambaran Haig, bukan sekadar kesedihan. Ia menuliskan dalam bukunya:
“Depression is not the same as sadness. Sadness is to cry and to feel. But depression is to feel nothing. It is a kind of spiritual anaesthesia.”
Penggambaran ini relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama kalangan muda yang menduduki masa pelajar serta mahasiswa. Tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan tuntutan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” menciptakan ruang yang sempit bagi seseorang untuk jujur tentang apa yang mereka rasakan. Banyak yang memilih diam, menyimpan semuanya sendiri, karena takut dianggap lemah atau berlebihan. Padahal, dalam diam itu, ada yang sedang berjuang keras untuk sekadar bertahan.
Dalam masyarakat yang sibuk membandingkan pencapaian, kesehatan mental kerap diabaikan. Padahal, banyak mahasiswa mengalami gejala depresi ringan hingga berat tanpa mendapatkan perhatian yang layak. Masalah ini kerap dibungkam dalam budaya produktivitas yang memuja kesibukan. Haig, menyatakan bahwa ketidaktahuan dalam masyarakat terkait kesehatan mental bisa berbahaya. Ia menyampaikan bahwa depresi adalah salah satu penyakit paling mematikan di dunia, tapi orang-orang masih menganggapnya tidak nyata.
Haig menulis dialog imajiner antara dirinya yang dulu (saat sedang ingin mati) dan dirinya yang sekarang (yang telah melewati masa itu). Salah satu bagian paling menyentuh dari bab “A Conversation Across Time”:
Then Me: “I want to die.”
Now Me: “Well, you aren’t going to.”
Then Me: “That is terrible.”
Now Me: “No. It is wonderful. Trust me.”
Aku yang dulu: “Aku ingin mati.”
Aku yang sekarang: “Tapi kamu tidak akan mati.”
Aku yang dulu: “Itu mengerikan.”
Aku yang sekarang: “Tidak. Itu luar biasa. Percayalah padaku.”
Dialog ini menyadarkan kita bahwa pemulihan bukan sesuatu yang instan. Bahkan Haig, yang menulis buku ini, mengaku masih sering dilanda kecemasan. Tapi ia tahu bahwa badai bukan sesuatu yang bersifat selamanya. Ia tahu bahwa hari-hari yang buruk akan berlalu, dan yang terpenting ia percaya bahwa harapan bisa datang dari hal-hal kecil, sesederhana berjalan kaki, membaca, menulis, hingga berbincang dengan orang-orang terdekat maupun terkasih.
Salah satu pesan paling kuat dari buku ini adalah bahwa kita tidak perlu punya alasan besar untuk bertahan hidup. Seringkali, cukup satu hal kecil saja, seperti satu lagu yang disukai, satu momen bersama orang terdekat, bahkan satu cangkir teh hangat di pagi hari. Seperti yang ditulis Haig, “Stay for the small things. Stay for another day.” Terkadang, hidup tidak memberi jawaban besar, tapi cukup satu alasan kecil untuk bangun lagi esok hari dan itu sudah cukup.
Haig juga menyindir cara masyarakat merespons penyakit mental dalam realita sosial. Sebab yang sering terjadi pada mereka yang menderita depresi adalah keadaan dinasihati tanpa pemahaman, disederhanakan tanpa empati.
Reasons to Stay Alive bukan hanya penting untuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi dan gangguan mental, tapi juga untuk siapa saja yang ingin belajar memahami. Buku ini menunjukkan bahwa terkadang, yang dibutuhkan bukan solusi, tapi keberanian untuk hadir dan mendengarkan. Seperti yang Haig tulis dengan indah:
“Terowongan itu memang punya cahaya di ujungnya, meskipun kita belum bisa melihatnya. Dan ada penawaran beli satu gratis satu untuk awan dan lapisan peraknya. Kata-kata, kadang-kadang, bisa membebaskanmu.”
Sama halnya dengan Matt Haig, kita pun bisa mulai mencari alasan-alasan kecil untuk bertahan. Karena dalam dunia yang semakin bising, keberanian terbesar bisa jadi adalah tetap hidup dan mengakui bahwa kita pernah tidak baik-baik saja.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment