
Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Mohammad Hatta sering kali hanya dikenal sebagai wakil presiden pertama Indonesia atau Bapak Koperasi Indonesia. Padahal, sosoknya jauh lebih kompleks dan kaya makna daripada sekadar gelar kenegaraan. Buku Seri Tempo: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman memperkenalkan pembaca pada sisi lain Hatta seorang intelektual, penulis, ayah, sekaligus manusia yang hidup dalam kesederhanaan dan prinsip.
Disusun oleh Tim Majalah Tempo dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 30 September 2013, buku setebal 196 halaman ini merangkum perjalanan hidup Hatta dari masa muda hingga akhir hayatnya. Tempo menulisnya dengan gaya naratif khas jurnalisme sejarah padat, reflektif, dan dekat dengan pembaca muda. Buku ini bukan sekadar biografi, tetapi juga dokumentasi pemikiran dan nilai-nilai hidup seorang tokoh bangsa yang sering kali luput dari sorotan publik.
Dalam salah satu kutipan yang dimuat, Hatta pernah berkata, “Demokrasi bisa diwujudkan kalau ada rasa tanggung jawab dan toleransi di antara pemimpin kalangan politik. Ketika perkembangan politik berakhir dengan kekacauan, demokrasi berakhir dengan anarki, maka akan membuka jalan untuk musuh: diktator.” Kalimat itu mencerminkan ketajaman pikirannya tentang kekuasaan dan tanggung jawab moral sebuah refleksi yang masih relevan dengan situasi politik Indonesia hari ini.
Berbeda dengan Sukarno yang karismatik dan gemar tampil di depan publik, Hatta memilih jalan sunyi. Ia bukan pencari popularitas, melainkan pemimpin berintegritas tinggi yang teguh pada prinsip. Ketika arah pemerintahan Sukarno mulai menyimpang dari semangat demokrasi, Hatta mengambil langkah berani: mundur dari jabatan wakil presiden. Bagi Hatta, keputusan itu bukan bentuk perlawanan, melainkan sikap moral terhadap nilai-nilai yang ia yakini.
Selain dikenal sebagai pemimpin politik, Hatta adalah sosok intelektual sejati. Ia percaya bahwa kemerdekaan sejati tidak akan pernah terwujud tanpa pendidikan dan kesadaran berpikir. Selama menempuh studi di Belanda, ia aktif di Indische Vereeniging organisasi mahasiswa Hindia Belanda yang kemudian bertransformasi menjadi wadah perjuangan politik. Di sanalah, Hatta menanamkan gagasan bahwa Indonesia harus merdeka sepenuhnya, bukan sekadar diberi otonomi oleh penjajah.
Baginya, pena adalah senjata. Buku dan perpustakaan menjadi ruang pertempuran ide. Melalui tulisan-tulisan di majalah Indonesia Merdeka, Hatta menyerang kolonialisme dengan argumen tajam dan logika yang terstruktur. Ia tidak menggunakan kekerasan, tetapi kekuatan berpikir dan menulis suatu bentuk perjuangan intelektual yang jarang dihargai pada zamannya.
Buku ini juga menampilkan sisi manusiawi Hatta sebagai ayah dan suami. Meski pernah menjabat sebagai wakil presiden, Hatta tidak pernah memaksakan kehendak kepada ketiga anaknya: Meutia Farida Hatta, Gemala R. Hatta, dan Halida Hatta. Ia memberi mereka kebebasan untuk menentukan masa depan sendiri. Di rumah, Hatta bukan sosok otoriter, melainkan figur yang lembut, penuh kasih, dan selalu mendidik dengan keteladanan.
Kecintaan Hatta terhadap buku adalah hal yang legendaris. Alam Pikiran Yunani, karyanya yang terkenal, bahkan ia jadikan maskawin saat menikahi Rachmi Hatta simbol bahwa baginya, pengetahuan lebih bernilai dari materi. Ketika wafat pada 1980, Hatta meninggalkan sekitar 30 ribu buku di perpustakaan pribadinya. Koleksi itu menjadi saksi bisu perjalanan intelektual seorang pemimpin yang mencintai ilmu sampai akhir hayatnya.
Hatta tidak hanya menjabat ia mengabdi. Hidupnya diwarnai dengan pilihan-pilihan moral yang sulit tetapi konsisten. Ia menolak jabatan dan fasilitas ketika merasa tidak lagi sejalan dengan nuraninya. Dalam era di mana banyak tokoh publik mengejar panggung dan citra, Hatta memberi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan kehampaan.
Seri Tempo: Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman bukan sekadar buku tentang sejarah. Ia adalah ajakan untuk mengenang kembali nilai-nilai yang membentuk bangsa ini integritas, kesederhanaan, dan cinta ilmu. Membaca Hatta berarti belajar melihat Indonesia melalui kaca mata pemikir yang jujur dan rasional. Sosoknya membuktikan bahwa menjadi pemimpin bukan soal sorotan, tetapi soal ketulusan dan keberanian untuk berpihak pada kebenaran.
Hatta yang tak banyak diceritakan bukanlah sosok yang hilang dalam sejarah, melainkan cahaya yang terus menerangi jalannya bangsa ini.
Oleh: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment