Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Bagi seorang penerbang, kehilangan kemampuan untuk menerbangkan pesawat mungkin meruntuhkan segala impian. Namun, bagi Sigit Hani Hadiyanto, hal tersebut justru menjadi lembaran awal dari perjalanan baru. Luka dari kecelakaan pesawat yang hampir memutarbalikkan seluruh kehidupannya tak menghalangi Sigit untuk tetap bekerja di dunia penerbangan.
Kapten Sigit Hani Hadiyanto lahir pada 5 Agustus 1947 di Cimahi, Jawa Barat. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Sebelumnya, Sigit meniti karier sebagai penerbang setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah penerbangan Curug. Usai memperoleh izin terbang, ia melanjutkan pendidikan menjadi instruktur terbang selama enam bulan. Namun, kariernya sebagai penerbang muda terpaksa terhenti akibat kecelakaan pesawat yang terjadi pada 28 Januari 1997.
Kecelakaan itu terjadi saat Sigit bertugas sebagai instruktur penerbangan dan terbang bersama seorang siswa, Dwi Kwismawan, menggunakan pesawat TB-10 Tobago. Pesawat tersebut jatuh setelah terbang terlalu dekat dengan kawasan pegunungan dan menghantam medan di sekitar Gunung Gede. Sigit menyebut kecelakaan itu sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT) yaitu kondisi dimana ketika pesawat masih dalam kendali dan tidak mengalami kerusakan teknis, namun tanpa disengaja menabrak permukaan bumi atau medan di depannya.
Kecelakaan tersebut menyebabkan pesawat terbakar ketika Sigit dan Dwi masih berada di dalamnya. Sigit yang sempat kehilangan kesadaran langsung mencari keberadaan Dwi yang duduk di sebelah kirinya begitu siuman. Ia sempat mengira Dwi masih terjebak di dalam pesawat, hingga akhirnya mendengar jawaban Dwi yang ternyata sudah berhasil keluar. Meski keduanya selamat, dampaknya tetap memilukan, keduanya mengalami luka bakar serius. Sigit sendiri mengalami luka bakar sekitar 27 persen pada wajah, leher, serta kedua lengannya, sehingga harus menjalani perawatan panjang selama sekitar 15 bulan dan setidaknya 21 kali operasi.
Dilansir dari Tirto.id dalam sebuah wawancara di TransTV pada 9 Juli 2019, Sigit menyebutkan bahwa kondisinya pada masa awal perawatan jauh lebih parah dibandingkan sekarang. Kelopak mata kanannya hilang dan terdapat perubahan pada bibir serta mulut akibat jaringan kulit yang tertarik. Selain perubahan fisik, Sigit juga menghadapi sejumlah persoalan psikologis. Selama masa perawatan, ia sempat bertanya-tanya mengapa dirinya yang harus mengalami kecelakaan tersebut. Perasaan itu kembali muncul saat ia menjalani rawat jalan dan kembali bersosialisasi dengan masyarakat, ia bahkan pernah berdiri cukup lama di depan pintu rumah sebelum kembali bekerja karena khawatir dengan reaksi orang-orang terhadap wajahnya yang berubah, termasuk saat seorang anak kecil merasa takut melihat kondisi wajahnya.
Kecelakaan itu juga memaksa Sigit mengakhiri karier sebagai penerbang aktif, karena ia tak lagi memperoleh izin kesehatan untuk menerbangkan pesawat setelah mengalami luka bakar berat. Meski demikian, hal itu tak membuatnya melepas keinginan untuk tetap berkontribusi di dunia penerbangan. Pada 2001, ia tercatat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, khususnya di bidang sertifikasi dan kelaikan udara. Sigit turut berperan dalam pendidikan penerbangan dan mengajar calon penerbang. Kariernya terus melonjak dari posisi teknis dan pengawasan hingga menduduki sejumlah jabatan strategis di Kemenhub. Berdasarkan profil resmi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Sigit pernah menjabat sebagai Direktur Navigasi Penerbangan pada September 2021– Mei 2024, kemudian Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Mei – Agustus 2024, sebelum dipercaya sebagai Direktur Keamanan Penerbangan sejak Agustus 2024.
Dengan dukungan keluarga dan teman, serta keyakinannya kepada Tuhan, Sigit perlahan mampu menerima keadaannya dan tak lagi mempertanyakan mengapa musibah itu terjadi padanya. Ia mulai memandang kecelakaan tersebut bukan sebagai akhir dari kehidupannya, melainkan ujian yang justru memungkinkannya terus menjalani kehidupan dan berkontribusi di bidang yang telah lama ia tekuni.
Perjalanan Sigit menjadi bukti bahwa cobaan dalam hidup tak selamanya menjadi titik akhir sebuah mimpi. Dari pengalamannya sebagai penerbang hingga perannya kini sebagai Direktur Keamanan Penerbangan, Sigit terus menemukan ruang untuk berkontribusi. Kisahnya menunjukkan bahwa jatuh bukan berarti kehilangan kesempatan untuk melangkah kembali, melainkan soal keberanian menemukan ruang baru dan mewarnainya dengan makna.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment