Home Entertaiment Ruang Nostalgia di Tengah Kota, Inilah Galeri Antik Medan
EntertaimentTempat

Ruang Nostalgia di Tengah Kota, Inilah Galeri Antik Medan

Share
Sumber: Dokumentasi Suara USU

Oleh: Ghefira Mannawa

Suara USU, Medan. Di tengah menjamurnya tempat-tempat bergaya modern dan estetis di Kota Medan, hadir sebuah ruang yang menawarkan suasana berbeda dengan memadukan unsur vintage, seni, dan kreativitas. Aroma buku-buku lama, alunan musik dari piringan hitam dan kaset pita, serta secangkir kopi atau teh yang mengepul di antara obrolan hangat menghadirkan sensasi nostalgia yang menenangkan. Tempat ini seolah mengundang kenangan masa lampau untuk hidup kembali di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Tempat itu bernama Galeri Antik Medan, yang baru berdiri sekitar satu bulan lalu. Galeri ini didirikan oleh Lusia Damanik, seorang perempuan muda alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU).

Perjalanan berdirinya Galeri Antik Medan bermula setelah Lusia menyelesaikan studinya di tahun 2018. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Jakarta sejak 2019 selama lima tahun, serta sempat mengikuti program magang internasional di Bangkok selama satu tahun. Pada 2025, di tengah rutinitas barunya, ia merasa perlu menciptakan sesuatu yang bermakna untuk mengisi kesehariannya.

Inspirasi membangun galeri ini datang dari kekasihnya yang bergelut di bidang literasi dan memiliki koleksi hampir sepuluh ribu buku serta sekitar tiga puluh ribu kaset pita. Koleksi tersebut menjadi pemicu utama bagi Lusia untuk menghadirkan ruang yang menghidupkan kembali barang-barang antik dengan sentuhan estetik. Filosofi pendirian Galeri Antik Medan didasari oleh kesamaan minat terhadap literasi, serta keinginan Lusia untuk mewujudkan tempat yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bernilai historis dan edukatif.

Galeri ini memiliki berbagai area menarik, seperti record store, toko buku, coffee corner, cerutu, barang antik, serta ruang acara komunitas dan kreativitas (community event dan creative space). Awalnya, Lusia hanya berencana membuka toko kaset. Namun, setelah banyak berdiskusi, ia memutuskan untuk menggabungkan semua elemen tersebut menjadi satu konsep yang lebih inklusif. Lusia menjelaskan bahwa langkah ini diambil agar peluang bisnisnya lebih terbuka luas.

Menurutnya, “Tidak banyak orang yang tertarik pada kaset atau barang antik. Itu bukan kebutuhan pokok, jadi pertumbuhannya bisa lambat. Karena itu, aku kombinasikan dengan buku dan kopi,” jelasnya.

Kini, pengunjung bisa membaca buku di tempat, menyewa, atau membeli koleksi yang tersedia. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati kopi, melihat barang antik, dan menjelajahi toko kaset yang menyediakan berbagai genre musik mulai dari rock, lagu-lagu lawas era 1920–1930-an, Batak, rohani, hip hop, hingga pop.

Lusia mengaku memiliki passion terhadap seluruh bidang yang digabungkan di galeri ini. Tak heran jika setiap sudutnya terasa autentik dan personal.

Bagian yang tak kalah menarik adalah area community event dan creative space. Konsep ini berawal dari pengalaman magang internasional Lusia, di mana ia diwajibkan membuat country project. Dari situ lahirlah komunitas POV (Power Voice) yang bergerak di bidang lingkungan dan kesehatan mental. Ia kemudian mengembangkan ide tersebut di Galeri Antik Medan dengan menyediakan ruang untuk komunitas dan seniman lokal.

Berbagai kegiatan bisa diselenggarakan di sini secara terbuka dan fleksibel mulai dari diskusi, edukasi, pameran, pertunjukan musik, hingga kegiatan sosial. Tujuannya sederhana menciptakan wadah yang bisa menampung kreativitas lintas generasi. “Aku ingin tempat ini hidup. Bukan hanya untuk nongkrong, tapi juga untuk berproses dan berbagi,” ujar Lusia.

Galeri ini banyak dikunjungi oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Medan, serta beberapa pelajar SMA. Mereka datang dengan beragam tujuan ada yang ingin membaca buku, mencari kaset, membeli barang antik, atau sekadar bersantai sambil menikmati kopi. Tak sedikit pula yang datang untuk membuat konten atau berfoto di setiap sudut galeri yang estetik.

“Kalau dilihat dari pengunjung, yang paling banyak datang itu untuk foto-foto. Setelah itu baru yang datang karena buku, dan terakhir karena kaset,” ungkap Lusia sambil tersenyum.

Ke depan, Lusia berharap Galeri Antik Medan dapat berkembang menjadi ruang publik kreatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi. Ia ingin menjadikan tempat ini sarana untuk menyampaikan informasi dan mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan sejarah. “Semua benda di galeri ini punya kisahnya masing-masing. Saat pengunjung datang, aku ingin mereka merasa seperti berjalan ke masa lalu dan mengenang memori yang indah,” tuturnya.

Melalui Galeri Antik Medan, Lusia juga ingin menegaskan pesan penting bagi generasi muda bahwa nongkrong bisa produktif. “Aku ingin anak muda tahu, nongkrong itu bukan buang waktu. Kalau kamu datang ke sini, kamu bisa dapat inspirasi, wawasan, dan pengalaman baru,” pungkasnya.

Redaktur: Zahra Zaina Rusty 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.