SUARA USU
Featured

Pelaruga, Surga yang Tersembunyi di Balik Dedaunan

 Reporter : Keyvin

Suara USU, Medan. Lelah setelah semester berakhir dan bingung mau liburan kemana? Ayo, jelajahi keindahan sungai di Pelaruga.  Memasuki musim liburan seperti ini memang kita perlu untuk rehat sejenak dari segala kesibukan yang ada. Kali ini kita coba bahas tentang wisata menyusuri sungai Pelaruga. 

Pelaruga terletak di kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Destinasi ini tidak terlalu jauh dari Kota Medan cukup menempuh waktu 1 jam 30 menit. Kami mulai perjalanan jam 10.30 sampai di sana sekitar jam 12.00. Perjalanan kami lalui cukup lancar tidak banyak kemacetan. Jalanan ke arah Pelaruga juga cukup mulus namun berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunannya. Tempat ini kami sambangi dengan motor pribadi.

Sesampainya di Pelaruga kami menyewa pemandu dengan biaya Rp50.000 per orang dan mendapat baju pelampung sebagai standar keamanan. Motor dan barang kami titipkan di tempat pemandu wisata. Perjalanan dari lokasi parkir ke sungai cukup jauh yaitu sekitar 500 m. Jalanan menuju sungai merupakan jalan setapak yang dapat kami tempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit. Jalan ini cukup licin disarankan untuk berhati-hati dalam berpijak. 

Sesampainya di sungai kami berhenti untuk bermain air sekitar 1 jam. Arus sungainya tidak terlalu deras namun ada tempat yang cukup dalam. Setelah itu, kami dipandu menyusuri sungai. Biarkan pemandu wisata berada di depan karena mereka sudah paham situasi dan kondisi sungai itu.

Sungai Pelaruga sangat bersih dengan airnya sebening kaca. Jauh dari hiruk pikuk kota yang bising. Kami disuguhi tebing-tebing batu yang indah di sepanjang sungai. Kami dapat menghilangkan beban dari pikiran sejenak disini. Kebetulan kami kehabisan air minum dibawah dan terpaksa meminum air dari mata air yang ada di sekitar sungai, cukup segar rasanya namun ini tidak direkomendasikan ya. 

Setelah itu kami memasak mie instan yang kami bawa ke sana. Menikmati makanan di alam bebas memang mempunyai sensasi berbeda dengan di kafe. Kami kembali ke lokasi parkir dari bawah sekitar jam 17.00. Setelah itu kami berganti pakaian dan mandi di tempat yang disediakan. Saat sore memang jalanan sepi, namun kami tidak takut karena bersama-sama. Kami sampai medan sekitar jam 20.00 dengan perasaan yang bahagia walaupun lelah.

Jika ingin pergi ke sana disarankan untuk membawa tas, kantong plastik, pakaian ganti, dan makanan. Hal itu dikarenakan tidak ada warung makan yang dekat dengan objek wisata. Namun jika tidak ingin ribet maka dapat membeli minuman dan mie instan di sana. Selain itu pastikan membawa alas kaki yang tidak licin. 

Destinasi yang sangat menarik untuk dikunjungi apalagi bagi mereka yang bosan dengan kehidupan di kota. Cukup banyak orang yang berkunjung saat akhir pekan. Sebaiknya kita ke sana saat tidak hujan demi keamanan. Terakhir jangan lupa untuk menjaga keindahannya dengan membawa pulang sampah.

 

Redaktur : Fitri Dian Jannah


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Konsep Kehidupan Kelaziman Baru (New Normal) dalam Perspektif Etika dan Filsafat Berkomunikasi

redaksi

Hutan sebagai Mitigasi Bencana

redaksi

Hari Gizi Nasional 2024 yang ke-64 : “MP-ASI Berkualitas untuk Generasi Emas”

redaksi