SUARA USU
Featured

Menumbuhkan Sikap Adil di dalam Lingkungan Hidup

Oleh : Monang Jhon K. Sihotang, Salma Qolbi Jannah, Josua Hutabalian, Nerissa P.A.Harefa, Tiarni Jesica Ritonga

Suara USU, Medan. Perbedaan yang seharusnya menjadi pemersatu antar sesama kini perlahan-lahan kian menjadi tembok pemisah yang sukar di hancurkan. Tidak seharusnya pula perbedaan itu menjadi pemicu munculnya kasus perundungan atau bullying yang marak saat ini terutama di lingkungan pendidikan.

Apalagi mengingat begitu pesatnya kemajuan iptek saat ini, yang membuat perundungan dapat terjadi di mana-mana dan pastinya menjadi lebih meluas. Bahkan bahayanya pem-bully-an melalui media sosial dapat menimpa siapa saja dengan berita-berita tidak efektif untuk mencapai tujuan pelaku saja. Mirisnya, kebanyakan pelaku bully saat ini adalah para generasi muda yang menjadi ujung tombak penerus perjuangan bangsa ini.

“Seluruh kasus yang tercatat melibatkan sekolah-sekolah di bawah kewenangan Kemendikbudristek,” ujar Retno dalam keterangan tertulis, Komisioner KPAI, Rabu (29/12/2021).

Pemerintah Indonesia terus melakukan upaya-upaya penanggulangan tindak perundungan di sekolah. Salah satunya adalah dengan menggandeng UNICEF Indonesia untuk bersama-sama membentuk program “Roots”. Roots adalah sebuah program pencegahan perundungan berbasis sekolah yang telah telah dikembangkan oleh UNICEF Indonesia sejak tahun 2017 bersama pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak.

Berikut ini adalah detail dari program Roots:

  1. Melakukan survei

Tahap awal dari program Roots adalah melakukan survei terhadap para peserta didik dan juga guru seputar perundungan di lingkungan sekolahnya. Mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan simpel mengenai perundungan, seperti pernahkah melakukan perundungan, pernahkah menjadi korban perundungan, apa yang dilakukan ketika melihat perundungan, dan sebagainya.

Survei dilakukan secara anonim agar identitas responden tetap terjaga rahasianya. Dengan dilakukan survei, nantinya bisa diketahui data terkait perundungan yang dapat dijadikan landasan pemetaan tindakan selanjutnya.

  1. Pemilihan agen perubahan

Pemilihan agen perubahan menggunakan teori jejaring sosial. Metode yang dilakukan adalah setiap peserta didik setiap angkatan diminta menuliskan 10 nama teman terdekatnya. Nantinya akan ada sekitar 40 agen perubahan di sekolah

Hal ini sangat penting karena dalam jejaring sosial ingin didapat data mengenai peserta didik mana saja yang paling berpengaruh dan paling didengar oleh peserta didik lainnya. Pemilihan agen perubahan ini bertujuan untuk bisa memengaruhi peserta didik lain agar peduli terhadap kasus perundungan yang terjadi di sekolahnya.

  1. Pelatihan agen perubahan

Para agen perubahan yang sudah terpilih tadi selanjutnya akan menjalani sesi pelatihan selama 15 pertemuan. Pelatihan ini memberikan materi seputar perundungan kepada agen perubahan. Agar efektif, pelatihan dilakukan satu kali dalam seminggu sehingga program ini diestimasikan berjalan selama satu semester.

Di sini, peran fasilitator menjadi kunci dalam sesi pelatihan. Fasilitator bisa berasal dari guru di sekolah ataupun pembina ekstrakurikuler. Namun, fasilitator haruslah sosok yang dekat dan dapat dipercaya oleh para agen perubahan.

  1. Kampanye anti perundungan

Setelah para agen perubahan diberi pelatihan mengenai perundungan, satuan pendidikan bisa merayakan acara puncak dengan mengadakan kampanye antiperundungan. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga sekolah mulai dari peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan.

Puncak acara dari kampanye ini dapat diselenggarakan dengan berbagai ide kreatif dari para agen perubahan. Bisa berbentuk penandatanganan deklarasi anti perundungan, pertunjukan seni, ataupun ide-ide kreatif lainnya.

  1. Evaluasi program

Lakukan survei ulang dan evaluasi usai program Roots dijalankan. Apakah ada perubahan pada tingkat kasus perundungan atau tidak. Jika program berhasil, maka kasus perundungan akan turun. Namun, apabila ternyata semakin banyak yang melaporkan kasus perundungan bisa juga berarti telah banyak warga sekolah yang semakin peduli dengan masalah perundungan di lingkungannya.

SUMBER

Catatan Akhir Tahun KPAI: Masih Banyak Kasus Bullying Berujung Korban Meninggal | kumparan.com

https://ditsmp.kemdikbud.go.id/mengatasi-perundungan-di-sekolah-dengan-program-roots/

https://www.naato.my.id/2021/08/cara-daftar-dan-menulis-artikel-di.html?m=1

ilustrasi menumbuhkan sikap adil di lingkungan masyarakat – Bing images

Redaktur : Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mulai Merasa Jenuh Saat Kuliah? Ini Tips Untuk Mengatasinya

redaksi

Indonesia Meraih Peringkat Pertama Kategori Negara Paling Demawan Di Dunia!

redaksi

Mengungkit Sejarah Perkebunan di Museum Perkebunan

redaksi