SUARA USU
Featured Kabar SUMUT

Realita Dibalik MBKM, Benar Merdeka?

Oleh: Suranti Pratiwi dan Azka Zere

Suara USU, Medan. Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi program yang tengah gencar disosialisasikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, dengan harapan melalui program ini mahasiswa bisa menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja.

Sudah berjalan sekitar setahun, program inisiasi Nadiem Makarim ini pada implementasinya menemui berbagai problematika. Dipersulit regulasi, apakah program ini efektif dan layak diikuti? Kampus merdeka, benarkah merdeka?

Kepada Suara USU, HD yang merupakan mahasiswi FISIP mengungkapkan berbagai kesulitannya selama mengikuti program Magang Bersertifikat di salah satu perusahaan BUMN. Tak sejalannya realita, menuai ragam problematika yang mengiringi dua bulan masa magang HD. Mulai dari job desc, fasilitas, gaji, hingga konversi SKS.

“Kalo magang yang aku ikutin gak sesuai sih sebenernya dan dari awal juga sebenarnya untuk job desc-nya gak jelas gitu, gak ditentuin kerjanya ngapain. Setelah 2 bulan magang baru dikasih tau job desc tetapnya dan disuruh milih,” ungkap HD saat diwawancarai Suara USU, pada Sabtu (20/11).

Para peserta magang memang ditawarkan fasilitas menggiurkan seperti uang saku, konversi SKS, dan sebagainya. Namun, pada realitanya hal tersebut tidak terpenuhi dengan baik. HD sendiri juga harus menyesuaikan program magang yang diambilnya dengan latar belakang program studinya untuk bisa mendapat konversi SKS.

“Iya, tapi gak semua fasilitas yang dibuat di flyer yang terjadi di lapangan. Jadi, jatuhnya kaya branding aja tapi yang terjadi gak kaya gitu. Kalo konversi SKS itu tergantung sama prodinya juga dan tergantung sama matkul yang disesuaikan. Kalo gak sesuai dan gak ada yang nyambung ya gak dapet konversi SKS. Gak tau ya kalo mempersulit (konversi SKS), karena kalo dari jurusanku sendiri juga gak dapet konversi yang sesuai. Jadi, emang dari awal udah sulit aja,” lanjut HD.

Terkait gaji, HD mengungkapkan bahwa ia tidak menerima gaji pada bulan pertama bekerja karena masih dilanda kebingungan besar terhadap mekanisme kerja yang harus dijalani. Hingga pada bulan kedua, gaji yang dijanjikan mitra dibayarkan tepat waktu. Meski cukup bingung terkait perhitungan besaran upah, tetapi HD tidak ingin ambil pusing dengan hal tersebut.

Terlepas dari semua problematika dalam masa magangnya, HD mengaku senang bisa bertemu dengan teman baru yang tentu juga memperluas relasi. Ia juga merasa diterima baik oleh karyawan tetap di tempat ia magang, terlebih segala bentuk diskriminasi tidak pernah dirasakannya.

Dalam kesempatan ini, HD turut menyampaikan pandangannya terhadap kelayakan program ini untuk diikuti insan kampus lainnya. HD juga menyematkan saran sebagai evaluasi kepada inisiator, mitra maupun kampus sehingga mahasiswa mendapatkan hak konkret dari program yang berkonsep pada kemerdekaan belajar ini.

Kalo berharap konversi SKS, mending ikutin aja, tapi kalo jurusannya nyambung sama pekerjaannya. Kalo dari perusahaan juga udah jelas gak nyambung sama jurusan kita, ya gak usah diikutin karena useless jadinya. Untuk saran, mending dimatangin dulu aja programnya, biar ntar yang ikutan juga gak bingung harus gimana dalam pekerjaannya. Komunikasi antara perusahaan dan kampus juga harus dikomunikasiin lebih baik lagi sih biar gak miskom. Jadi, yang ikutan juga gak sia-sia gitu,” tutur HD.

Di sisi lain, Nafissa Maharani Pulungan, salah satu peserta yang mengikuti program Kampus Mengajar mengaku memilih program ini karena tertarik dengan benefit yang ditawarkan. Ia pribadi juga ingin menambah pengalaman dengan membantu mereka yang masih kurang fasilitas pendidikannya.

“Nah iya, pertama aku emang pengen coba apply ke program-program kampus merdeka karena kan benefit-nya yang dijanjikan itu bisa dibilang lumayanlah untuk mahasiswi semester 5, yaitu konversi SKS, uang saku, dan juga pengalaman. Terus kalo untuk ngajar sendiri, aku tertarik karena emang dari dulu pengen coba pengabdian dan bantu anak-anak yang fasilitas pendidikannya kurang memadai,” ungkap Nafissa.

Saat berkunjung ke USU, Nadiem mengatakan, mahasiswa dari program studi apapun wajib diberikan 20 SKS karena MBKM memang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman di luar prodi.

“20 SKS harus harga mati, mata kuliah yang dikonversi tidak harus berkaitan dengan disiplin ilmu prodi,” ucap Nadiem di pelataran Auditorium USU, pada Selasa (26/10).

Berbeda dengan yang dinyatakan Mendikbudristek itu, Nafissa mengaku tidak mendapat kepastian dari prodi terkait konversi 20 SKS karena tidak adanya mata kuliah yang berkaitan untuk bisa dikonversi.

“Jadi kalo Kampus Mengajar itu, kami gak dapat kepastian konversi 20 SKS dari prodi, yang diberi konversi hanya magang dan pertukaran pelajar. Kalo gak salah katanya, gak ada mata kuliah yang relevan untuk dikonversi ke kampus mengajar. Sampai sekarang pun masih gak ada kepastian. Kemarin setelah UTS juga wacana mau ngomongin konversi SKS kampus mengajar, tapi sampai sekarang tidak ada. Jadi, mau gak mau harus tetap kuliah seperti biasa,” terang Nafissa.

Tidak adanya kejelasan terkait konversi SKS, memaksa mahasiswi Ilmu Komunikasi itu untuk dapat membagi waktunya antara mengajar dan kuliah. Namun, ia tidak merasa terlalu berat karena sebelumnya telah membagi jadwal mengajar dengan peserta lain.

“Kuliah semester ini mulai jam 10.00 semua tiap hari Senin-Jumat. Kalo ngajar itu Alhamdulillah offline, tapi cuma 2 jam, dari jam 08.00-10.00. Lalu, sekolah ke rumahku jaraknya cuma 1 km. Jadi, kurang dari jam 10.00 aku udah siapin atau pulangin siswa. Terus pulang ke rumah jam 10.00 dan langsung join Zoom. Aku juga ngajar berdua di kelas sama anak kampus mengajar lain. Jadi, kami bagi 3 hari. Nah, aku itu Selasa, Rabu, dan Jumat, terus dia sisanya. Jadi, gak terlalu hectic tiap hari ngajar gitu,” tutur Nafissa.

Peserta Kampus Mengajar Angkatan 2 (KM 2) ini juga mengatakan, sejak awal uang saku yang diberikan sudah mengalami keterlambatan. Selain itu, Nafissa mengaku tidak tau pasti apakah potongan UKT yang diberikan juga akan mengalami keterlambatan seperti yang dialami peserta Kampus Mengajar Angkatan 1 (KM 1).

“Kalau uang saku selalu terlambat sih, tapi jumlahnya sesuai kok. Sebulan setelah yang dijanjikan itu baru turun. Kayak uang saku Agustus itu baru turun pas Oktober awal atau tengah-tengah, padahal harusnya kan September. Untuk potongan UKT itu nanti bakal dipotong pas semester selanjutnya ini, pas udah siap penugasan. Kalo untuk sekarang belum dapet,” jelas Nafissa.

Mahasiswi stambuk 2019 ini mengaku mendapat banyak pengalaman dari program ini, sekaligus belajar cara berkomunikasi dengan anak-anak yang berbeda kepribadiannya. Nafissa sendiri juga menjadi paham bagaimana sulitnya menjadi seorang guru karena harus merancang rencana pembelajaran, membuat laporan setiap hari, serta mengawasi siswa-siswa yang bermasalah.

Di akhir wawancara, Nafissa berharap program Kampus Mengajar Angkatan 3 (KM 3) yang akan dibuka dalam 4 hari ini bisa lebih baik lagi, terutama terkait kejelasan konversi SKS dan uang saku. Ia juga berharap para peserta selanjutnya bisa sungguh-sungguh selama menjalani program ini.

“Untuk program KM 3, aku harap kedepannya bisa lebih baik lagi programnya terutama untuk panitia pelaksana, mengenai kejelasan SKS dan juga keterlambatan uang saku. Untuk peserta KM 3, aku harap kalian bisa betul-betul mengabdi dan jangan gampang ngeluh karena sifat tiap anak itu beda-beda. Terus juga atur waktu baik-baik. Semangat terus meningkatkan literasi dan numerasi ke siswa-siswa di sekolah yang pendidikannya kurang memadai demi meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia!” pungkasnya.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

BEM SI Kecolongan, Mantan Presiden Mahasiswa USU Mencalonkan Diri Sebagai Korpus BEM SI

redaksi

PEMA USU Terima Audiensi Korban Investasi Bodong Subur Corp

redaksi

Paris Van Sumatera, Memorial dari Kota Medan

redaksi