SUARA USU
Opini

Mengenal Fast Fashion, Tren Mode Nirfaedah

Oleh: Tamara Ceria Sairo

Suara USU, Medan. Fast Fashion merupakan suatu fenomena global yang menyangkut masalah tren fesyen. Fast fashion merupakan istilah yang menggambarkan pakaian berkualitas rendah yang dijual dengan harga murah dan diproduksi secara massive dan cepat berganti setiap musimnya. Hal ini bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi. Sesuai sebutannya, “fast fashion” menggambarkan tren yang cepat sekali berubah dan berganti dengan tren mode terbaru. Sirkulasi perubahan tren ini kemudian melahirkan tren mode fast fashion di kalangan masyarakat global.

Bagi banyak orang, kehadiran tren fast fashion menjadi kabar baik karena dapat memenuhi kepuasan terhadap gaya hidup konsumtif. Hal ini yang kemudian membuat produksi terhadap suatu brand atau produk menjadi tak terkendali. Fast fashion menjadi sisi gelap di balik glamornya sektor industri fesyen. Tren ini digadang-gadang sebagai tren yang menjamur bukan hanya di Indonesia tapi di lingkup dunia.

Sejalan dengan permintaan pasar yang tinggi, produsen pandai mencari celah untuk mengikuti perkembangan fesyen dan mengenyangkan para konsumen dengan tingkat ketidakpuasan yang tinggi. Terlebih, para produsen mulai menjual berbagai busana tiruan dari merek ternama dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau namun tetap trendi.

Mari mengenal lebih jauh dampak dan bahaya fast fashion bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar, yuk.

1. Mendukung Gaya Hidup Konsumtif

Konsumen yang tak pernah puas dan merasa tak pernah cukup menjadi celah yang bisa dimasuki oleh produsen busana tren fast fashion. Kemunculan fast fashion mendukung gaya hidup konsumtif karena dipasarkan dengan harga terjangkau dan tampilan yang trendi serta dengan kuantitas terbatas. Sehingga, para konsumen lebih mudah untuk mengeluarkan biaya pembelian karena takut kehabisan tanpa peduli dengan kualitas yang disediakan.

Gaya hidup konsumtif merupakan lingkaran yang menjebak orang-orang untuk sulit kembali ke gaya hidup normal. Gaya hidup ini bertujuan agar pemakainya masuk jajaran manusia modern dan fashionable. Sehingga tingkat obsesi masyarakat terhadap mode keluaran baru menjadi bahaya yang tak bisa dielakkan.

2. Menyumbang Limbah Industri dan Pencemaran Lingkungan

Pesatnya dinamika pergantian tren menyebabkan pakaian dengan mode lama akhirnya terbuang. Manusia cenderung mudah bosan sehingga produsen mengakalinya dengan mengeluarkan tren baru untuk memuaskan konsumen. Sehingga, semakin menumpuknya limbah hasil produksi yang mencemari lingkungan dan berdampak besar bagi kesehatan manusia.

Produksi pakaian fast fashion tentu menekan biaya menjadi sangat rendah. Hal ini menyebabkan bahan pembuatan suatu pakaian menggunakan kualitas yang buruk, seperti pewarna tekstil yang dapat menyebabkan pencemaran oleh air limbah. Kemudian, pakaian dengan bahan dasar kapas dan bahan sintetis pada dasarnya sulit terurai. Jika diproduksi secara berlebih, kemungkinan besar akan ditanam dan akan mencemari tanah. Apalagi jika dibakar, maka akan mencemari udara melalui karbondioksida yang membahayakan pernafasan.

3. Over-working bagi Para Pekerja Industri

Sejalan dengan produksi yang didorong besar-besaran, banyak perusahaan yang mengesampingkan kenyamanan dan kesehatan para pekerjanya. Tuntutan yang diberikan tidak sebanding dengan gaji yang ditawarkan dan waktu kerja yang meningkat drastis sejalan dengan permintaan pasar yang turut meningkat.

Bukan hanya permasalahan upah, namun para pekerja industri juga tidak menerima jaminan asuransi kesehatan maupun keselamatan kerja. Pekerja juga harus bekerja dengan kondisi yang cukup berbahaya karena harus berhadapan langsung dengan bahan kimia beracun dan tidak diperlengkapi dengan pakaian pelindung yang memadai.

Nah, dalam menyikapi dampak dan bahaya tren fast fashion saat ini, banyak sekali solusi yang dapat ditawarkan sebagai suatu alternatif. Slow fashion dan sustainable fashion menjadi pilihan tepat bagi konsumen. Singkatnya, slow fashion dan sustainable fashion lebih menjual kualitas dan daya guna jangka panjang. Bertolak belakang dengan fast fashion, kedua tren ini menjadi salah satu jawaban dari permasalahan yang timbul akibat tren fast fashion ini. Slow fashion lebih ramah lingkungan dan memberikan tampilan yang akan selalu trendi dan tak ketinggalan zaman.

Redaktur : Elnada Nadhira Saleh


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Alami Perlakuan Berbeda, Mahasiswa KIP-Kuliah 2023 Dirugikan Skema KIP-K

redaksi

Apakah Jualan dan Mengamen Sesuai dengan Kedudukan Mahasiswa Sebagai Pelajar?

redaksi

Pentingnya Bahasa Inggris di Masa Depan

redaksi