
Reporter: Chairani
Suara USU, Medan. Dewan Pengurus Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), resmi melantik 27 anggota baru periode 2025. Acara yang berlangsung di Teater Fisip USU ini dirangkai dengan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Desa Adat, Seri 1: Potensi Desa Adat di Sumatera Utara”.
Kegiatan ini dihadiri Anggota DPRD Sumut, Drs. H. Abdul Khair, MM, Kepala Program Studi Antropologi Sosial FISIP USU, Dr. Drs. Irfan Simatupang, M.Si, serta perwakilan Dinas Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Sumut, Silvya Rosita Armayanti Lubis, serta Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan.
Dalam sambutannya, Lewis Gordon menekankan bahwa menjadi kader GMNI berarti mewarisi api perjuangan Bung Karno. “Bukan sekadar identitas, tapi panggilan hidup. Jadilah kader yang militan, ideologis, dan siap membesarkan bangsa sendiri,” ucapnya.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan kegiatan FGD yang dibuka oleh Gabriella Velda selaku Wakil Komisaris bidang Penelitian dan Pengembangan yang menekankan alasan pemilihan tema desa adat. “Keragaman desa adat di Sumut memiliki kekayaan akademik dan intelektual yang perlu digali secara ilmiah. Kebudayaan harus dijaga kelestariannya, dan inilah seri pertama dari diskusi panjang kami,” ujarnya.
Sejumlah narasumber menyoroti urgensi desa adat dari berbagai sudut pandang. Misalnya saja Abdul Khair, menekankan potensi desa adat dalam sektor ekonomi, lingkungan, dan pariwisata. Irfan Simatupang menambahkan, bahwa desa adat adalah benteng nilai yang diwariskan lintas generasi. Sementara itu, Silvya Rosita menyebut belum adanya regulasi khusus tentang desa adat di Sumut menjadi tantangan utama. “Tantangan utama ialah belum adanya peraturan daerah, karena dinas kebudayaan dalam melakukan kegiatannya harus memiliki dasar hukum. Harapannya pada 2026 sudah ada perda desa adat yang memberi dasar hukum kuat untuk pelestarian budaya,” jelas Silvya dalam sesi FGD.
Komisaris GMNI FISIP USU periode 2023–2025, Diga Adlinta Pinem, menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga kearifan lokal. “Ada 6.113 desa di Sumut yang memiliki potensi budaya dan kearifan lokal. Desa adat bukan hanya identitas, tetapi juga kekuatan untuk memajukan bangsa,” ungkapnya.
Selain diskusi, GMNI FISIP USU juga menggagas penyusunan buku tentang desa adat. Gabriella Velda menjelaskan bahwa buku ini akan menjadi karya akademik sekaligus sumbangsih generasi muda bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat adat. “Kami ingin buku ini menjadi patron bagi daerah-daerah di Sumut dalam menggagas desa adat,” ujarnya saat wawancara dengan Suara USU. Buku tersebut rencananya akan diterbitkan secara seri, dimulai dengan pembahasan desa adat di Sumatera Utara, lalu berlanjut pada topik-topik kebudayaan lainnya secara paralel.
Melalui kegiatan ini, GMNI FISIP USU berharap peran mahasiswa tidak hanya sebatas kritis terhadap persoalan bangsa, tetapi juga aktif memberikan solusi. Desa adat dipandang sebagai salah satu alternatif strategis untuk menjawab tantangan pembangunan, menjaga identitas bangsa, sekaligus memperkuat fondasi kebudayaan Sumatera Utara.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment