Home Entertaiment Menilik Warisan Kesultanan Palembang di Balik Manisnya Gulo Puan
EntertaimentKuliner

Menilik Warisan Kesultanan Palembang di Balik Manisnya Gulo Puan

Share

Oleh: Adelia Jasmine Efendi

Suara USU, Medan. Gulo Puan merupakan kuliner khas Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang dibuat dari campuran susu kerbau rawa dan gula merah. Kudapan ini memiliki cita rasa manis dan gurih dengan tekstur lembut serta berpasir halus. Proses pembuatannya yang panjang dan keterbatasan bahan baku membuat Gulo Puan semakin sulit ditemukan.

Dalam bahasa Palembang, “gulo” berarti gula, sedangkan “puan” berarti susu. Secara harfiah, Gulo Puan berarti “gula susu” yang merujuk pada bahan utamanya, yaitu susu kerbau rawa yang dimasak bersama gula merah. Nama tersebut tidak hanya menggambarkan bahan dasar, tetapi juga berkaitan dengan nilai kemewahan pada masa lalu. Susu kerbau rawa yang menjadi bahan utama membuat Gulo Puan dahulu hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.

Keunikan Gulo Puan tidak terlepas dari bahan bakunya. Kerbau rawa banyak ditemukan di kawasan lahan basah Pampangan yang menjadi salah satu habitatnya. Ketersediaan susu kerbau yang terbatas membuat bahan baku Gulo Puan tidak mudah diperoleh. Kondisi tersebut turut memengaruhi keberlangsungan produksi makanan tradisional ini.

Pembuatan Gulo Puan dilakukan secara tradisional dan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam. Prosesnya diawali dengan pemerahan susu kerbau rawa pada pagi hari sebelum matahari terbit, sekitar pukul 05.00, atau pada sore hari ketika kerbau kembali dari penggembalaan.

Susu segar kemudian dimasak dalam wajan logam berukuran besar menggunakan api kecil dari kayu bakar. Susu dicampur dengan gula merah dengan perbandingan satu liter susu dan satu kilogram gula. Selama proses pemasakan, adonan harus terus diaduk agar tidak gosong dan menghasilkan tekstur yang sesuai.

Gulo Puan yang baik memiliki warna cokelat keemasan, tekstur lembut dengan butiran halus, serta rasa manis dan gurih yang seimbang. Proses pembuatan yang panjang dan membutuhkan ketelatenan membuat kudapan ini bernilai tinggi serta jarang diproduksi secara massal.

Gulo Puan juga menyimpan sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, kudapan ini menjadi hidangan istimewa bagi kalangan bangsawan dan tamu kehormatan. Masyarakat Pampangan juga dahulu menjadikannya sebagai persembahan atau upeti kepada pihak kerajaan. Hal tersebut membuat Gulo Puan tidak hanya bernilai sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Gulo Puan dapat dinikmati secara langsung maupun dipadukan dengan makanan lain, seperti roti, ketan, singkong rebus, dan pisang kukus. Seiring berkembangnya kuliner, sejumlah pelaku usaha juga mengolahnya menjadi isian kue dan berbagai produk makanan lainnya. Meski demikian, penyajian secara langsung tetap menjadi salah satu cara untuk menikmati cita rasa khas Gulo Puan.

Keberadaan Gulo Puan kini menghadapi sejumlah tantangan. Populasi kerbau rawa yang menurun akibat alih fungsi lahan serta meningkatnya biaya pemeliharaan membuat ketersediaan bahan baku semakin terbatas. Di sisi lain, minat generasi muda untuk meneruskan usaha pembuatan Gulo Puan juga menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Upaya pelestarian Gulo Puan terus dilakukan dengan memperkenalkannya sebagai bagian dari warisan budaya dan kuliner Sumatera Selatan. Pada 2021, Gulo Puan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pengakuan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan Gulo Puan kepada masyarakat sekaligus mendorong pelestarian tradisi pembuatannya.

Perkembangan media digital juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengenalan Gulo Puan. Promosi melalui media sosial, pengembangan produk, serta dukungan terhadap pelaku usaha lokal dapat membuka peluang agar kuliner ini dikenal oleh masyarakat di luar Sumatera Selatan.

Gulo Puan memperlihatkan bahwa sebuah makanan dapat menyimpan lebih dari sekadar cita rasa. Di dalamnya terdapat sejarah Kesultanan Palembang Darussalam, kehidupan masyarakat Pampangan, serta pengetahuan tradisional dalam mengolah susu kerbau rawa. Menjaga keberadaan Gulo Puan berarti turut mempertahankan tradisi kuliner yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.