Home Cerpen Putaran 24 Jam
CerpenSastra

Putaran 24 Jam

Share
Sumber: Pexels

Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Yogyakarta, 02 Mei 2025

“Aku menulis ini agar aku tidak lupa.”
“Kamu mudah lupa, Na?”
“Aku lebih ingin mengabadikannya.”

*****

Aku Nala. Nama ini disusun dengan penuh harapan oleh Ibu dan Ayah.
Kata Ibu, “Kelak hidupmu seindah namamu, Nduk.”

Tapi, indah itu apa, Bu?
Beberapa waktu lalu aku melewati hari-hari sulit. Dan bagiku, itu bukanlah keindahan.
Apakah sesuatu yang dulu indah kini telah berubah menjadi hal yang menakutkan?

*****

Yogyakarta, 22 Mei 2025

Ada yang hilang dari diriku. Aku tak lagi mengenal siapa aku sebenarnya. Kalau kalian berpikir ini terjadi tiba-tiba, kalian keliru. Semuanya berawal dari kehilangan. Aku kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi – Kakak. Kenapa harus Kakak? Kenapa bukan aku? Jika aku tahu bahwa Kakak yang akan pergi, aku rela menukar nyawaku untuknya.

Sudah seminggu sejak kepergian Kakak. Aku sering melamun, sulit tidur, kehilangan selera makan, dan tak punya semangat belajar. Ibu dan Ayah berulang kali mencoba menenangkanku, tapi aku tetap memilih mengunci diri di kamar.

Sampai suatu hari, aku merasa terlalu egois. Aku ingin menenangkan pikiran, tapi tak tahu harus bagaimana. Notifikasi pesan masuk bertubi-tubi. Beberapa teman khawatir, mengirim pesan, menelepon berkali-kali. Tapi mataku berhenti pada satu pesan dari Kela, mengajakku ke rumah singgah.

Setelah berpikir sebentar, aku memutuskan untuk ikut. Tak lama kemudian, telepon dari Kela masuk.

“Oke, kamu siap-siap ya. Sebentar lagi aku ke sana. Kita berangkat bareng aja. See you.”

Entah kenapa harus ke rumah singgah, aku tak bertanya. Yang kupikirkan hanya satu: mungkin di sana pikiranku bisa sedikit tenang.

*****

“Na, kita beli sembako dan beberapa cemilan dulu, ya,” ajak Kela.
“Oh, iya, Ke,” jawabku singkat.

Di depan mini market, aku melihat seorang anak kecil duduk di samping pintu. Ia tampak kelelahan, dengan sebungkus kerupuk di pangkuannya. Rupanya ia berjualan, tapi tertidur di tengah teriknya siang. Awalnya aku ingin menunggu di mobil, tapi langkahku terhenti. Aku mendekatinya.

“Halo, kerupuknya berapa?” tanyaku pelan.

Anak itu terbangun. Ia tersenyum, senyum yang terlalu tulus untuk wajah sekecil itu. Dengan sopan ia menjawab pertanyaanku. Aku terenyuh. Bagaimana mungkin di tengah lelah dan panas, ia masih bisa bersemangat?

Sekitar dua puluh menit kami berbincang. Namanya Nadin. Ia seharusnya duduk di bangku kelas delapan, tapi terpaksa berhenti sekolah. Ia yatim piatu, hidup bersama kakaknya yang berkebutuhan khusus.

Setiap hari Nadin merawat kakaknya: memandikan, memberi makan, mengganti pakaian. Siang ia berjualan kerupuk, malam hari mengamen dari satu warung makan ke warung lain.

Satu kalimatnya tertanam kuat di kepalaku:

“Kak, Nadin rasa waktu akan terus berjalan, tanpa peduli Nadin lapar atau tidak.”

Aku menahan air mata. Mendengar ceritanya saja aku sudah sesak, apalagi menjalaninya.

Mobil melaju. Kela bilang perjalanan akan memakan waktu tiga jam. Aku menatap keluar jendela, memandangi hamparan sawah, pepohonan, dan langit sore yang perlahan berubah jingga. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seindah ini.

*****

Kami tiba di sebuah bangunan tua yang rapi dan teduh. Pihak rumah singgah menyambut kami dengan hangat. Baru saat itu aku mengerti alasan Kela mengajakku ke sini.

Aku bukan orang yang mudah bersosialisasi, jadi aku memilih duduk bersama seorang bapak-bapak di sudut belakang. Namanya Pak Boni, usianya sekitar lima puluh lima tahun. Beliau bercerita panjang lebar. Ada kehangatan dalam suaranya, meski wajahnya menyimpan lelah. Sudah sepuluh tahun ia terpisah dari keluarga karena perceraian. Setelah itu, ia sempat dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi berat.

“Anak-anak saya tinggal di Eropa bersama ibunya,” katanya sambil tersenyum. Tapi senyum itu rapuh. Aku tahu, jauh di lubuk hatinya, beliau tidak pernah siap untuk sendirian.

Dari pengurus rumah singgah, aku tahu bahwa Pak Boni dulunya seorang doktor lulusan Amerika. Mendengar itu, dadaku terasa sesak.

Aku sadar — setiap orang punya kehilangan.
Entah besar atau kecil, ringan atau berat, setiap kehilangan meninggalkan ruang kosong yang tak bisa diisi siapa pun.

Air mataku menetes lagi.
Aku malu, karena terlalu larut dalam duniaku sendiri.

Kami pamit pulang.
Sepanjang perjalanan, aku terdiam. Kela memutar lagu Nala milik Tulus.

Aku tahu lagu itu, tapi belum pernah mendengarkannya utuh.
Baru saja aku ingin fokus, Kela berkata pelan:

“Seminggu ini aku merasa kehilangan kamu, Na. Aku tahu yang kamu hadapi berat. Jadi aku denger lagu ini biar rasanya kamu masih di sini, kayak dulu. Kamu kuat ya, Na.”

Aku tak kuasa menahan tangis.
Kupeluk Kela erat.

“Makasih, Ke… makasih.”

Aku sadar, aku bukan satu-satunya yang kehilangan. Ibu dan Ayah lebih terluka. Mereka kehilangan anak, separuh nyawa mereka. Teman-temanku pun ikut khawatir. Aku terlalu sibuk mengasihani diri sendiri hingga lupa bahwa luka ini tak hanya milikku.

Kini aku mengerti ucapan Ibu:

“Kelak hidupmu seindah namamu, Nduk.”

Mungkin, indah bukan berarti tanpa luka. Keindahan justru tumbuh dari keberanian untuk tetap hidup, meski pernah hancur.

“…Hari besar baginya bila
Melihat benih cinta
Bagi Nala, itu langka.”
— Nala, Tulus

*****

Yogyakarta, 02 Mei 2025

“Sudah selesai?” tanya Kela sambil tersenyum hangat. Aku mengangguk.

“Bener ya, Na. Mau seberat apa pun, waktu terus berjalan. Life goes on. Terima kasih karena udah kuat, Na.”

Aku tersenyum. Waktu yang berputar telah menjawab sebagian yang hilang dari diriku.

Redaktur: Jesika Yusnita Laoly

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.