SUARA USU
Buku

Menemukan Pelajaran Berharga dari Novel Lawas, Harimau! Harimau!

Oleh  : Roy Blesson Siboro

Karena orang yang mencoba membuka kebenaran dibenci dan dimusuhi oleh mereka yang bersalah dan berdosa. Banyak orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran dalam hidupnya.

Ungkapan dalam novel karya seorang jurnalis dan pengarang kenamaan Indonesia Mochtar Lubis yang terbit tahun 1975 dan ditulis ketika ia penjara di Madiun ini agaknya telah menjelaskan sepak terjang penulis yang menjadi musuh dua rezim yang pernah memimpin Indonesia.

Menceritakan tentang tujuh orang pengumpul damar yang rutin merimba untuk mencari rejeki dari damar yang dikumpulkan dan dijual dengan harga yang lumayan. Terdapat banyak tokoh dalam novel ini, tetapi sesungguhnya hanya seorang tokoh saja yang bertahan sampai akhir menyimpulkan dan merangkum semua pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Belantara hutan yang ajaib tetapi juga mengerikan adalah tempat tujuh orang pengumpul damar yang bekerja berminggu-minggu jauh dari rumah di kampung, ke-tujuh orang tersebut terdiri dari orang-orangtua yang amat dihormati dikampung. Beberapa di antaranya adalah Wak Katok yang dianggap memiliki ilmu gaib dan pemimpin yang dihormati, Pak Haji yang telah merantau dan berpengalaman banyak dan Pak Balam yang dihormati karena kharismanya, adapun empat orang lagi ialah anak muda yang berpengalaman, terkecuali Buyung yang masih amat belia namun kuat dan tangkas.

Alur cerita dimulai dengan penggambaran penulis akan indah dan bersahajanya kehidupan mereka di kampung, hingga terjadi sebuah insiden yang membuat mereka diburu oleh harimau yang akhirnya secara tidak sengaja meruntuhkan kepercayaan dan rasa hormat diantara mereka dan membongkar semua kisah masa lalu serta sifat asli. Kengerian dan kenikmatan membaca novel lawas satu ini bertambah dengan terbunuhnya mereka satu per satu oleh harimau yang sebelumnya jadi buruan mereka.

Novel ini juga memiliki pesan tersirat yang halus tentang kekecewaan dari penulis terhadap rezim orde lama yang sering menampilkan pemimpin kharismatik namun gagal menyelamatkan rakyat. Hal itu tersirat dalam kekecewaan Buyung ketika mengetahui Wak Katok orang yang paling dihormatinya ternyata adalah seorang pendusta.

Mochtar Lubis dalam menulis novel ini menggunakan banyak sekali istilah yang membawa pembaca seolah-olah menjadi bagian dari kisah ini. Alur cerita yang dibuat juga sering membuat pembaca lupa sejenak akan konflik yang terjadi, merasakan ketegangan dan ikut memaknai pesan moral yang amat berguna bagi pembaca. Meski sebenarnya penulis menggunakan cerita dari tujuh pengumpul damar tersebut, tetapi nilai dan pesan yang ingin disampaikan jauh lebih banyak.

Novel ini amat menarik dibaca karena pesan moral yang terkandung didalamnya, seperti tersadarnya akan dosa atau kesalahan yang dilakukan mungkin jadi penyebab beberapa hal buruk terjadi dalam hidup. Ungkapan terakhir Pak Haji pada Buyung di masa sekaratnya juga menjadi ungkapan yang ikonik dari novel ini,

“Bunuhlah dahulu harimau didalam dirimu”

Pesan ini memiliki arti yang mendalam bagi mereka yang menghayati, terakhir novel ini juga ditutup dengan baik meski terkesan sangat tanggung karena kesimpulan langsung diambil setelah konflik paling tinggi selesai dan menyisakan tanda tanya. Seperti apa nasib Buyung Sanip dan Wak Katok? apa yang terjadi dengan Siti Rubiyah dan Wak Hitam? Bagaimana keluarga Pak Balam, Sutan dan Talib setelah mereka dimakan harimau?

Namun, terlepas dari itu, novel ini layak dibaca sebagai pesan dari karya lawas yang memiliki banyak pesan di dalamnya baik dari sejarah penulisan maupun konten yang dibagikan.

 

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Anak Rantau: Petualangan Mencari Ilmu dan Memaknai Kata Dewasa

redaksi

Menjadi Perempuan Independen Melalui Buku ‘The Alpha Girl’s Guide’

redaksi

Mimpi Sejuta Dolar, Belajar dari Kisah Inspiratif Merry Riana

redaksi