SUARA USU
Opini

Miskonsepsi Inner Child pada Gen Z

Oleh : Yuni Hikmah

SUARA USU, Medan. Inner child adalah sebuah cermin kehidupan masa kecil dalam alam bawah sadar. Berangkat dari peristiwa masa lalu baik berupa pengalaman positif atau negatif, berwujud bagian diri anak-anak yang tidak ikut tumbuh dan menetap sampai dewasa.

Akhir-akhir ini, seringkali terjadi miskonsepsi pada istilah inner child, bahkan menjadi trend yang diromantisasi kalangan muda. Bermula dari meningkatnya awareness Gen Z akan mental health sehingga istilah-istilah psikologi dianggap sebagai kata berinterpretasi gaul dan lambat laun mengalami pergeseran makna. Hal ini bukan sekali dua kali terjadi, miskonsepsi juga terjadi pada sejumlah istilah seperti healing, bipolar, panic attack, anxiety, OCD dan banyak lainnya. Fenomena ini tentu saja membuat orang-orang dari latar belakang psikologi geleng-geleng kepala.

Alasan mengapa hal ini disebut pergeseran makna tak lain karena masih banyak orang salah konsep, beranggapan inner child ini adalah suatu istilah umum yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang kita inginkan tapi tidak sempat terwujud saat kecil. Oleh karena itu, netizen seakan menggunakan istilah ini dalam sebuah trend untuk membanggakan keinginan mereka saat kecil. Salah satu contoh trend ini adalah pertanyaan sederhana seperti “Inner child kalian butuh apa?” yang langsung dibanjiri beberapa komentar, salah satunya mandi bola. Apakah benar menginginkan mandi bola termasuk definisi inner child? Lalu pertanyaannya, konsep inner child itu sebenarnya apa?

Dilansir dari sebuah cuitan di aplikasi Twitter milik seorang ilmuwan psikologi dengan username @prasprasesetja, menanggapi menfess yang dilontarkan anonim di salah satu autobase tentang inner child, diketahui inner child sendiri bukan merupakan istilah saintifik dalam teori psikologi, istilah ini lahir dari kombinasi aspek teoritis ahli yang sudah ada sebelumnya, seperti regresi, fiksasi, hingga arketipe dari ilmuwan psikologi; Jung dan Freud. Dalam hal ini, inner child adalah aspek dalam psikoterapi yang digunakan professional untuk membantu seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan.

Konsep inner child pertama kali diperkenalkan oleh Carl Jung, Psikolog kebangsaan Swiss. Jung memasukkan “Child Archetype” dalam daftar arketipe yang mewakili individuasi, yaitu pengembangan berbagai bagian diri menjadi keseluruhan yang berfungsi. Child archetype dalam teori Jung dapat menjadi cara yang membantu individu terhubung ke masa lalu, ketika mengingat balik pengalaman dan emosi sebagai seorang anak. Ini juga bisa membantu individu menjadi dewasa dan menyadari apa yang ia inginkan di masa depan.

Kemudian, istilah inner child ini lahir dan semakin berkembang dari teori “The unconscious mind” milik Sigmund Freud, bapak Teori Psikoanalisis asal Austria. Freud berasumsi, pada area ketidaksadaran terdapat dorongan-dorongan yang ditahan atau dipendam sehingga sulit untuk diketahui penyebabnya karena faktor pengabaian. Kondisi ini kemudian mengaktifkan Mekanisme Pertahanan (Defense Mechanism) atau bisa didefinisikan menjadi sebuah metode yang digunakan individu untuk menangani perasaan-perasaan takut, kecemasan serta rasa tidak aman. Mekanisme ini memiliki dua karakteristik umum, yaitu menyangkal kenyataan serta bekerja secara tak sadar.

Inner child secara teoritis mengangkat pola regresi dan fiksasi. Regresi adalah mekanisme yang muncul ketika seseorang menunjukkan kemunduran perkembangan karakteristik, di mana yang paling seringkali terjadi ialah kembali ke pola perilaku anak-anak (infantilisme). Sedang Fiksasi artinya mekanisme yang muncul ketika seseorang tetap berada di tahap perkembangan sebelumnya sebab kebutuhan-kebutuhan yang tidak tercukupi atau terlalu tercukupi. Menurut seorang edukator dan konselor asal Amerika, John Elliot Bradshaw, inner child merupakan hasil dari pengalaman atau kejadian dimasa lalu yang belum terselesaikan dengan baik sehingga terbawa bertahun-tahun kemudian sampai individu tersebut tumbuh dewasa.

Tidak dipungkiri, setiap orang pasti mengalami masa-masa sulit saat kecil, tak sedikitnya bahkan pernah mengalami trauma, entah karena pola pengasuhan orang tua yang salah atau dampak lingkungan tempat tinggal seorang anak. Hal inilah yang biasanya menyebabkan inner child seseorang menjadi terluka. Untuk menghindari rasa sakit, mekanisme pertahanan akan aktif untuk menekan luka tersebut ke dalam alam bawah sadar dengan harapan akan hilang sepenuhnya. Sayangnya, inner child yang terluka tidak akan benar-benar hilang sebelum dilakukan penanganan, sebelum akar masalahnya disembuhkan.

Ketika dewasa, inner child tersebut tanpa sadar berimbas dalam bentuk tingkah laku dan kondisi emosional yang ternyata bersembunyi dan bersarang dalam kurun waktu yang amat sangat lama di dalam diri kita. Inner child juga berefek pada cara kita bertindak untuk dicintai, yang tentunya kita dapatkan ketika masa kanak-kanak.

Inner child ternyata sekompleks itu, butuh penjelasan panjang untuk menelusuri makna sebenarnya yang dikandung istilah ini. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa dicari tahu lebih lanjut. Nah, sudah seharusnya kita tidak lagi mengglorifikasi istilah ini sebagai trend yang diromantisasi ya! Kata inner child secara teoritis ternyata tidak sekeren itu. Mulai sekarang, kita harus lebih hati-hati dalam menggunakan istilah baru, jangan langsung digunakan mentah-mentah tanpa mencari tahu artinya dulu, ya!

Redaktur : Elnada Nadhira Saleh


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Bisakah Libur Panjang Mengubah Kebiasaan Seseorang?

redaksi

Aklamasi, Budaya yang Harus Dihindari!

redaksi

Apa yang Seharusnya Indonesia Lakukan Terhadap Pengungsi Rohingya

redaksi