Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Pendidikan merupakan fondasi paling penting untuk membangun kesejahteraan kehidupan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Tak hanya itu, pendidikan kerap dipandang sebagai salah satu jalan untuk memperbaiki kehidupan dan memperoleh peluang yang lebih luas. Namun, pada awal abad ke-20, kesempatan mengenyam pendidikan belum dapat dirasakan oleh semua perempuan. Pada masa itu, pendidikan seolah menjadi sesuatu yang tak terjamah oleh kaum perempuan karena aturan adat dan kebijakan kolonial yang meminggirkan perempuan ke ruang domestik. Hanya segelintir perempuan dari kalangan priyayi (bangsawan) yang dapat membaca atau menulis secara autodidak di rumah.
Keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan mulai dilawan oleh para pelopor emansipasi yang memperjuangkan hak belajar bagi kaum perempuan, salah satunya Raden Siti Jenab. Nyi Raden Siti Djenab Djatradidjaja, atau yang dikenal dengan Raden Siti Jenab, merupakan seorang pelopor pendidikan yang lahir pada 1890 di Cianjur, Jawa Barat. Ia tumbuh di tengah keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan. Ayahnya, Raden Martadilaga, merupakan putra Raden Dipamanggala, patih Purwakarta, sementara ibunya, Nyi Raden Siti Mariah, memiliki kekerabatan dengan priyayi Brebes, Jawa Tengah.
Raden Siti Jenab menempuh pendidikan di Sekolah Raden Dewi Sartika atau Sakola Istri di Bandung. Selama belajar di sana, ia mendapat bimbingan langsung dari Dewi Sartika selaku pendiri sekolah tersebut. Usai menyelesaikan pendidikannya, Raden Siti Jenab kembali ke kota kelahirannya, Cianjur. Ironisnya, ia menemui kondisi perempuan yang tak memiliki kesempatan sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan. Pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan Pemerintah Hindia Belanda hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki dan keluarga pribumi elite, dengan tujuan membentuk tenaga terdidik bergaji murah. Perempuan yang baru lulus sekolah dasar pun tak dapat bergerak bebas dan hanya disibukkan dengan urusan domestik. Menyaksikan ketimpangan tersebut, lahirlah kesadaran dan tekad dalam diri Raden Siti Jenab untuk meningkatkan status kaum perempuan melalui jalur pendidikan.
Niat Raden Siti Jenab diwujudkan lewat pengenalan sistem pendidikan bagi perempuan secara berkeliling. Ia mendatangi satu per satu rumah (door to door), antarkampung, dan antardesa di Kota Cianjur. Selain itu, Raden Siti Jenab juga menggunakan hak istimewanya sebagai keturunan darah ningrat untuk membantu kaum perempuan mendapatkan akses pendidikan gratis. Berbekal ilmu yang diperolehnya dari Sakola Istri, ia mengajarkan bahasa Sunda, bahasa Melayu, bahasa Belanda, berhitung, hingga pendidikan budi pekerti. Ia juga mengajarkan keterampilan praktis yang bisa diterapkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membatik dan merenda.Usaha Raden Siti Jenab memberikan pendidikan secara door to door sampai ke telinga Juragan Cicih. Sebagai sosok yang merekomendasikan Sakola Istri kepada Raden Siti Jenab, ia mendukung penuh niat tersebut dengan mewakafkan sebidang tanah warisan ayahnya, RAA Prawiradireja II, untuk dibangun sebuah sekolah. Berdirilah bangunan sekolah yang diberi nama Sekolah Jenab atau Meisjes Vervolgschool. Angkatan pertama di sekolah tersebut berjumlah 27 murid, terdiri dari anak perempuan yang telah tamat sekolah dasar tiga tahun dan langsung masuk kelas IV. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Jenab, mayoritas dari mereka melanjutkan ke Van Deventer School di Bandung.
Keinginan kuat Raden Siti Jenab memajukan kaum perempuan lewat pendidikan membuahkan hasil, hingga sekolah yang ia kembangkan menjadi salah satu sekolah ternama di Tatar Parahyangan. Keberadaan Sekolah Jenab terus berlanjut hingga masa penjajahan Jepang di Indonesia, ketika sekolah ini sempat berganti nama menjadi Sekolah Rakyat Gadis. Usai proklamasi kemerdekaan, namanya berganti lagi menjadi Sekolah Rakyat. Hingga kini, sekolah tersebut telah berkembang menjadi sekolah negeri di Cianjur bernama Sekolah Dasar Ibu Jenab. Bahkan, terdapat empat sekolah yang menggunakan nama Ibu Jenab, yaitu SD Negeri Ibu Jenab Satu, Dua, Tiga, dan Empat.
Meski begitu, perjuangan awal Raden Siti Jenab mendirikan sekolah tak lepas dari tantangan. Ia sempat mendapat cemoohan dari kalangan ningrat di sekitarnya karena statusnya yang tinggi namun tak segan merangkul kaum perempuan tidak mampu di wilayah Kabupaten Cianjur. Meski begitu, ia tak menanggapi cemoohan tersebut dengan serius. Sebagai guru sekaligus pimpinan di Sekolah Dasar Ibu Jenab, ia meyakini bahwa hal itu hanyalah rintangan yang harus ditaklukkan dalam usahanya menyejahterakan kehidupan kaum perempuan melalui pendidikan.
Apa yang diperjuangkan Raden Siti Jenab lebih dari seabad lalu mungkin tampak sebagai persoalan masa lampau. Namun, tanpa disadari, perjuangannya itu menjadi bagian dari sejarah panjang pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia. Hari ini, akses perempuan untuk menempuh pendidikan sudah jauh lebih berkembang, dan hal ini bukanlah sesuatu yang tercipta dalam semalam. Di baliknya, terdapat perjuangan panjang dari orang-orang seperti Raden Siti Jenab yang membangun dasar bagi perempuan untuk memperoleh haknya atas pendidikan.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment